Opini

Caleg Bergizi

PADA 25 Januari 2014, Indonesia memperingati Hari Gizi Nasional (HGN) ke 54. Peringatan ini tidak terlepas dari peran

Editor: bakri

Oleh Azhar Abdullah

PADA 25 Januari 2014, Indonesia memperingati Hari Gizi Nasional (HGN) ke 54. Peringatan ini tidak terlepas dari peran almarhum Prof. Poerwo Soedarmo yang sejak 50-an telah merintis dan memomulerkan masalah pentingnya gizi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Beliau juga yang memunculkan istilah “Empat Sehat Lima Sempurna” dalam memenuhi kebutuhan gizi. Penetapan HGN yang mulai diperingati pada 1960, didasarkan pada pendirian Sekolah Djuru Penerang Makanan (SDPM) pada 25 Januari 1951.

Tahun 2014 ini yang kerap juga disebut sebagai tahun politik, di mana para calon anggota legislatif (caleg) --baik di tingkat kabupaten/kota, provinsi maupun pusat-- akan bertarung memperebutkan ‘kursi empuk’ dalam pemilu yang akan digelar pada 9 April nanti. Jauh-jauh hari ribuan caleg dari berbagai partai politik dan calon DPD telah memperkenalkan diri lewat beragam media guna menarik simpati rakyat yang memiliki hak pilih. Sebagai orang yang akan melaksanakan fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan, anggota dewan haruslah orang-orang yang beriman, cerdas dan berbudi luhur.

 Asupan gizi
Selama ini masih banyak dijumpai oknum anggota dewan yang memiliki sifat negatif sehingga mencoreng wibawa dan kehormatan lembaga negara tersebut. Sifat jelek oknum anggota dewan dan sebagian masyarakat Indonesia lainnya, salah satunya tidak terlepas dari asupan gizi yang diperoleh sehari-hari. Status gizi masyarakat ditentukan oleh makanan yang dikonsumsi. Pola makan yang tidak seimbang mengakibatkan masalah bagi kesehatan, baik fisik maupun mental. Kekurangan asupan karbohidrat, protein, vitamin, mineral dan mikronutrisi dalam waktu lama mengakibatkan gizi buruk, begitu juga sebaliknya. Gizi seimbang ditandai dengan pola makan yang menyelaraskan berbagai kebutuhan tubuh sesuai dengan porsinya.

Riset Kesehatan Dasar 2010 menemukan rata-rata orang Indonesia kelebihan konsumsi karbohidrat (61% dari 50-60%) dan lemak (25,6% dari 25%), tapi kurang mengonsumsi protein (13,3% dari 15%) dari porsi gizi seimbang. Makan belum dianggap sempurna jika belum makan nasi, padahal kita baru saja melahap berbagai makanan sumber karbohidrat lainnya. Indonesia menjadi negara pengonsumsi beras tertinggi di dunia, yaitu mencapai 130 kg/kapita/tahun dari rata-rata dunia 60 kg/kapita/tahun. Di negara Asia lainnya konsumsi beras jauh di bawah Indonesia, misal Korea 40 kg/kapita/tahun, Jepang (50 kg), Thailand (70 kg), dan Malaysia (80 kg).

Kelebihan karbohidrat dan lemak bila tidak dibarengi dengan konsumsi sayur dan buah berakibat pada munculnya berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes, kanker, jantung atau stroke. Data International Diabetes Federation menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penderita diabetes ketujuh terbanyak di dunia. Ada 8,5 juta penderita diabetes di Indonesia dari 371 juta jiwa penderita diabetes dunia. IDF memperkirakan dua puluh tahun mendatang penderita diabetes di dunia melonjak sampai 552 juta jiwa. Di Aceh berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2007, prevalensi penderita diabetes mencapai 8,7% dari jumlah penduduk.

Jika konsumsi karbohidrat dan lemak masyarakat Indonesia berlebih, lain halnya dengan protein. Konsumsi protein masyarakat Indonesia masih dibawah standar dan tergolong rendah dibandingkan negara lainnya. Sebagai contoh konsumsi protein bersumber pangan hewani. Orang Amerika, Jepang, Inggris, dan Perancis mengonsumsi protein hewani 50-800 gram/kapita/hari. Orang Korea, Cina, Brazil, dan Filipina rata-rata 20-40 gram/kapita/hari. Sedangkan orang Indonesia, India, Bangladesh kurang dari 10 gram/kapita/hari. Rata-rata orang Indonesia hanya makan protein hewani 6 gram/kapita/hari.

Mencukupi kebutuhan protein minimal harian sebenarnya tidak terlalu sulit, kita dapat memerolehnya dari sebutir telur atau daging ayam. Telur adalah sumber protein hewani yang sangat baik bagi kesehatan, pertumbuhan, kecerdasan, dan produktifitas. Menurut The Huffington Post, telur termasuk dalam urutan pertama daftar pangan hewani yang tergolong tersehat di dunia. Penelitian terkini juga membuktikan makan telur dapat menurunkan risiko Penyakit Jantung Koroner (PJK) dengan membantu mencegah penggumpalan darah. Hasil ini membantah hasil penelitian era 70-80 an yang mengaitkan asupan kolesterol dengan peningkatan insiden PJK dan stroke serta merekomendasikan untuk membatasi makan telur (Sutawi, 2013).

Konsumsi telur masyarakat Indonesia masih di bawah negara-negara maju, bahkan dengan negeri jiran saja kita masih jauh tertinggal. Konsumsi telur orang Indonesia hanya 87 butir/kapita/tahun, masih dibawah Filipina (93 butir), Thailand (145 butir) dan Malaysia (311 butir) serta dari rata-rata dunia 150 butir. Di Aceh konsumsi telur masih dibawah rata-rata nasional. Data Diskeswannak Aceh tahun 2011 menunjukkan konsumsi telur masyarakat Aceh hanya 46 butir/kapita/tahun.

Rendahnya konsumsi protein hewani mengakibatkan perkembangan sel-sel otak tidak maksimal, tidak cerdas, perkembangan jiwa labil dan bersifat emosional, cenderung melakukan perbuatan tawuran dan merusak (Utoyo, 2012). Sutawi (2011) mengungkapkan, rendahnya konsumsi protein hewani bangsa Indonesia berpengaruh pada karakter bangsa yang sudah tidak bisa membedakan nilai (values) yang baik menurut standar logika (benar-salah), estetika (bagus-buruk), etika (layak-tidak layak), agama (dosa-haram-halal) dan hukum (sah-absah).

Sementara itu Setiawan (2013) melihat adanya benang merah antara skor Corruption Perception Index (CPI) dengan konsumsi protein (telur dan daging ayam). Merujuk pada skor CPI 2012, Indonesia berada di bawah Filipina, Thailand, dan Malaysia. Skor CPI Indonesia 32 (peringkat 118 dari 176 negara yang disurvei), Filipina 34, Thailand 37, dan Malaysia 49. Karenanya, menurut Setiawan kecukupan gizi tidak hanya untuk kesehatan fisik dan kecerdasan berpikir semata tapi juga kestabilan emosi, ketahanan mental dan kemuliaan moral.

 Nafsu konsumtif
Memenuhi kebutuhan gizi belum menjadi bagian dari gaya hidup bangsa Indonesia, termasuk orang Aceh. Sebagian besar masyarakat masih mengedepankan nafsu konsumtif dan memenuhi kebutuhan materi duniawi lainnya dibandingkan keinginan untuk sehat dan sejahtera dunia akhirat. Lihatlah bagaimana segolongan orang Aceh yang menghabiskan waktu sia-sia dengan berlama-lama di warung kopi. Ngomong broh putoh tanpa makna, seolah eksistensi dan citra diri bisa muncul dengan kongkow di cafe-cafe. Di antara golongan ini tidak sedikit yang menjadi caleg.

Kenali caleg anda sejak sekarang. Bagi caleg incumbent dapat dinilai dari kinerjanya selama menjabat. Apakah mereka selalu bersama rakyat dalam suka maupun duka atau hanya muncul menjelang Pemilu melalui janji-janji dan senyum manis yang menghiasi poster dan spanduk mereka. Bagi yang baru memulai peruntungan menjadi anggota parlemen terhormat, bisa dinilai dari kiprahnya dalam berbangsa dan bernegara selama ini. Lihat juga latar belakang pendidikan, keluarga, dan yang utama keimanan dan ketakwaannya terhadap Allah Swt.

Caleg cerdas dan berbudi luhur adalah caleg yang selalu berjuang untuk kepentingan rakyat, bukan sekadar mencari penghasilan di gedung dewan. Terlihat ada kaitan antara gizi dengan kecerdasan emosional dan kematangan intelektual seseorang. Karenanya dengan bergizi menjadikan kita sebagai manusia yang cerdas, kreatif, inovatif, produktif dan bermartabat. Bila asupan gizi sudah baik dan seimbang, maka masyarakat, para petinggi bangsa, termasuk anggota dewan tentunya bisa lebih cerdas dan kreatif dalam bekerja. Nah! Wallahu’alam.

* Azhar Abdullah, Alumnus FKH Unsyiah, Pemerhati Masalah Kesehatan Masyarakat. Email: azhardvm@gmail.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved