Senin, 24 November 2014
Serambi Indonesia

Ratusan Buruh Perkebunan Mengamuk

Selasa, 24 September 2013 09:27 WIB

Ratusan Buruh Perkebunan Mengamuk
Ratusan buruh berkumpul di sekitar pabrik kelapa sawit PT Delima Makmur, kawasan Desa Situban Makmur, Kecamatan Danau Paris, Aceh Singkil, setelah mengamuk, merusak dan mengobrak abrik kantor grup serta kantor pabrik perushan tersebut, Senin (23/9).SERAMBI/DEDE ROSADI 

* Kantor Delima Makmur di Singkil Diobrak Abrik

SINGKIL - Ratusan buruh perusahan perkebunan kelapa sawit PT Delima Makmur di Kabupaten Aceh Singkil, mengamuk, Senin (23/9). Masa beringas memecahkan kaca kantor perusahan dan mengobrak-abrik isi di dalamnya. Kondisi ini membuat, pimpinan dan karyawan perusahan di dalamnya berhamburan ke luar menyelamatkan diri agar tidak terkena sasaran amukan.

Awalnya massa buruh akan melakukan aksi unjuk rasa ke perusahan. Sejak pukul 07.00 WIB, massa sudah bergerak menuju kantor group Delima Makmur di kawasan Situban Makmur, Kecamatan Danau Paris. Sekitar pukul 08.00 WIB massa tiba-tiba mengamuk, melempari kaca kantor group hingga pecah. Setelah itu bergerak ke kantor pabrik kelapa sawit, yang berjarak sekitar 500 meter. Di sana kembali melakukan hal serupa menghancurkan kaca dan mengobrak-abrik isinya.

Berdasarkan informasi dihimpun Serambi, kemarahan buruh yang awalnya melakukan unjuk rasa damai, disebut-sebut dipicu lantaran tidak diperkenankan bertemu pimpinan perusahan untuk menyampaikan tuntutunya, ketika sampai di depan kantor group Delim Makmur.

Terjadi adu mulut antara sekuriti yang berjaga dengan buruh hingga nyaris terjadi bentrok fisik. Sekuriti yang kalah jumlah tak bisa mengahadang masa hingga berhasil merubuhkan pintu pagar. Bahkan ada buruh yang nekat mengejar sekuriti dengan cangkul di tangan.

Setelah itu tanpa diketahui siapa memulai, massa langsung melempari kaca kantor. Puas mengobrak-abrik kantor group massa berbalik arah menuju pabrik. Kejadian serupa tak terelakkan. Buruh langsung mengamuk, memecahkan kaca kantor pabrik dan mengacak-acak segala benda di dalamnya.

Belum puas di situ, buruh kembali bergerak menuju pabrik kelapa sawit sambil teriak bakar. Beruntung aparat keamanan telah tiba, hingga berhasil mengendalikan kemarahan buruh yang ahirnya memilih berkonsentrasi sekitar 50 meter dari pabrik.

Buruh yang mengamuk tidak hanya laki-laki. Kaum perempuan sambil menggendong anak juga ikut berbaur dengan buruh lainnya. Teriakan histeris bernada cacian kemarahan terdengar dari perempuan ketika buruh melancarkan aksinya.

“Aku sudah kerja sejak dari gadis, sudah lima belas tahun. Tapi sampai sekarang tetap jadi BHL, tidak menikmati kesejahteraan, cuti hamil,” teriak seorang buruh perempuan yang diketahui bernama Siti.

Irfan Efendi dari Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (Yara) yang mendampingi buruh, mengatakan, buruh mengamuk karena tidak diperkenankan bertemu pimpinan perusahan guna menyampaikan unek-uneknya.

“Buruh mengamuk karena tidak diberi masuk dan massa dengan spontan melempar kaca kantor isi di dalamnya setelah itu masa bergerak ke kantor pabrik lalu menghancurkan kaca beserta isinya juga,” kata Irfan.

Menurut Irfan, buruh melakukan unjuk rasa menuntut perusahan memberikan tunjangan hari raya (THR) dan mengangkat buruh harian lepas (BHL) menjadi karyawan. Kemudian meminta perusahan membayar upah buruh sesuai UMR, serta memberikan premi. “Kejadian ini, bentuk ketidakbecusan dinas tenaga kerja mefasilitasi penyelesaian perselisihan buruh dengan  perusahan,” sesal Irfan.

Ratusan buruh hingga berita ini disusun, masih terkonsentrasi di dekat pabrik kelapa sawit perusahan. Teriakan bakar sesekali masih terdengar. Sementara aparat kepolisian dibantu TNI berjaga-jaga di sekitar kantor dan pabrik PT Delima Makmur.

General Manager (GM) PT Delima Makmur, Henri Siregar, yang coba dikonfirmasi Serambi terkait unjuk rasa yang berakhir dengan perusakan kantor, belum berhasil. Begitu juga ketika dihubungi ke nomor telpon genggamnya sore kemarin, sekira pukul 18.03 WIB dalam keadaan tidak aktif.

Informasi yang diperoleh, Henri saat peristiwa perusakan kantor group Delima Makmur di Desa Situban Makmur, Kecamatan Danau Paris, berlangsung, berhasil mengamankan diri, bersama karyawan lainnya. Sehingga ia lolos dari amukan buruh. “Pak Henri, berhasil lari, sehingga tidak jadi sasaran amukan massa. Kalau tidak bisa saja terkena sasaran amukan,” kata seorang aparat keamanan kepada Serambi.(c39)

Editor: bakri

TRIBUNnews.com © 2014

About Us

Help

Atas