• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 24 Juli 2014
Serambi Indonesia
Home » Opini

Etos Kerja dalam Peribahasa Aceh

Sabtu, 9 November 2013 08:15 WIB

Oleh Adnan Yahya

PARA endatu Aceh kita dulu sering memberikan solusi-solusi dalam menjawab persoalan hidup. Solusi itu mereka jawab dalam berbagai macam ungkapan peribahasa (Aceh: Narit Maja). Peribahasa tersebut dari dulu hingga saat ini masih dikutip oleh masyarakat Aceh dalam menyampaikan sesuatu, baik itu petuah, solusi maupun dalam menjawab problem keluarga dan masalah sosial lainnya. Dalam berbagai literatur yang menceritakan tentang keacehan pasti --tidak boleh tidak-- selalu dibumbui oleh peribahasa Aceh. Harapannya dengan peribahasa tersebut keluarga maupun masyarakat sosial akan lebih gampang dan mudah dalam memahami dan mengingat apa yang disampaikan.

Nah, di antara ribuan peribahasa Aceh yang diajarkan oleh endatu kita dulu adalah menumbuhkan sikap etos kerja yang tinggi, tidak pemalas. Agar setiap waktu mampu memberikan kontribusi terbaik kepada keluarga dengan kerja keras. Para endatu kita pernah mengatakan agar kita tidak menjadi pemalas, antara lain: Oen meuria diyup moh, bubong rumoh tireeh. Sikat gigoe peut kreuk di rumoh, ek gigoe jeut cet binteeh. Pulpen peut kreuk lam kantong, meusikreuk hanjeut teumuleeh. Ubat lee di rumoh, tapi cabok bak beuteuh. Ie raya diyup moh, dalam rumoh han jitem gleeh. Pesantren dilingka rumoh, ureung meutamah paleh (Daun rumbia di bawah lantai rumah, tapi rumah bocor. Sikat gigi empat di rumah, tapi kotoran gigi banyak. Pulpen empat dalam saku, tapi satupun tidak bisa untuk menulis. Obat banyak di rumah, tapi penyakitan. Banjir di sudah di bawah lantai, tapi rumah masih kotor. Pondok pesantren di sekitar rumah, tapi orangnya selalu jahat).

 Sindiran endatu
Dalam peribahasa ini menjelaskan sindiran para endatu terhadap para pemalas. Semua hal mereka miliki akan tetapi malas untuk digunakan. Sehingga akibatnya akan melahirkan berbagai macam masalah, baik itu penyakit, perilaku semakin buruk, rumah kotor dan  maupun lainnya. Maka pemalas sangat ditentang oleh para endatu kita dulu. Kenapa kita malas bekerja padahal sudah tahu kita perlu makan, minum, dan memenuhi kebutuhan pokok lainnya, yakni sandang, pangan dan papan. Apakah semua itu bisa kita dapatkan tanpa bekerja keras? Mustahil. Begitu pula dengan rumah, rumah kita akan kotor terus menerus bila kita penghuni rumah tidak mau membersihkannya.

Meunyoe hana tatem mita, pane atra rhot di manyang; Meunyoe tatem mita adak han kaya udep seunang (kalau bukan lewat usaha, tak mungkin harta jatuh dari langit/atas, asal mau berusaha kalaupun tak kaya cukuplah makan). Di sini para endatu mengajarkan kita untuk tidak berpangku tangan menunggu keajaiban dari langit. Karena tidak mungkin keajaiban itu akan datang tanpa usaha dan kerja keras. Kerja keras akan menghasilkan apa yang kita harapkan. Namun bila tidak mau berusaha maka akan dipastikan gagal. Dalam peribahasa ini dijelaskan ada dua kemungkinan bila kita mau bekerja keras, yakni kaya atau cukup. Namun jika tidak mau berusaha alias hanya menunggu keajaiban datang dari langit cuma ada satu kepastian, yakni kegagalan yang akan berujung pada kemiskinan dan tidak mampu meningkatkan taraf hidup keluarga.

Pane santan bak on keurusong, pane gapah bak leubeng (mana ada santan pada daun kering, mana ada “lemak” pada kutu busuk). Artinya, jangan mengharapkan sesuatu yang mustahil tanpa diiringi dengan kerjas dan kerja ikhlas. Apapun yang kita dapatkan, itulah hasil kerja keras kita. Bila kerja keras terus kita galakkan dalam kehidupan, maka hasil yang kita dapatkan akan memuaskan. Juga bila kita sangat bekerja keras, maka akan menghasilkan hasil yang sangat memuaskan pula.

Cabak jaroe meuraseuki, geuhon gaki hana sapee na (tangan yang rajin akan menghasilkan, kaki yang malas akan papa). Ini menjelaskan agar kita bisa latah untuk bekerja mencari karunia Ilahi. Mereka berharap lakukan apa saja untuk mendatangkan rezki selama pekerjaan itu baik. Karena bila kaki tidak mau melangkah pasti hidup akan susah. Dalam pepatah ini mengajarkan agar kita mau menjemput rizki tidak menunggu rizki. Menggerakkan langkah kaki untuk bekerja keras akan menghasilkan apa yang mereka inginkan. Maka jangan jadi pemalas yang tidak mau melangkah. Bukankah seribu langkah di awali dari satu langkah? Tidaklah mungkin tiba-tiba jadi orang kaya tanpa usaha dan kerja keras dengan langkahan kaki pertama. 

Hal tersebut juga semakna dengan peribahasa lainnya, yakni: Tapak jak urat nari, na tajak na raseuki (kaki berjalan, otot-urat melenggang insya Allah rezeki pun dapat). Artinya dalam setiap kerja keras selalu di awali dengan satu langkah sempurna. Karena langkah merupakan modal dan tidak awal untuk mencari rizki Allah swt, tanpa diawali dari langkah maka mustahil rizki akan kita dapatkan.

Na peng na inoeng, hana peng hana inoeng (ada uang ada wanita (isteri), tidak ada uang tidak ada wanita (istri). Dalam peribahasa ini juga menegaskan bahwa, agar pemuda atau para lelaki yang masih lajang untuk bekerja keras dalam mencari rizki. Karena pernikahan yang selalu menjadi topik hangat para pemuda tidak akan bisa dilangsungkan bila tidak punya uang, baik itu untuk memberikan mahar, biaya pesta atau walimahan, dan untuk kehidupan biaya keluarga setelah pesta pernikahan. Mustahil para wanita mau menikah dengan lelaki yang tidak jelas penghasilannya, tidak jelas pekerjaannya, malas bekerja, dan tidak mau bekerja keras untuk menghidupi keluarga.

Meunyoe jeut tapeulaku boh labu jeut keu asoe kaya, tapi meunyoe hanjeut tapeulaku aneuk teungku jeut keu beulaga (jika mau berbuat maka labu bisa dijadikan serikaya, tapi kalau tidak mau berbuat maka anak ustadzpun jadi jahat). Dalam peribahasa Aceh ini juga menjelaskan tentang kerja keras dalam melakukan sesuatu. Mau berpikir jernih dan kreatif dalam melakukan sesuatu. Sehingga dengan kekreatifitasan itu akan menghasilkan hasil yang tidak diduga dan disangka-sangka. Tidak ada yang mustahil bila awalnya miskin lalu menjadi kaya dengan kerja keras, tidak ada yang mustahil bila awalnya bodoh lalu pintar dengan usaha keras. Artinya usaha keras menjadi posisi strategis dalam menggapai impian. Namun bila tidak mau berbuat dan bekerja keras, jangankan anak penjahat pasti jadi jahat, anak ustadz sekalipun juga akan menjadi penjahat, bila orangtua tidak mau mendidik anaknya dengan baik.

Peribahasa ini juga semakna dengan peribahasa yang lain, yakni: Meunan ue meunan minyeuk, meunan due meunan aneuk (bagaimana kelapa maka begitulah minyaknya, bagaimana orangtua begitulah anaknya). Dalam pepatah Betawi juga disebutkan: Kalau orangtua kalong, anak pasti nyolong, kalau orangtua copet, anak kampret. Artinya, pohon tidak jauh jatuh dari pohonnya. Bagaimana usaha orangtua mendidik anak begitulah hasil yang akan didapatkan. Jangan berharap anak akan menjadi baik, bila orangtua tidak mau bekerja keras untuk menjadikan anaknya baik. Jangan pernah berharap mendapatkan anak shalih dan shalihah, bila orangtuanya tidak mau bekerja keras untuk shalih dan shalihah. Jangan pernah mengharap anak tidak merokok, bila ayahnya merokok dan juga yang lebih ekstrem jangan pernah berharap anak mau shalat dan berbuat baik, kalau orangtua tidak pernah berusaha keras untuk menunaikan shalat dan berbuat.

 Kerja keras
Oleh karena itu, kerja keras menjadi modal tumpuan untuk mendapatkan karunia dari Allah Swt. Bahkan peribahasa-peribahasa di atas juga seiya dengan firman-firman Allah dan hadis-hadis Nabi saw untuk selalu bekerja keras dalam menggapai cita-cita. Juga sesuai dengan doa yang selalu kita panjatkan, yakni: Ya Tuhan kami berikan kami kebahagiaan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat dan jauhkan kami dari siksa azab kubur. Kebahagiaan dunia dan akhirat juga harus dicari dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas.

Dengan demikian, semangat yang ditanamkan oleh para endatu kita untuk mau bekerja keras merupakan nasihat dan petuah yang mulia yang perlu kita aplikasikan dalam kehidupan kita. Sungguh indah petuah dan nasihat mereka. Bukti kita menghormati dan berterimakasih kepada para endatu adalah kita mau mengamalkan nasihat dan petuah tersebut dalam tindakan nyata, baik kita sebagai pelajar, kita sebagai pejabat, kita sebagai akademisi, kita sebagai politisi, kita sebagai pendidik dan apapun status yang kita sandang, usaha dan kerja keras adalah hal yang paling urgen untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada keluarga, masyarakat, bangsa, negara dan agama.

* Adnan Yahya, Mahasiswa Komunikasi Islam, Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Email: adnanyahya50@yahoo.co.id

Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option
TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas