• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 22 Oktober 2014
Serambi Indonesia
Home » Opini

Hardikda; Mencari Pusat Keunggulan Aceh

Selasa, 3 September 2013 09:35 WIB

PARA pendidik di Aceh harusnya merasa beruntung karena hanya di Aceh ada kesempatan melakukan refleksi dan kontemplasi, seiring peringatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda), yang kita peringati pada setiap 2 September dan kali ini yang ke-54 (2 September 1959 - 2 September 2013). Mungkin tidak ada daerah lain yang punya “Hardikda” atau peringatan khusus seperti Hardikda 2 September di tempat kita.

Lebih istimewa lagi, Hardikda Aceh juga diperingati sebagai hari berdirinya Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dengan ikonnya Kota Pelajar dan Mahasiswa (Kopelma) Darussalam yang juga menjadi kampus untuk IAIN Ar-Raniry. Kedua kampus ini lantas disebut sebagai “jantong hatee” orang Aceh.

Untuk tidak mengulang perdebatan di seputar panggilan penuh romantisme ini, di peringatan Hardikda kali ini mari kita lihat posisi Unsyiah dan keadaan pendidikan di Aceh. Khususnya, apakah Unsyiah telah mencapai tujuan pendiriannya dan capaian tujuan pendidikan secara umum.

 Kebanggaan kita
Rakyat Aceh bergotong-royong membangun Kopelma Darussalam pada akhir dasawarsa 50-an dengan menyumbangkan tenaga, harta, bahkan nyawanya (Salmawaty Arif, 2010). Pasti para pendahulu kita itu punya tujuan, cita-cita, impian untuk apa sebuah Kopelma dan perguruan tinggi di atasnya perlu hadir di Aceh. Mungkin para pelaku sejarah yang masih hidup bisa memberikan gambaran yang jelas tentang tujuan, cita-cita, atau impian itu. Tapi kita yang menjadi pewaris bisa juga membuat sketsa masing-masing, melakukan dekonstruksi dan kontruksi tujuan, cita-cita, atau impian itu. Karena Darussalam adalah milik kita, karena Unsyiah dan IAIN Ar-Raniry adalah kebanggaan kita.

Pada prasasti di Tugu Darussalam, Ir. Soekarno, presiden pertama RI menuliskan “Tekad bulat melahirkan perbuatan jang njata. ‘Darussalam’ menuju kepada pelaksanaan tjita2.” Tapi cita-cita yang mana? Mungkin jawabannya ada pada Himne dan Mars Unsyiah yang terkenal itu.

Himne Unsyiah berjudul “Universitas Syiah Kuala, Guru Kami”, dengan lirik lagu digubah oleh Muchtar Embut dan syair disusun oleh WS Rendra pada 1 Juli 1970. Lirik yang disusun oleh si Burung Merak, maestro sastra-puisi Nusantara ini adalah sebuah masterpiece, yang diantaranya berbunyi: //Di sini kami belajar memperkaya iman/ Di sini kami belajar mengembangkan ilmu/ Di sini, di sini di tempat tercinta, Universitas Syiah Kuala/ Fajar menyingsing di tanah Aceh

Inilah cita-cita kami../ Untuk tujuan mulya, tujuan mulya/

Di sini, di Tanah Aceh/ Berkumandanglah cinta/ Untuk Bangsa Indonesia/ Untuk umat manusia//

Sedangkan dalam “Mars Angkatan Darussalam” yang lagunya diciptakan oleh T Djohan, dan digubah oleh Anzib Lamnjong pada 2 Pebruari 1959, terdapat lirik penuh semangat seperti: //Di dalam gegap gempitanya jeritan derita/ Berkumandang suara angkatan gagah perkasa/ Bawa satu keyakinan/ Diriku tak ada/ Hanya mengabdi pada Tuhan/ Hidup serta mati untuk-Nya/ Inilah angkatan baru/ Angkatan Darussalam/ Manusia budi luhur lagi berjiwa sosial/ Selalu membimbing rakyat..//

Merinding manusia yang berhati nurani seharusnya jika membaca, apalagi menyanyikan sambil meresapi kedua karya besar tersebut. Dan keduanya selalu dinyanyikan dalam setiap upacara wisuda dan acara penting Unsyiah lainnya, pengingat dan penggerak untuk semua civitas akademika Unsyiah. Keduanya adalah puncak pencapaian, sebuah mahakarya manusia, sebuah keunggulan.

 Sebagai modal
Darussalam dimulai dengan cita-cita yang jelas untuk tempat “memperkaya iman” dan “mengembangkan ilmu”, sebagai modal untuk menghadirkan perubahan, sehingga rakyat Aceh dapat bergerak dari masa gelap ke masa pencerahan, dari kelam malam hingga “Fajar (dapat) menyingsing di tanah Aceh”. Semua itu adalah “untuk tujuan mulya” agar dari tanah Aceh “berkumandanglah cinta”. Cinta untuk “bangsa” -bukan “negara”(!), Indonesia dan untuk umat manusia. 

Kapan fajar menyingsing di tanah Aceh? Ini terjawab dalam Mars Angkatan Darussalam. Fajar menyingsing di Aceh ketika telah lahir sebuah angkatan yang selfless, yang nir-diri, yang sudah sampai pada keyakinan “Diriku tak ada”. Sebuah angkatan yang “Hanya mengabdi pada Tuhan”, dan mereka “Hidup serta mati untuk-Nya”, seperti yang dilafalkan setiap Muslim dalam do’a iftitah shalatnya. Inilah angkatan baru, Angkatan Darussalam. Bagaimana ciri angkatan ini? Mereka adalah “Manusia budi luhur lagi berjiwa sosial” dan “Selalu membimbing rakyat”.

Menariknya, tujuan yang termaktub dalam himne dan mars ini ternyata sudah menggambarkan tujuan pendidikan nasional Indonesia dari masa ke masa, bahkan ketika menteri pendidikan silih berganti.

Apapun yang kita sepakati sebagai “konsep tertulis tujuan” pendirian Darussalam, ingat di dalamnya ada Unsyiah dan IAIN, tak ada yang dapat memungkiri bahwa tujuan, cita-cita, atau impian itu sungguh mulia, tinggi, dan tulus.

Kampus di manapun didirikan sebagai institusi pendidikan “tertinggi”, makanya dinamakan “perguruan tinggi” (PT). Posisi PT seharusnya tidak semata dilihat sebagai lembaga yang menyediakan “level pendidikan tertinggi”, sekedar level berikutnya setelah sekolah menengah, tapi juga sebagai pendidikan tertinggi dalam arti yang sebenarnya.

Karena itu banyak kampus yang punya visi sebagai centre of excellence, pusat keunggulan. PT digadang-gadang sebagai tempat orang paling “pintar” ber(ter-?)kumpul, sumber beragam ilmu, bahkan sumber ilmu tertinggi di tiap-tiap bidang. Konsekuensinya, seperti umumnya di negara yang sudah lebih maju, kampus menjadi sumber belajar utama, tempat bertanya dan kembali bagi alumni dan masyarakat sekitarnya untuk berbagai persoalan. Selain pemerintah, kalangan industri dan bisnis juga mengandalkan kampus untuk R&D nya, untuk pencapaian terbaik dan terunggul di setiap bidang.

Keunggulan kampus bahkan seringkali tidak melulu dilihat dari segi inovasi dan temuan baru di bidang iptek yang sangat lanjut. Banyak kampus di Amerika, misalnya, bahkan menjadi salah satu tujuan wisata masayarakat sekitarnya karena ditata dan dikelola dengan sangat baik, ditata dan dikelola dengan “ilmu pengetahuan”. Lingkungan kampus asri, hijau, lestari sebagai buah dari berbagai “pohon ilmu pengetahuan” yang ada di kampus itu. Selanjutnya kampus-kampus tersebut menularkan tatakelola dan inovasinya ke masyarakat sekitarnya, di kotanya, di daerahnya, di negaranya. Kampus demikian adalah kampus sebagai pusat keunggulan dan pencerahan.

 Masih jauh
Bagaimana dengan Unsyiah dan PT lain di Aceh? Bagaimana dengan pendidikan di Aceh? Apakah Darussalam, khususnya Unsyiah, telah menghadirkan “fajar menyingsing” di tanah Aceh? Sebagai otokritik untuk penulis sendiri yang “orang Darussalam”, dalam refleksi Hardikda ke-54 ini, dengan sangat sedih harus kita akui bahwa Darussalam saat ini masih jauh dari cita-cita pendiriannya.

Dari puluhan ribu karyawan, dosen, dan mahasiswa di Darussalam lebih banyak yang selfish daripada selfless. Demi pencapaian akademik tertinggi, kita sibuk dengan penelitian lanjut nan canggih dan publikasi internasional, tapi lupa untuk “selalu membimbing rakyat”. Kita terjebak dengan industrialisasi pendidikan dan bangga dengan kuantitas besar-mahasiswa Unsyiah kini sekitar 27.000 orang!, tapi tidak berusaha memastikan proses untuk memungkinkan hadirnya “Manusia budi luhur lagi berjiwa sosial”. Di Kopelma Darussalam yang luas itu, hanya ada sudut-sudut kecil yang bisa dijadikan tempat untuk “memperkaya iman” dan “mengembangkan ilmu”. Hanya ada sudut sempit untuk pencerahan dan pusat keunggulan. Sudut-sudut dimana ilmu dimulia-agungkan. Sudut-sudut lainnya telah menjelma menjadi “pusat kegelapan”. Dan pusat kegelapan di kampus adalah “inti kegelapan” (the core of darkness) bagi masyarakatnya, bagi Aceh.

* Saiful Mahdi, S.Si, M.Sc, Ph.D, Alumni Cornell University, Ketua Program Studi Statistika FMIPA Unsyiah. Email: saiful.mahdi@fmipa.unsyiah.ac.id             

Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
243954 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas