Cerpen

Koran Bekas Hari Lebaran

Sudah sejak sepekan yang lalu orang-orang sibuk dengan hal yang serbabaru. Baju baru, sarung baru, peci baru

Karya Doni Daroy

Sudah sejak sepekan yang lalu orang-orang sibuk dengan hal yang serbabaru. Baju baru, sarung baru, peci baru. Cat rumah pun diperbarui. Seakan  semua wajib baru. Tak terkecuali potongan rambut. Semua ingin tampil sempurna di hari Fitri nanti. Rata-rata  pusat perbelanjaan penuh dengan para pelanggannya. Bahkan yang puasanya diragukan pun tidak ingin ketinggalan meramaikan tempat yang berlabel diskon. Namun, tidak berlaku bagi Bu Umar dan keluarganya. Mereka justru memampangkan tangannya dengan goni di pinggir jalan.

Beberapa hari sebelum 1 Syawal, orang-orang sudah disibukan dengan berbelanja daging sebagai tradisi. Sapi, kambing, kerbau hingga ayam pun tak kalah ingin disebut. Pasar daging padat, pinggiran jalan penuh dengan aroma daging segar. Babat, paru, hati, usus semua diborong . Sepulangnya dari tempat tersebut, mereka terus berpikir untuk singgah kembali ke pasar malam, mencari baju yang lupa dibeli tempo hari.  Tak cuma itu. Kaum ibu-ibu juga disibukkan dengan persiapan aneka kue Lebaran.  Tak usah repot-repot membuat. Asal punya uang, tinggal pergi ke supermarket lalu pilih beragam model kue yang disukai. Di berbagai supermarket modern yang kini mulai menjamur bahkan tak perlu bawa uang cash. Tinggal gesek kartu kredit, apa pun barang tinggal bawa pulang. .

Tapi, lagi-lagi,  hiruk-pikuk persiapan Lebaran itu  tak mempengaruhi  Bu Umar dan keluarga. Reza, anak sulung Bu Umar,  justru sibuk mencari koran-koran bekas. Koran-koran inilah, yang bisa membuatnya sedikit terhibur di hari Idul Fitri itu. 

Hari yang ditunggu-tunggu umat Muslim sedunia pun tiba, hari Raya Idul Fitri. Semua umat Islam berbondong-bondong ke lapangan merdeka untuk shalat  pada hari kemenangan ini. Semua dengan penampilan baru. Wangi-wangian, peci baru, sarung baru, baju baru dengan penampilan yang istimewa.  Reza dan adik-adiknya juga ikut ke lapangan merdeka, namun tidak tampak ada yang baru dari mereka. Semua menenteng tumpukan koran. Bukan koran baru, tapi koran  bekas.

“Bu! Korannya, Bu!” teriak Reza di salah satu gerbang lapangan merdeka. “Pak, koran! Koran, Pak!” sorak Fadli, adiknya Reza di gerbang lain lagi.  “Koran, koran!” lolong Bu Umar dan putri bungsunya Fatma di jalan menuju lapangan merdeka.  Keluarga itu terus menjajakan koran bekasnya seraya menebar senyum di hari Fitri. Bukan senyum memohon maaf, tetapi senyum untuk menyapa pelanggan,  seraya berharap ada yang  membutuhkan koran bekas yang dijajakan, untuk dijadikan  alas pengganti sajadah.

Kehadiran mereka di area lapangan merdeka juga terbilang paling cepat di antara yang lain. Mereka sudah menenteng koran-koran bekas itu sejak matahari baru menampilkan cahaya remangnya.

“Koran, Kak!” Fatma menawarkan dagangannya pada perempuan muda di dalam mobil.

“Berapa, Dik?” tanya perempuan itu. “Seribu saja, Kak,” sahut Fatma dengan nada merendah. “Dua ribu, tiga ya?” tawar perempuan dari dalam mobil.

Fatma menoleh ke arah ibunya. Namun Bu Umar agak jauh dan tidak melihat Fatma. Maka sambil menenteng koran-koran bekasnya, Fatma berlari menuju Bu Umar untuk bertanya tawaran perempuan tadi. Bu Umar hanya mengangguk, kemudian Fatma kembali lagi ke perempuan itu. Namun belum rezeki, mobil yang ditumpangi perempuan itu sudah duluan menghilang di tempat.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved