• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Selasa, 16 September 2014
Serambi Indonesia

Bahasa dan Media Massa

Minggu, 8 September 2013 08:51 WIB

Oleh Herman RN Alumnus Pascasarjana PBSI Unsyiah, Banda Aceh

TENTU sudah banyak buku tentang jurnalistik yang diterbitkan, seperti buku yang ditulis langsung oleh mereka yang terlibat secara praktis di dunia pers. Sebut saja di antaranya Rosihan Anwar (1991), Asegaf (1982), Jacob Oetama (1987). Namun demikian, tetap masih saja banyak kesalahan penulisan berita di media massa sekarang, terutama cetak. Sejatinya, setiap wartawan mesti memiliki buku panduan menulis berita, terserah judulnya dan siapa pengarangnya. Paling tidak, ia punyabuku pegangan panduan dasar dalam menulis berita. Seorang wartawan juga mesti membacabaca buku yang menyangkut soal ejaan.

Hal ini agar tidak terjadi kesalahan yang sama secara berulang-ulang. Halnya editor, sudah semestinya memahami sungguh kaedah ejaan bahasa yang benar. Apalagi, mereka yang mengaku bekerja di media besar dan profesional serta ada embel-embel (pula) tata cara penulisan berita mengikuti  kaedah atau tata bahasa. Lucu rasanya, sebuah media yang mengaku mengikuti kaedah bahasa tetapi banyak penyimpangan bahasa dalam penulisan berita di media tersebut.

Memang, sebuah media massa tidak dapatmengikuti secara sempurna tata bahasa yang berlaku. Hal ini karena kebutuhan media yang terikat ruang dan tujuan sehingga muncul gaya bahasa selingkung media. Akan tetapi, beberapa hal yang menyangkut ejaan, bukan gaya selingkung, mestinya diluruskan. Sebuah kesalahan, manakala dibiarkan terus-menerus, akan melahirkan kesalahan majemuk.

Hal ini karena media massa membawa pengaruh besar terhadap bahasa masyarakat. Sebab itu, bahasa di media punya sisi positif yang membanggakan sehingga perlu dikawal dan dijaga. Sisi positifnya itu antara lain, munculnya sejumlah kosakata yang dulunya tidak pernah ditemui, belakangan menjadi akrab di telinga masyarakat karena sudah sering digunakan oleh media. Lihat saja beberapa kosakata baru di kalangan masyarakat yang dipopulerkan oleh media tertentu, misalnya sejumlah singkatan yang menjadi kosakata berterima dalam komunikasi sehari-hari, seperti Abdya untuk Aceh Barat Daya, Pijay untuk Pidie Jaya. Singkatan nama kabupaten di Aceh ini mulanya dipopulerkan oleh sebuah media cetak terbitan Aceh. Kini, istilah itu jadi populer dan berterima dalam kehidupan masyarakat luas. Demikian halnya dengan Galus yang belakangan mulai muncul untuk menyingkat Gayo Lues. Sebelumnya, sudah ada Agara untuk Aceh Tenggara.

Belakangan, media nasional juga menyontek istilah yang sama untuk penyebutkan daerah yang dimaksud. Lalu, dalam percakapan seharihari pun istilah-istilah yang sama menjadi lazim seolah sudah dibakukan dalam kamus besar. Hal ini semakin menegaskan bahwa pengaruh media dalam pertumbuhan dan perkembangan bahasa itu sangat besar. Oleh karenanya, disayangkan sekali jika di satu sisi media membantu pertumbuhan dan perkembangan bahasa, di sisi lain malah mengabaikan kaidah yang sudah dibakukan.

Sudah ketentuan, setiap huruf pertama di judul, termasuk judul berita, mesti ditulis dengan huruf kapital. Namun, saya sering mendapati sebuah media terbitan Aceh yang kerap menulis kata-kata tertentu dengan huruf kecil di judul. Contoh yang sering terjadi saat menulis kata penegatifan: tidak, belum, bukan, tak, dan sejenisnya. Ini beberapa kutipan judul berita tersebut: Bendera Aceh, Wajar dan tak Perlu Curiga; Parpol di Aceh Jaya belum Daftarkan Caleg Tambahan. Dari dua contoh judul berita ini jelas terlihat kata tak dan belum di tulisan dengan huruf kecil semua padahal itu di judul. Dalam kentuan penulisan huruf kapital, setiap huruf awal di judul ditulis dengan huruf besar, kecuali kata depan dan kata tugas, seperti di, ke, dari, dalam, pada, dan, untuk, oleh, dan sejenisnya. Jika kekeliruan di atas terjadi terus- menerus, saya kira itu sebuah kesalahan yang disengaja. Manakala kesilapan terjadi dalam tubuh tulisan, barangkali tidak terlalu fatal.

Namun, jika kesalahan itu ada di judul, apalagi judul besar (headline), sungguh disayangkan. Untuk itulah, peran editor atau redaktur bahasa menjadi penting. Penting dipahami bahwa sebuah media berfungsi memberikan pendidikan kepada masyarakat. Ia juga sebagai ruang publik dan ruang advokasi masyarakat. Maka, ajarilah masyarakat bahasa yang baik dan positif. Sudah saatnya sebuah media pelan-pelan harus mengurangi bahasa manipulasi, feodalisme, dan eufemisme.

Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
246023 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas