• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Minggu, 26 Oktober 2014
Serambi Indonesia

Ratoh Jaroe dari Jakarta Menghentak Taman Ratu

Senin, 30 September 2013 09:15 WIB
Ratoh Jaroe dari Jakarta Menghentak Taman Ratu
Siswi SMA Al Azhar 4 Kemang Pratama Bekasi menampilkan tarian Ratoh Jaroe pada malam penutupan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA)-6 di Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, Minggu (29/9) malam. SERAMBI/BUDI FATRIA 

RIBUAN pengunjung yang memadati Taman Ratu Safiatuddin, Banda Aceh, tadi malam--termasuk Gubernur Zaini Abdullah bersama pejabat Aceh lainnya plus budayawan--bagai terhipnotis menyaksikan 15 dara jelita beraksi dengan tarian saman ratoh jaroe. Tarian yang sangat atraktif yang melibatkan siswi kelas III SMA Al-Azhar IV Kemang Pratama, Bekasi tersebut menjadi pembuka seremoni penutupan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-6 yang berlangsung sejak 20 September 2013.

Tari saman ratoh jaroe memiliki kisah panjang dimulai tujuh tahun lalu di Jakarta. Saat itu, Kantor Penghubung Pemda Aceh di Jakarta mengadakan Festival Saman di Anjungan Aceh Taman Mini Indonesia Indah (AA-TMII).

Dari festival saman pertama yang diikuti kalangan sangat terbatas itu, kemudian pada festival kedua dan ketiga semakin meluas. Bahkan, saman ratoh jaroe yang dimainkan dara-dara cantik yang masih duduk di bangku SMA dan SMP itu saat ini menjadi kegiatan ekstra kurikuler yang paling bergengsi di sekolah-sekolah favorit di Jakarta.

Dra Yayu Dirayah, guru dan penanggung jawab Eskul SMA Al-Azhar 4 Kemang Pratama, Bekasi yang mendampingi 20 siswinya yang tampil pada malam penutupan PKA ke-6 di pangung utama Taman Ratu Shafiatuddin, Banda Aceh mengakui kalau saman ratoh jaroe saat ini jadi idola remaja Jakarta dan sekitarnya.

Sebagai peraih tiga gelar juara festival saman ratoh jaroe yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Pemda Aceh di Jakarta, kata Yayu, pihaknya secara berjenjang menyiapkan tiga tim saman setiap tahun. “Ada yang di kelas X, XI, dan kelas XII,” katanya.

Anehnya, kata Yayu, sebagian anak yang ingin masuk ke SMA Al-Azhar 4 Bekasi ada yang termotivasi karena ingin bergabung dalam tim saman ratoh jaroe. Kenapa? Ternyata menjadi penari saman ratoh jaroe itu bisa membuka peluang bagi mereka untuk tampil di berbagai even penting nasional dan internasional.

“Tim sekolah kami sering diundang pihak kedutaan asing di Jakarta. Selain di Kedubes AS di Jakarta, kami pernah tampil hingga ke Cina, Kuala Lumpur, dan Turki,” kata guru yang mengaku asal Bali tersebut.

Tim saman ratoh jaroe SMA Al-Azhar 4 Bekasi, yang Sabtu malam  tampil di hadapan gubernur dan budayawan Aceh pada malam Anugerah Budaya di Hermes Palace Hotel Banda Aceh mengaku mereka sempat ‘kecut’ juga. “Jadi, kami akan tampil di depan budayawan Aceh,” tanya seorang penari kepada guru pembinanya. “Ya, kalian memang harus siap. Anggap saja ini penampilan kalian pada acara final fertival saman ratoh jaroe,” kata Yayu memberi semangat.

Hasilnya memang luar biasa. Gubernur Zaini Abdullah, Ketua DPRA Hasbi Abdullah, dan sejumlah budayawan memberi aplus atas atraksi mereka.

***

Tari saman ratoh jaroe, menurut Kepala Anjungan Aceh Taman Mini Indonesia Indah, Cut Putri Alianur memiliki kisah panjang menembus tembok-tembok tebal dan tinggi di Jakarta.

Untuk menjadi tarian pilihan paling digemari remaja putri di Jakarta, tiga kreografer Aceh yang bertugas di Anjungan Aceh, Yusri, Taufik, dan T Kernusi mencoba masuk ke sekolah-sekolah untuk menjadi pelatih bagi siswa di sekolah-sekolah unggul di Jakarta.

Program kunjung sekolah oleh trio kreografer tersebut ternyata mendapat sambutan hangat. Hasilnya, saat ini, trio pelatih saman ratoh jaroe yang juga jebolan Taman Budaya Aceh telah jadi rebutan sekolah bergengsi di Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Kepala Perwakilan Aceh di Jakarta, Badri juga mengaku pihaknya akan terus berusaha membina kerja sama dengan sekolah tingkat SMP dan SMA se-Jabodetabek untuk mempromosikan budaya Aceh di Jakarta dan sekitarnya.

 Dari saman ke ratoh jaroe
Cut Putri Alianur mengisahkan, bermula dari usulan saman Gayo sebagai warisan dunia nonbenda. “Saat itu, tari saman tidak diperbolehkan lagi dimainkan oleh perempuan. Tapi oleh penari laki-laki dengan pakaian khas Gayo,” kata Cut Putri Alianur.

Saat itu, tarian saman yang biasa dimainkan remaja putri di pesisir berubah menjadi ratoh duek. Dari ratoh duek kemudian berubah lagi menjadi rateb meuseukat. Dan tari yang dimainkan 15-18 penari kini bernama saman ratoh jaroe.

Tarian yang dipersembahkan siswi kelas III SMA Al-Azhar 4 Bekasi di depan budayawan Aceh di Hermes Palace Hotel dan di Taman Ratu Safiatuddin, begitu energik dan atraktif. Menurut Kepala Perwakilan Pemerintah Aceh di Jakarta, Badri, untuk lebih mempopulerkan tarian tersebut pihaknya kini juga membuka diklat Sanggar Keumala Nanggroe di Anjungan Aceh TMII, dan dengan demikian diharapkan tari saman ratoh jaroe akan lebih mendunia.(m nasir yusuf)

Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
0 KOMENTAR
253864 articles 16 0
Loading...
Sebelum memberikan komentar, silahkan login menggunakan
TERBARU
TERBARU
TERLAMA
TERKOMENTARI
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas