Minggu, 1 Maret 2015
Home » Opini

Perang Saudara, Sejarah Kelam Umat Islam

Jumat, 30 Agustus 2013 08:38 WIB

Oleh Syamsul Bahri

UMAT Islam punya riwayat perang saudara (civil war) yang banyak dalam literatur Sejarah Islam. Perang saudara pertama di mulai pada masa kekhalifahan Usman bin Affan ra (644-655 M). Saat itu terjadi aksi demonstrasi besar-besaran, melancarkan protes dan menuntut mudur khalifah yang sah, Usman bin Affan. Sebab dalam kepemimpinannya, Usman dianggap telah melakukan praktik nepotisme dengan menempatkan kroni-kroninya pada jabatan-jabatan penting di lingkup kekhalifahan.

Usman waktu itu sudah berusia lebih 70 tahun, dituntut mundur dan menunjuk calon khalifah lain sebagai penggantinya. Namun, tuntutan tersebut ditolak oleh anggota keluarga Usman sendiri. Bahkan, keluarganya berupaya para demonstran dengan senjata, sesuatu hal yang sama sekali tidak diinginkan Usman. Sikap keras keluarga untuk tetap mempertahankan Usman sebagai khalifah, akhirnya harus dibayar mahal dengan terbunuhnya Usman bin Affan ketika ia sedang melaksanakan shalat. 

 Tugas berat kekhalifahan
Ali bin Abi Thalib Karamalalhu wajhah (656-661 M) menjadi khalifah pengganti Usman. Tugasnya sangat berat waktu itu. Ia harus menstabilkan keadaan negeri dan menyanggupi permintaan rakyatnya. Tapi yang menjadi ‘bebannya’ dalam memimpin adalah upaya mencari pembunuh Usman kemudian menghukumnya dengan peraturan yang sah. Pihak (keluarga dan simpatisan) Usman terus mendesak agar kematian Usman segera di usut.

Demikian pula pihak Aisyah (isteri Nabi saw) menaruh iba dan bersikeras agar kasus pembunuhan khalifah Usman bin Affan itu diungkapkan ke publik. Thalhah menentang kekhalifahan Ali dan menaruh curiga bahwa kelompok Ali yang membunuh Usman. Muawiyah dengan jelas tak mem-bai’at kekhalifahan Ali. Akibatnya situasi kekhalifahan memanas dan kacau, sehingga ia harus mengungsi dari Madinah ke Kufah yang relatif aman dari rongrongan kaum Muawwiyah.

Perang saudara terjadi lagi, Aisyah dengan naik unta ikut berperang sehingga disebut perang jamal (unta). Suatu hal yang tidak diinginkan Ali, bagaimana mungkin ia akan berperang dengan Isteri Nabi saw, sosok pujaannya? Tapi tak bisa dielakkan. Semua karena situasi yang tak dapat dikendalikan. Kemenangan berpihak pada pasukan Ali. Muawwiyah menjadi ‘berang’ dan memutuskan perang lagi di Lembah Shiffin (perang Shiffin).

Perang saudara berkecamuk lagi, lantunan suara Allahuakbar menggema ke angkasa, malaikat menjadi sibuk membawa doa-doa mereka kepada Allah swt. Peperang hendak di menangkan Ali, pasukan Muawwiyah sudah melemah, dengan kecerdikannya Muawwiyah mengangkat Alquran diujung tombaknya, tanda ingin damai. Justru itulah yang diinginkan Ali, atas peristiwa arbitrase (tahkim) ini terjadi mediasi forum publik.

Halaman123
Editor: bakri
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas