• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Jumat, 29 Agustus 2014
Serambi Indonesia

Harga Gabah Abdya Anjlok

Senin, 23 September 2013 09:57 WIB

BLANGPIDIE - Harga Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani Kabupaten Abdya selama musim panen raya saat ini mulai anjlok. Memasuki panen pada awal Agustus 2013,  harga gabah pada kisaran Rp 4.100 sampai Rp 4.200/kg, namun ketika memasuki puncak panen raya saat ini, turun pada kisaran  harga Rp 3.800 sampai Rp 3.900/kg. Para petani dilanda resah, karena bila harga tidak terkendali, akan mengalami kerugian, malah tidak mampu menutup biaya produksi.

Keujruen Leman dari Desa Gunung Cut, Kecamatan Tangan-Tangan, kepada Serambi, Minggu (22/9) kemarin, menjelaskan, hasil panen padi Musim Tanam (MT) Gadu 2013 yang dimulai sejak awal Agustus lalu tergolong memuaskan petani. Tapi sayangnya, harga GKP di tingkat petani mulai anjlok.

Harga gabah yang ditampung agen pengumpul tingkat petani di awal panen berkisar antara Rp 4.100 sampai 4.200/kg, namun saat memasuki panen raya sekarang ini, harga GKP turun dengan  kisaran harga Rp 3.800 sampai Rp 3.900/kg GKP. “Sejumlah agen pengumpul bersedia menampung gabah seharga Rp 3.900/kg, tapi minta tempo untuk melunasi harga selama lima atau tujuh hari ke depan,” ungkap Keujrueng Leman.

Pengakuan serupa juga disampaikan Keuchik Lhueng Tarok, Blangpidie, Ubat. Dia mengaku tidak tahu, kenapa harga gabah justru anjlok ketika memasuki puncak masa panen. Petani mengharapkan Pemkab Abdya melakukan langkah-langkah untuk mengendalikan harga gabah tingkat petani yang sedang terjadi pada saat hasil panen melimpah.

Menurut Keujruen Leman dan Keuchik Ubat, bila tingkat harga tidak mampu dikendalikan, maka petani akan mengalami kerugian.

Sementara Lirman, Pengusaha Kilang  Padi Laris, Kecamatan Setia, ketika dihubugi Serambi, Minggu kemarin, mengaku menampung gabah dari agen pengumpul Rp 4.000/kg GKP, sebelumnya Rp 4.100/kg.  Gabah yang ditampung sesuai standar, dalam artian kadar air tidak terlalu banyak.

Kepala Dinas Pertanian dan Perternakan (Kadistannak) Abdya, Ir Adusmin MM, ketika diminta tangapannya oleh Serambi, Minggu sore kemarin, mengaku tidak tahu penyebab sehingga harga gabah menurun pada saat memasuki puncak panen raya, saat ini. Namun ia mengimbau para petani Abdya untuk menunda penjualan gabah hasil panen.

“Kami mengimbau, agar menunda penjualan gabah, kecuali untuk kebutuhan mendesak,” ungkapnya. Dia optimis, harga gabah akan membaik dalam waktu mendatang.

Menurut Kadistannak Abdya itu, hasil panen MT Gadu 2013 ini sangat memuaskan. Berdasar ubinan (sampel tingkat produksi) yang secara acak melibatkan petugas BPS, tingkat produksi padi mencapai rata-rata 7,5 ton/hektare, jauh melampaui tingkat prokduksi rata-rata nasional. Sementara luas areal tanam di seluruh Abdya mencapai 11.178 hektare.

“Dengan tingkat produksi rata-rata 7,5 ton/hektare, maka produksi gabah Abdya MT 2013 mencapai  83.835 ton. Dan, bila gabah tersebut dijual petani secara besar-besaran, maka sebagian besar lari ke luar daerah,” tandas Adusmin. Varietas padi yang dikembangkan MT 2013 yang puncak panen, adalah jenis unggul, terutama  Impari-1, Impari-13, Cigelis dan Mikongga.(nun)

Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
251403 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas