Mutia binti Malik: Saya akan Menjaga Ayah

SAAT Malik Mahmud Al-Haytar melangkah ke podium untuk menyampaikan pidato pengukuhannya

Mutia binti Malik: Saya akan Menjaga Ayah
Mutia binti Malik

SAAT Malik Mahmud Al-Haytar melangkah ke podium untuk menyampaikan pidato pengukuhannya sebagai Wali Nanggroe Aceh Ke-9, Senin (16/12) lalu, tiba-tiba saja seorang wanita muda nan jelita memeluk dan menciumnya. Hadirin yang memadati Gedung Utama DPRA, tempat prosesi pengukuhan berlangsung, kaget dan bertanya-tanya siapa gerangan wanita tersebut.

Publik umumnya tahu bahwa Malik sudah lama menduda sejak istrinya, Maryam Muhammad Said, meninggal tahun 1990. Lalu, siapa wanita yang berani merangkul dan mencium Malik pada hari penobatannya sebagai Wali Nanggroe itu?

Ternyata, wanita itu adalah anaknya sendiri, Mutia binti Malik Mahmud. Malik punya empat anak. Tiga lainnya adalah Zarina (menetap di Swedia), Muaz dan Bayansyah (di Singapura). Mutia pun bermukim di Singapura. Tapi dia datang khusus menghadiri pengukuhan ayah yang amat dicintainya sebagai Paduka Yang Mulia di Aceh.

Saat prosesi berlangsung, Mutia beroleh tempat duduk di bagian kursi undangan keluarga Malik Mahmud yang berdampingan dengan sejumlah tamu terhormat lainnya. Misalnya, politisi senior dan mantan menteri Pertanian Malaysia berdarah Aceh, Tun Sri Sanusi Junid, yang hadir bersama istrinya, Puan Sri Nila Inangda.

Mutia tampak begitu memesona dalam balutan jilbab modis perpaduan warna merah dan merah jambu. Ia menempati satu kursi tepat di belakang podium sang ayah, Malik Mahmud, yang berpidato untuk pertama kali setelah dikukuhkan sebagai Wali Nanggroe ke-9. Jabatan itu diperoleh Malik menggantikan posisi Wali Nanggroe ke-8, Dr Tgk Muhammad Hasan di Tiro yang meninggal pada 3 Juni 2010 di Banda Aceh.

Mutia memiliki paras cantik, mewarisi raut wajah sang ayah. Karakter Acehnya tetap menyembul meski sepanjang hayatnya hidup di Singapura.  “Saya merasa bahagia hari ini,” kata Mutia mengungkapkan perasaan hatinya saat ditanyai Serambi.

Saat itu, Mutia berada dalam barisan bersama undangan lainnya untuk memberi ucapan selamat kepada sang ayah. Dari sorot matanya yang bundar dan letik, Mutia menyimpan rasa haru begitu mendalam kepada sang ayah yang telah beralih menjadi warga negara Indonesia dan kini resmi mengemban tugas yang tidak mudah, sebagai Wali Nanggroe.

“Saya akan berusaha menjaga ayah, juga akan menjaga kesehatannya,” kata Mutia tersenyum sumringah. Bagi Mutia, selain seorang ayah, Malik Mahmud juga dianggap sebagai sosok pekerja keras yang bagai tanpa henti menyumbang tenaga dan pikirannya memperjuangkan Aceh di saat konflik sampai kemudian Aceh berdamai dalam bingkai NKRI.

“Perjuangan beliau (untuk Aceh), itu yang selalu saya ingat,” ujarnya. Mutia mengaku selama ini menetap di Singapura. Namun, setelah sang ayah dinobatkan sebagai Wali Nanggroe, Mutia akan mempertimbangkan keputusannya menetap di Aceh agar dapat menjaga ayahnya dalam menjalankan tugas sebagai Wali Nanggroe. “Insya Allah, Insya Allah,” katanya.

Itulah sosok Mutia. Kemunculannya dalam Sidang Paripurna Istimewa DPRA, Senin lalu, yang di luar skenario protokoler tiba-tiba memeluk dan mencium kedua belah pipi ayahnya, benar-benar bikin surprise. (ansari hasyim)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved