Balai Bahasa

“Harga” Bahasa

MESKIPUN sering terdengar kalau dalamnya laut bisa diukur, tapi dalamnya isi hati seseorang tidak

Oleh Muhammad Adam, Pendiri Plus Institute. Alumni IELSP Universitas Ohio, Amerika, Peserta MEP Australia, dan Wakil Kepala Sekolah SMA Ruhul Islam, Lhokseumawe

MESKIPUN sering terdengar kalau dalamnya laut bisa diukur, tapi dalamnya isi hati seseorang tidak dapat diketahui, bagi orang-orang yang mempelajari karakter, kejiwaan, bahasa non-verbal, dan sejenisnya, frase bijak di atas tampaknya keliru, karena para ahli di dalam disiplin ilmu tersebut dengan sangat mudah dapat menilai seseorang melalui bahasa.

Bahasa yang digunakan oleh seorang penutur menandakan kualitas dirinya. Penggunaan  bahasa, terutama dalam spoken language menunjukkan karakter penuturnya. Karakter dan kepribadian seseorang dapat dinilai melalui bahasa yang digunakan dalam berkomunikasi.

Kesopanan, berpendidikan, berwibawa, penyabar, punya nilai estetika, menghargai dan berkarisma, atau sebaliknya kasar, tidak sopan, ceroboh, tidak sabar dan asal bunyi juga dapat dinilai melalui bahasa. Karenanya tidak berlebihan kalau ada yang menyebutkan ‘Mulutmu adalah harimaumu’.

Dalam dunia pendidikan, kualitas seseorang pelajar atau pendidik sangat ditentukan oleh kemampuannya dalam menggunakan bahasa. Bahasa yang dikomunikasikan oleh seorang guru besar menunjukkan seberapa dalam keilmuan yang dimilikinya.

Bagi seorang pemateri dalam sebuah forum, bahasa yang dia gunakan menunjukkan kemampuannya dalam penguasaan materi. Bagi seorang penulis, kekayaan bahasa yang dimilikinya juga menentukan kualitas tulisannya. Kemampuan menggunakan keberagaman bahasa dapat menjadi nilai plus tersendiri.

Bahkan dalam tulisan-tulisan scientific pengulangan kosakata yang sama akan mengurangi nilai sebuah tulisan. Banyak orang yang menyeleneh kalau bahasanya tidak ilmiah bukan
akademisi namanya. Semakin ilmiah bahasa yang digunakan, maka semakin berilmu  akademisi tersebut.

Meskipun dalam beberapa kondisi tertentu, semakin ilmiah bukan malah semakin membantu orang lain dalam memahaminya, justru menyulitkan. Bagi politisi, bahasa juga memiliki peran  penting dalam berbagai ruang dan waktu. Sebagian besar partai politik justru menggunakan jasa “pihak ketiga” untuk membuat tag-line partai atau menyingkat nama calon, terutama pada saat mendakati masa pemilihan.

Dalam kondisilain di dunia politik, memilih orang untuk duduk di kursi yang berhubungan dengan masyarakat, “Harga” Bahasa khususnya media-dipilih dengan sangat selektif. Kemampuan mengkomunikasikan sesuatu dengan baik, khususnya ketika parpol tersebut  dalam masalah sangat ditentukan oleh peran seorang humas atau jubir. Tidak hanya itu, petinggi di suatu institusi tidak jarang menggunakan jasa “tukang lobby” untuk suatu tujuan tertentu.

Dalam konteks kehidupan sosial dan budaya, pengaruh bahasa juga tidak kecil. Dalam budaya masyarakat Aceh, pada umumnya proses perkenalan antara lelaki dan perempuan yang ingin berta’aruf atau menikah pada umumnya dijembatani oleh pihak ketiga yang sering disebut dengan istilah “seulangke”. Kemampuan ‘jubir’ yang biasa digunakan oleh pihak lelaki ini tidak hanya berpengaruh pada tahap meyakinkan calon pengantin dan keluarganya, tetapi dalam beberapa kasus juga berpengaruh terhadap jumlah mahar yang sudah menjadi hak prerogratif pihak perempuan.

Kalau tipe Teungku Seulangke yang sifatnya Peusom Gasien, Peuleumah Kaya, sudah dapat dipastikan, maharnya akan melambung. Sebaliknya, kemampuan fasilatator ini dalam melakukan bergaining akan terbuka peluang meringankan pihak lelaki atau kedua belah  pihak.

Intinya, dalam kondisi apapun, bahasa menjadi salah satu faktor kelancaran atau kegagalan suatu pekerjaan. Karenanya tidak sedikit orang mendramatisir bahasa yang digunakan dalam komunikasi untuk mengimplikasikan sisi baik dari dirinya. Uniknya bahasa, kemampuan berakting dalam menggunakan bahasa tidak akan bertahan lama.

Pada  umumnya, orang hanya mampu menyembunyikan karakteristik pribadinya dalam satu atau dua kali interaksi. Meskipun ada orang yang mampu mempertahankan ketidakaslian  dirinya melalui bahasa yang digunakan dalam jangka waktu yang lama, tetapi adakalanya dalam kondisi tertentu tetap kecepolosan dan mengeluarkan kata-kata yang sebelumnya memang sudah mendarah daging. Makanya ada orang yang mengatakan ‘ooo, ternyata kamu bisa juga menggunakan kata ‘itu’ ya’ atau ‘ kok kamu ngomongnya kasar seperti itu’ dan sejenisnya.

Ringkasnya, bahasa memiliki nilai baik secara ekonomi, sosial, budaya, politik, bahkan agama. Untuk itu menghargakan bahasa dengan mahal akan berpengaruh terhadap mahalnya harga Anda sebagai penutur di mata orang lain.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help