• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Rabu, 23 Juli 2014
Serambi Indonesia

Wisata Islami di Brunei

Rabu, 4 September 2013 09:19 WIB
Wisata Islami di Brunei
MAULIDA SHANTI YUSUF

OLEH MAULIDA SHANTI YUSUF, mahasiswi S1 Psikologi Universitas Syiah Kuala, melaporkan dari Bandar Seri Begawan

BRUNEI Darussalam adalah sebuah negara yang letaknya sangat dekat dengan Indonesia, tepatnya di sebelah utara Pulau Kalimantan. Meskipun kurang gencar dengan promosi wisatanya dibandingkan dengan negara tetangganya seperti Malaysia, Thailand, dan Singapura, namun negara penghasil minyak ini ternyata memiliki banyak objek wisata yang menarik. 

Saya senang berkesempatan berkunjung ke negara yang terkenal dengan julukan Abode of Peace ini. Selama berada di Brunei saya ditemani seorang teman, Dayangku Nor Dalilah. Dalilah adalah seorang pelajar asal Brunei yang menuntut ilmu di sebuah universitas yang sama dengan saya di Malaysia.

Selain itu Dalilah juga merupakan housemate saya ketika masih kuliah di semester dua dulu. Saya jadi banyak tahu tentang Brunei dari cerita-cerita Dalilah tentang negaranya hingga akhirnya saya dapat berkunjung langsung ke negara ini.

Jika Anda datang ke negara ini jangan harap bisa menemukan bus ataupun taksi, karena alat transportasi umum sangat jarang ditemui di sini. Sebagian besar masyarakat Brunei menggunakan kendaraan pribadi untuk sampai ke destinasinya masing-masing. Hal ini menjadi kendala bagi para pendatang yang tidak memiliki kendaraan pribadi. Alhasil, pilihan terakhir adalah dengan berjalan kaki.

Meski demikian, masyarakat Brunei sangat menghargai para pejalan kaki (pedestrians). Pengendara mobil, misalnya, akan segera berhenti dan mempersilakan pejalan kaki untuk menyeberang meskipun pejalan kaki telah berhenti lebih dulu untuk menunggu mobil tersebut melintas.

Di Brunei Anda juga bisa menggunakan mata uang dolar Singapura untuk transaksi jual beli. Hal ini karena dolar Brunei atau sering juga disebut juga ringgit Brunei memiliki nilai yang sama dengan dolar Singapura. Meskipun begitu, barang-barang yang dijual di Brunei jauh lebih murah jika dibandingkan dengan di Singapura. Mungkin ini dipengaruhi oleh penerapan pajak impor yang lebih murah oleh Kesultanan Brunei.

Hal menarik lainnya adalah semua tanda penunjuk arah, seperti nama jalan, nama tempat, maupun nama gedung ditulis menggunakan dua bahasa sekaligus, yaitu bahasa Latin dan Jawi, meskipun nama tersebut berasal dari bahasa Inggris.

Jika Anda berada di pusat kota, Anda bisa mengunjungi beberapa tempat menarik dengan hanya berjalan kaki. Salah satunya adalah Masjid Omar Ali Saifuddin. Masjid ini dapat dilihat dari berbagai sudut Bandar Seri Begawan, ibu kota Brunei Darussalam.

Masjid Omar Ali Saifuddin adalah salah satu masjid terindah di Brunei selain Masjid Jame’ ‘Asr Hassanul Bolkiah. Kubah masjid ini terbuat dari emas murni, meskipun masjid ini bukan satu-satunya masjid di dunia yang berkubah emas. Namun, keindahan mesjid inilah yang membuatnya disebut-sebut sebagai masjid paling indah dan megah di Asia Pasifik. Perpaduan antara arsitektur Islam modern dan seni Italia, ditambah lagi dengan pemandangan di halaman masjid yang indah, membuat masjid ini terlihat sangat megah dan mengesankan.

Menariknya lagi, masjid ini dibangun di atas sebuah kolam buatan dan memiliki dua jembatan. Jembatan yang satu menghubungkannya dengan Kampung Ayer, sedangkan jembatan yang kedua menghubungkannya dengan sebuah replika perahu yang berada di tengah kolam.

Ketika memasuki masjid, saya disambut oleh dua orang petugas masjid yang ramah. Para petugas juga menyediakan pakaian sejenis jubah untuk dipinjamkan kepada para pengunjung nonmuslim yang ingin masuk ke dalam masjid jika pakaian mereka kurang sesuai dengan syariat Islam.

Pengunjung nonmuslim memang diperbolehkan masuk ke masjid ini, namun mereka tetap harus mengikuti aturan yang ditetapkan. Salah satunya, harus perpakaian mengikuti norma-norma Islam. Selain itu, pengunjung yang nonmuslim hanya bisa masuk hingga sebatas karpet merah (red carpet) yang telah ditentukan. Meskipun bisa menikmati keindahan mesjid dari dalam, namun para pengunjung tak dibenarkan menggunakan kamera maupun video saat berada di dalamnya.

Negara ini memang terkenal dengan budaya masyarakatnya yang kental dengan syariat Islam dan juga ketegasannya dalam menerapkan syariat dalam sistem pemerintahan. Dengan demikian, meskipun tempat-tempat islaminya menjadi objek tujuan wisatawan mancanegara, namun negara ini tetap membatasi ruang gerak para wisatawan nonmuslim yang masuk ke masjid-masjid mereka.
[email penulis: maulida.yusuf66@gmail.com]

* Bila Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas Anda ke email: redaksi@serambinews.com

Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas