PSSB-PSAP tak Bayar Kontrak Rudi Saari

Dua tim Aceh, PSSB Bireuen dan PSAP Sigli masih menunggak pembayaran honor Rudi Saari ketika membesut kedua klub itu

MEDAN - Dua tim Aceh, PSSB Bireuen dan PSAP Sigli masih menunggak pembayaran honor Rudi Saari ketika membesut kedua klub itu. Pihak keluarga pun berharap inisiatif manajemen kedua klub untuk melunasi tunggakan yang diprediksi mencapai Rp 500 juta.

Rudi menjadi juru taktik PSSB Bireuen pada musim kompetisi 2009/2010. Informasi menyebutkan ia dijanjikan manajemen PSSB Bireuen dengan nilai kontrak Rp 250 juta. Namun hingga musim berakhir, tak sepeser pun diterima pria yang mengawali karir sepakbola di kesebelasan Sahata itu. Kala itu, PSSB dimanajeri Muhammad Zaini Yusuf.

Ironisnya, kejadian serupa terulang ketika ia membesut PSAP Sigli di musim 2012. Dari nilai kontrak Rp 250 juta yang dijanjikan, Rudi hanya menerima Rp 20 juta. Padahal ketika itu Rudi baru saja sukses mengantarkan kesebelasan Sumut meraih perak di ajang PON Riau pada 2012. Musim lalu, PSAP masih diketuai oleh Muhammad Yasin Amin.

Kini selepas Rudi wafat, suara keras pun dilontarkan pihak keluarga agar pengurus PSSB dan PSAP segera melunasi tunggakan itu. “Abang sudah memberikan kewajibannya sebagai pelatih. Kini tinggal kita tunggu kewajiban seperti apa yang akan diberikan klub,” kata adik Rudi, Iwan Saari (44) ketika ditemui di rumah duka, Jalan Rakyat, Gang Rakyat 1, Desa Tanjunganom, Pancurbatu, Deliserdang, Kamis (2/1) sore.

Iwan yang juga sempat aktif di dunia sepakbola menganggap tunggakan gaji itu sebagai utang yang wajib dibayar. Apalagi selepas Rudi meninggal dunia, utang itu sudah menjadi hak anak-anak Rudi yang sudah menyandang yatim. “Sekarang utang itu sudah jadi hak janda dan anak yatim, karena bang Rudi sudah meninggal. Jadi hukumnya wajib dilunasi,” ujar pria yang pernah melatih PS Telkom.

Tunggakan gaji itu sangat dibutuhkan keluarga almarhum karena sudah habis-habisan membayar biaya rumah sakit. Selain itu semasa hidupnya, Rudi sebagai tulang punggung perekonomian bagi istri dan ketiga anaknya.

“Sebenarnya saya tak tahu persis bagaimana teknis isi kontrak itu. Tapi dari teman-teman beliau kepada saya, ada kesan klub memang tak mau bayar,” kata dia.

Beberapa waktu lalu, Iwan mengatakan Rudi sempat bercerita kalau PSAP hanya memberinya Rp 20 juta dari nilai kontrak Rp 250 juta. Sementara PSSB sama sekali belum pernah mencairkan honor itu dengan nilai kontrak yang sama.

“Pernah pengurus PSSB menawarkan mobil sebagai ganti nilai kontrak. Tapi ditolak sama abang, karena pemain tidak dapat. Dia maunya semua anggota tim dapat gaji,” ujarnya.

Sejauh ini pihak keluarga belum pernah menagih tunggakan honor itu maupun mendapat kabar mengenai kapan tunggakan itu dibayar oleh manajemen kedua tim. Hanya saja, Iwan mengaku sudah ditelepon beberapa mantan pemain PSSB dan PSAP yang akan membantu melobi manajemen klub untuk segera melunasi tunggakan itu.(mad)

data diri
Nama  : Rudi Saari
Lahir : Medan 1 Februari 1965
Istri : Suriani (45)
Anak  :
-Riki Ardian (17)
-M Fadilah (13)
-Nisa (10)
Alamat: Jalan Rakyat, Gang Rakyat 1, Dusun 1, Desa Tanjunganom, Kecamatan Pancurbatu, Kabupaten Deliserdang

KARIER PEMAIN:
- Klub Sahata, Divisi Utama PSMS (1983-1985)
- Semen Padang, Galatama (1987-1988)
- PS Pemdasu Divisi Utama PSMS (1989-1989)
- Harimau Tapanuli dan Perstu Tapanuli Utara (1989 - 1996)
- Medan Jaya, Liga Dunhil I (1995)
- PS Tirtanadi, Divisi Utama PSMS (1997-1998)
- PSMS Medan, Piala Cakradonya di Banda Aceh (1998)
- PS Pramindo Telkom, Divisi Tiga PSMS (1989-1999)

KARIER PELATIH:
- PS Telkom (2001-2005)
- SSB Swara Naviri Pardede (2002-2003)
- Asisten Pelatih PSSI U-17 (2002-2003)
- PSMS Junior (2003-2004)
- Asisten Pelatih PSMS Senior (2006)
- PSSB Bireuen (2009)
- Pelatih PON Sumut 2012
- PSAP Sigli (2012)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved