• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Sabtu, 20 September 2014
Serambi Indonesia

Aswan, Bendungan Kebanggaan Mesir

Selasa, 3 September 2013 09:39 WIB
Aswan, Bendungan Kebanggaan Mesir
IHSAN ZULFANDRI

OLEH IHSAN ZULFANDRI, mahasiswa Aceh di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir 

SELAIN Kairo, Iskandariah (Alexandria), dan Luxor, Aswan juga merupakan salah satu tempat kunjungan wisata penting di Mesir. Perjalanan dari Luxor menuju Aswan memakan waktu sekitar tiga jam menggunakan bus. Namun, bagi yang benar-benar ingin menikmati perjalanan wisatanya bisa menggunakan kapal pesiar Nile Cruise di sepanjang Sungai Nil.

Dengan merogeh kocek US$ 300 kita bisa berlayar menyusuri arus sungai sambil menikmati indahnya pemandangan sepanjang aliran Nil.

Bendungan Aswan sering pula disebut dengan Saddul ‘Ali. Bendungan ini direncanakan pada masa Presiden Jamal Abdul Nassir. Namun, terbentur dana, karena Amerika, Prancis, dan Bank Dunia tak berkenan meminjamkan dana.

Tapi kemudian, Uni Soviet bersedia membantu dana dan tenaga ahli, sehingga cita-cita Abdul Nassir tercapai juga, meski beliau tak sempat melihat dan merasakannya.

Tinggi bendungan tersebut 111 meter, panjang 360 meter, dapat menggerakkan 70 persen pembangkit listrik dari keseluruhan tenaga listrik yang dibutuhkan penduduk Mesir. Dengan dibangunnya Bendungan Aswan menyebabkan suplai air ke setiap daerah pertanian bisa diatur sempurna melalui aliran irigasi. Produktivitas pertanian pun meningkat berkat adanya bendungan dan irigasi tersebut.

 Ma’bad Philae
Setelah melihat Bendungan Aswan para penikmat wisata dapat melanjutkan perjalanannya menuju Ma’bad Philae. Philae adalah sebuah ma’bad yang berada di sebuah pulau yang diapit oleh Sungai Nil. Ma’bad ini dibangun pada masa kerajaan Fir’aun dinasti 30. Pembangunannya sampai abad ketiga oleh dinasti Ptolemic Yunani dan penguasa Romawi. Philae berasal dari bahasa Yunani yang berarti butiran-butiran cinta. Orang Arab sering menyebutnya dengan nama Anas al-Maujudah; sebuah nama yang ada dalam mitos Seribu Satu Malam. Orang Mesir Kuno menyebutnya Ma’bad Philae dengan nama Bylak atau Bylakh yang berarti pengujung. Klop dengan namanya, karena tempat ini berada pada batas terakhir wilayah Mesir Selatan.

Salah satu pemandangan yang juga menarik di kawasan ini adalah Maqabir Bubala, makam para pejuang bangsa Mesir tempo dulu. Malam tempat ini sangat memikat, karena dihiasi lampu warna-warni.

Di kawasan Aswan juga terdapat sebuah kuil bersejarah dan satu-satunya di dunia yang didesain dengan teknologi astromi cangkeh pada masanya, yaitu Kuil Abu Simbel. Kuil ini ditemukan setelah banjir besar melanda Mesir. Lalu Unesco (badan resmi PBB) membantu melakukan penyelamatan ma’bad (kuil) tersebut. Kisah penemuan kembali kuil ini dapat dilihat di showroom sebelum memasuki areal ma’bad.

Ma’bad Abu Simbel adalah salah satu Kuil Raja Ramses II. Meskipun sudah terlampaui 3.000 tahun lalu, tapi ma’bad ini masih tetap tegak sampai sekarang. Di dalam ma’bad ini terdapat ruang suci (Qadasul Aqdas). Di dalam ruang ini terdapat empat patung dari keluarga raja Ramses (Fir’aun) yang berdiri tegak. Ruang tersebut disinari matahari dalam setahun cuma dua kali, yaitu pada 22 Februari sebagai hari kelahiran Fir’aun dan pada 22 Oktober, hari pengangkatannya menjadi Raja Ramses. Ma’bad tersebut menghadap ke arah danau, sedangkan posisi patung Abu Simbel duduk mengarah ke danau seolah-olah dialah raja penguasa alam. Di samping ma’bad Abu Simbel juga terdapat Ma’bad Nefertari, kuil yang didedikasikan untuk istrinya.

 Suku Bubia
Di provinsi paling selatan Mesir ini, juga terdapat tempat wisata menarik lainnya, terutama bagi mereka yang hidup di negara gurun. Hadiqah Nabatat, itulah namanya atau Taman Tumbuhan. Di sana ada berbagai jenis tumbuhan dan tak diperbolehkan mencabut atau mematahkan tanaman di taman tersebut. Maklum, tumbuhan atau pepohonan di negara gurun seperti Mesir ini merupakan sesuatu yang langka. Butuh usaha superekstra untuk menghidupkan sebatang pohon di sini.

Tak jauh dari Hadiqah Nabatat, dengan menggunakan perahu, para pelancong dapat mengunjungi Nubia. Suku atau etnis bangsa Mesir asli yang hidup masih agak primitif. Perkampungan tersebut luasnya 100 km bersisian dengan Bendungan Aswan. Selain menguasai bahasa Arab mereka juga punya bahasa daerah tersendiri. Mereka suka berburu buaya. Jika kita masuki setiap rumah mereka terdapat lima atau enam buaya, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Lumayan kan, karena di darat pun Anda dapat melihat buaya.
[email penulis: ihsan_cairo@yahoo.com]

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
243974 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas