Kamis, 29 Januari 2015
Home » Opini

Etos Kerja dalam Peribahasa Aceh

Sabtu, 9 November 2013 08:15 WIB

Oleh Adnan Yahya

PARA endatu Aceh kita dulu sering memberikan solusi-solusi dalam menjawab persoalan hidup. Solusi itu mereka jawab dalam berbagai macam ungkapan peribahasa (Aceh: Narit Maja). Peribahasa tersebut dari dulu hingga saat ini masih dikutip oleh masyarakat Aceh dalam menyampaikan sesuatu, baik itu petuah, solusi maupun dalam menjawab problem keluarga dan masalah sosial lainnya. Dalam berbagai literatur yang menceritakan tentang keacehan pasti --tidak boleh tidak-- selalu dibumbui oleh peribahasa Aceh. Harapannya dengan peribahasa tersebut keluarga maupun masyarakat sosial akan lebih gampang dan mudah dalam memahami dan mengingat apa yang disampaikan.

Nah, di antara ribuan peribahasa Aceh yang diajarkan oleh endatu kita dulu adalah menumbuhkan sikap etos kerja yang tinggi, tidak pemalas. Agar setiap waktu mampu memberikan kontribusi terbaik kepada keluarga dengan kerja keras. Para endatu kita pernah mengatakan agar kita tidak menjadi pemalas, antara lain: Oen meuria diyup moh, bubong rumoh tireeh. Sikat gigoe peut kreuk di rumoh, ek gigoe jeut cet binteeh. Pulpen peut kreuk lam kantong, meusikreuk hanjeut teumuleeh. Ubat lee di rumoh, tapi cabok bak beuteuh. Ie raya diyup moh, dalam rumoh han jitem gleeh. Pesantren dilingka rumoh, ureung meutamah paleh (Daun rumbia di bawah lantai rumah, tapi rumah bocor. Sikat gigi empat di rumah, tapi kotoran gigi banyak. Pulpen empat dalam saku, tapi satupun tidak bisa untuk menulis. Obat banyak di rumah, tapi penyakitan. Banjir di sudah di bawah lantai, tapi rumah masih kotor. Pondok pesantren di sekitar rumah, tapi orangnya selalu jahat).

 Sindiran endatu
Dalam peribahasa ini menjelaskan sindiran para endatu terhadap para pemalas. Semua hal mereka miliki akan tetapi malas untuk digunakan. Sehingga akibatnya akan melahirkan berbagai macam masalah, baik itu penyakit, perilaku semakin buruk, rumah kotor dan  maupun lainnya. Maka pemalas sangat ditentang oleh para endatu kita dulu. Kenapa kita malas bekerja padahal sudah tahu kita perlu makan, minum, dan memenuhi kebutuhan pokok lainnya, yakni sandang, pangan dan papan. Apakah semua itu bisa kita dapatkan tanpa bekerja keras? Mustahil. Begitu pula dengan rumah, rumah kita akan kotor terus menerus bila kita penghuni rumah tidak mau membersihkannya.

Meunyoe hana tatem mita, pane atra rhot di manyang; Meunyoe tatem mita adak han kaya udep seunang (kalau bukan lewat usaha, tak mungkin harta jatuh dari langit/atas, asal mau berusaha kalaupun tak kaya cukuplah makan). Di sini para endatu mengajarkan kita untuk tidak berpangku tangan menunggu keajaiban dari langit. Karena tidak mungkin keajaiban itu akan datang tanpa usaha dan kerja keras. Kerja keras akan menghasilkan apa yang kita harapkan. Namun bila tidak mau berusaha maka akan dipastikan gagal. Dalam peribahasa ini dijelaskan ada dua kemungkinan bila kita mau bekerja keras, yakni kaya atau cukup. Namun jika tidak mau berusaha alias hanya menunggu keajaiban datang dari langit cuma ada satu kepastian, yakni kegagalan yang akan berujung pada kemiskinan dan tidak mampu meningkatkan taraf hidup keluarga.

Pane santan bak on keurusong, pane gapah bak leubeng (mana ada santan pada daun kering, mana ada “lemak” pada kutu busuk). Artinya, jangan mengharapkan sesuatu yang mustahil tanpa diiringi dengan kerjas dan kerja ikhlas. Apapun yang kita dapatkan, itulah hasil kerja keras kita. Bila kerja keras terus kita galakkan dalam kehidupan, maka hasil yang kita dapatkan akan memuaskan. Juga bila kita sangat bekerja keras, maka akan menghasilkan hasil yang sangat memuaskan pula.

Cabak jaroe meuraseuki, geuhon gaki hana sapee na (tangan yang rajin akan menghasilkan, kaki yang malas akan papa). Ini menjelaskan agar kita bisa latah untuk bekerja mencari karunia Ilahi. Mereka berharap lakukan apa saja untuk mendatangkan rezki selama pekerjaan itu baik. Karena bila kaki tidak mau melangkah pasti hidup akan susah. Dalam pepatah ini mengajarkan agar kita mau menjemput rizki tidak menunggu rizki. Menggerakkan langkah kaki untuk bekerja keras akan menghasilkan apa yang mereka inginkan. Maka jangan jadi pemalas yang tidak mau melangkah. Bukankah seribu langkah di awali dari satu langkah? Tidaklah mungkin tiba-tiba jadi orang kaya tanpa usaha dan kerja keras dengan langkahan kaki pertama. 

Halaman12
Editor: bakri
KOMENTAR ANDA

TRIBUNnews.com © 2015

About Us

Help

Atas