• Tribun Network
  • Login
  •  
  •  
  • Tribun JualBeli
Kamis, 31 Juli 2014
Serambi Indonesia

Berburu Koin Emas di Kota Para Raja

Rabu, 13 November 2013 08:35 WIB
Berburu Koin Emas di Kota Para Raja

AWAN mendung menggelayut di atas langit Gampong Merduati, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Perempuan setengah itu tampak tergopoh-gopoh menyusuri jalan tanggul bebatuan. Sekujur tubuh dan pakaiannya dipenuhi lumpur bercampur air asin. Saat Serambi menyapa wanita bernama Siti Hajar, warga Lampaseh, ini dia hanya tersenyum sambil memperlihatkan satu koin emas di atas telapak tangannya.

“Baru satu dapat, sudah sejak jam sembilan pagi saya di sini,” ujarnya. Siang itu jarum jam menunjukkan pukul 11.00 WIB saat Siti bergegas pulang ke rumahnya di Lampaseh. Di balik raut wajahnya yang lelah, perempuan bertubuh gempal ini ternyata menyimpan rasa senang. Ia merupakan satu di antara para pemburu koin emas di kawasan Krueng Doy (terletak antara Gampong Pande dan Merduati) yang boleh dibilang beruntung, karena mendapat 15 koin emas. Sebagian dari koin hasil temuan itu sudah ia jual ke penampung. Bahkan ada penampung yang datang langsung ke lokasi untuk membeli. Satu koin emas seukuran kancing baju bisa mencapai nilai Rp 350 ribu hingga Rp 400 ribu. Ada pula koin emas yang seukuran uang logam dibanderol di kisaran harga Rp 800 ribu.

“Semalam dapat tiga juta. Semuanya ada lima belas biji,” ujarnya. Tidak hanya Siti, kini ada ratusan pemburu koin emas lainnya yang hingga kemarin masih terus bertahan dan memadati lokasi penemuan. Warga rela berbasah-basah di dasar sungai. Wanita, lelaki, orang dewasa sampai anak-anak seolah terbius untuk mendapati koin emas yang menggiurkan itu. Masing-masing mereka membawa peralatan seperti keranjang, ember bahkan kuali. Sesekali terdengar suara riuh bila seorang menemukan koin. Lantas mereka sama-sama melihat.

 Cerita mistis
Ratusan warga terus berdatangan menyemut di sepanjang jalan tanggul di kawasan itu. Sebagian besar mengendarai sepeda motor. Mereka diliputi rasa penasaran tentang sebuah cerita penemuan koin emas peninggalan Kerajaan Aceh yang mulai heboh pertama kali sejak Senin malam (11/11) lalu. Cerita dari mulut ke mulut santer terdengar, ternyata koin emas itu pertama kali ditemukan seorang pencari tiram dalam sebuah peti. Namun, peti itu sudah ditumbuhi tiram. Lalu si penemu memecahkan peti itu dengan parang, maka berhamburanlah koin emas itu. Karena merasa panik, penemu membawa pulang. Beberapa di antaranya diperkirakan terjatuh dan berceceran dalam air. Sejak itulah Krueng Doy mulai ramai didatangi warga.

Areal lokasi warga mencari emas berupa lahan bekas sungai dan tambak warga. Di sekitar lokasi juga terdapat banyak batu nisan yang bertebaran di sejumlah sudut. Sebagain besar nisan berukuran satu meter dalam beragam bentuk itu sudah tak beraturan lagi. Ada yang sudah tumbang dan terbenam dalam lumpur. Di beberapa sudut lainnya tampak ada bukit-bukit yang tergerus air hingga menyisakan pepohonan liar dan bakau.

Di lokasi juga ditemukan peti bundar berdiameter 30 cm terbuat dari tembaga. Diduga ini merupakan peti koin emas pertama yang ditemukan. Namun sayangnya peti itu sudah rusak dan hanya meninggalkan bagian bawah dengan bekas bulatan koin terlihat jelas. Tak hanya koin emas, di lokasi itu juga ditemukan pecahan tembikar yang diperkirakan bikinan Cina.

Cerita berkah dari penemuan harta karun ini juga dirasakan Suheri (34), warga Merduati. Ia bersama ratusan warga lainnya rela berbasah-basahan di dasar sungai. Suheri mengaku sudah sejak Senin malam berada di lokasi penemuan. Ternyata usahanya tak sia-sia. Ia mendapat 15 koin emas. Sepuluh koin di antaranya sudah ia jual seharga Rp 450 ribu per satu koin. Sebagian dari uangnya disedekahkan untuk anak yatim.

“Ada lima lagi. Itu saya simpan untuk kenang-kenangan,” ujarnya. Cerita yang sama juga diungkapkan Mursalin (24), warga Lampaseh Aceh. Tidak seperti yang lain, pria ini hanya mampu mendapat empat koin.

“Hari ini saya tidak mencari lagi, karena sudah banyak orang,” ujarnya. Satu di antara koin tersebut dijadikannya sebagai kenang-kenangan. Di tengah euforia para pemburu koin emas, ternyata ada aroma mistis merebak. Sejak Senin malam yang menghebohkan itu, di sekitar lokasi penemuan warga mencium bau wangi-wangian yang terasa agak aneh. Bahkan beberapa warga merasa sakit perut pada malam hari itu. “Saya dengar begitu dari cerita orang-orang,” kata Aidil Sofian (35), seorang warga di lokasi.

Mata uang kerajaan
Tak dapat dipungkiri koin emas yang ditemukan warga tersebut merupakan peninggalan Kerajaan Aceh masa lalu. Dalam literatur sejarah raja-raja Aceh dahulu menggunakan mata uang emas sebagai transaksi jual beli ketika itu yang kemudian dikenal dengan dirham (bahasa Aceh: Deureuham). Salah satu bentuk derham yang ditemui warga di kawasan Krueng Doy Merduati, merupakan peninggalan masa kerajaan Aceh di bawah Pemerintahan Sultan Alaidin Syah Johan.

Uang ini memilik berat 0,450 gram, tebal 0,73 mm dengan garis tengah 14 mm. Dalam Buku Mata Uang Emas Kerajaan-Kerajaan di Aceh yang ditulis Prof Teuku Ibrahim Alfian, mata uang ini beredar sekitar tahun 1735-1760. Pada sisi muka terdapat tulisan arab berbunyi Alaidin Syah Johan dengan sisi belakang berbunyi Paduka Sri Sultan Al Adil. Namun, yang jelas penemuan koin emas ini menjadi fakta sejarah penting bahwa Kerajaan Aceh pada masanya pernah berjaya dan makmur. (ansari hasyim) 

Editor: bakri
Bagi apa yang Anda baca dengan teman Anda.
  | Social:    ON Social:    OFF | Option

    A PHP Error was encountered

    Severity: Warning

    Message: Invalid argument supplied for foreach()

    Filename: side/topik_populer.php

    Line Number: 11

TRIBUNnews.com © 2014 About Us Help
Atas