Selasa, 28 April 2015
Home » Opini

Hardikda; Mencari Pusat Keunggulan Aceh

Selasa, 3 September 2013 09:35

PARA pendidik di Aceh harusnya merasa beruntung karena hanya di Aceh ada kesempatan melakukan refleksi dan kontemplasi, seiring peringatan Hari Pendidikan Daerah (Hardikda), yang kita peringati pada setiap 2 September dan kali ini yang ke-54 (2 September 1959 - 2 September 2013). Mungkin tidak ada daerah lain yang punya “Hardikda” atau peringatan khusus seperti Hardikda 2 September di tempat kita.

Lebih istimewa lagi, Hardikda Aceh juga diperingati sebagai hari berdirinya Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dengan ikonnya Kota Pelajar dan Mahasiswa (Kopelma) Darussalam yang juga menjadi kampus untuk IAIN Ar-Raniry. Kedua kampus ini lantas disebut sebagai “jantong hatee” orang Aceh.

Untuk tidak mengulang perdebatan di seputar panggilan penuh romantisme ini, di peringatan Hardikda kali ini mari kita lihat posisi Unsyiah dan keadaan pendidikan di Aceh. Khususnya, apakah Unsyiah telah mencapai tujuan pendiriannya dan capaian tujuan pendidikan secara umum.

 Kebanggaan kita
Rakyat Aceh bergotong-royong membangun Kopelma Darussalam pada akhir dasawarsa 50-an dengan menyumbangkan tenaga, harta, bahkan nyawanya (Salmawaty Arif, 2010). Pasti para pendahulu kita itu punya tujuan, cita-cita, impian untuk apa sebuah Kopelma dan perguruan tinggi di atasnya perlu hadir di Aceh. Mungkin para pelaku sejarah yang masih hidup bisa memberikan gambaran yang jelas tentang tujuan, cita-cita, atau impian itu. Tapi kita yang menjadi pewaris bisa juga membuat sketsa masing-masing, melakukan dekonstruksi dan kontruksi tujuan, cita-cita, atau impian itu. Karena Darussalam adalah milik kita, karena Unsyiah dan IAIN Ar-Raniry adalah kebanggaan kita.

Pada prasasti di Tugu Darussalam, Ir. Soekarno, presiden pertama RI menuliskan “Tekad bulat melahirkan perbuatan jang njata. ‘Darussalam’ menuju kepada pelaksanaan tjita2.” Tapi cita-cita yang mana? Mungkin jawabannya ada pada Himne dan Mars Unsyiah yang terkenal itu.

Himne Unsyiah berjudul “Universitas Syiah Kuala, Guru Kami”, dengan lirik lagu digubah oleh Muchtar Embut dan syair disusun oleh WS Rendra pada 1 Juli 1970. Lirik yang disusun oleh si Burung Merak, maestro sastra-puisi Nusantara ini adalah sebuah masterpiece, yang diantaranya berbunyi: //Di sini kami belajar memperkaya iman/ Di sini kami belajar mengembangkan ilmu/ Di sini, di sini di tempat tercinta, Universitas Syiah Kuala/ Fajar menyingsing di tanah Aceh

Inilah cita-cita kami../ Untuk tujuan mulya, tujuan mulya/

Halaman123
Editor: bakri
KOMENTAR
TRIBUNnews.com © 2015 About Us Help
Atas