SerambiIndonesia/

Kajian Tasauf Diharap Menginspirasi Kehidupan

Muzakarah Tauhid Tasauf III Asia Tenggara yang sedang berlangsung di Blangpidie, Kabupaten Abdya diharapkan oleh Wakil Rektor

BANDA ACEH - Muzakarah Tauhid Tasauf III Asia Tenggara yang sedang berlangsung di Blangpidie, Kabupaten Abdya diharapkan oleh Wakil Rektor UIN Ar-Raniry, Dr H Syamsul Rijal MAg bisa menginspirasi perubahan kehidupan masyarakat.

“Tasawuf harus dipahami secara inklusif serta meluas yang dapat memengaruhi cara hidup pada setiap strata sosial, baik di kalangan pemula (rakyat awam), pemimpin, dan komunitas yang memiliki kapasitas keilmuan untuk itu,” kata Syamsul Rijal yang juga peminat sosial-keagamaan, kepada Serambi, Sabtu (7/6).

Menurut Rijal, dunia tasawuf sejatinya lebih dikaitkan sebagai literasi upaya mendekatkan diri kepada Allah. Banyak instrumen yang harus ditempuh, berawal dari istighfar, taubat, dzikrullah, sikap hidup qanah, zuhud, khauf dan raja’, sabar, tawakkal. “Instrumen itu juga dapat menjadi penggerak atau daya dorong bagi sosok pemimpin untuk istiqamah, peduli serta bersikap zuhud lebih mementingkan kehidupan umat yang dipimpinnya. Terkait dengan mereka yang memiliki konpetensi ilmu tentunya harus lebih mampu melahirkan ketauladan dalam berkehidupan akan esensi nilai kehidupan itu sendiri,” kata Syamsul Rijal.

Masuk dalam dunia tasawuf, menurut Rijal bukan menjauhkan diri dari kohesi-sosial dalam berkehidupan, tetapi nilai tasawuf harus menjadi pengikat bagi interaksi sosial kehidupan. Karena itu kehidupan personal yang individualistik dan hanya mementingkan komunitas bukan untuk umat secara keseluruhan bulanlah entitas tasawuf yang diperlukan.

Lebih lanjut dikatakan, bagi rakyat kebanyakan masuk ke dunia tasawuf harus mampu melahirkan sikap yang tasammuh menumbuhkan cinta serta kasih sayang menjunjung tinggi nilai kebenaran dan kesetaraan dalam hidup bahwa yang mulia itu adalah mereka yang taqwa.

“Bagi pemimpin saat ini mengikat diri dengan dunia tasawuf adalah bijak sehingga lahirlah sosok pemimpin yang bersikap qanaah, zuhud, sabar serta lebih mementingkan kehidupan rakyat yang dipimpin, dan tawakkal dalam mengambil setiap kebijakan untuk memajukan negeri serta kesejahteraan rakyatnya. Inilah esensi nilai tasawuf yang aplikatif yang mendesak ditransformasikan dalan berkehidupan di era modern ini,” tandasnya.

Adapun dunia tasawuf tingkat tinggi yang lebih spesfik dalam bertaqarrub kepada Allah hanyalah sebatas dimiliki oleh mereka yang pakar mendalami dunia tasawuf itu sendiri dan bukan konsumsi awam. Hal ini harus diperjelas sehingga tidak menimbulkan konflik baru dalam pemahamanan dan pemaknaan transformasi nilai agama,” ujarnya.

Menanggapi dengan ‘wali ulama’ untuk mendampingi Wali Nanggroe dalam menjalankan tugasnya, menurut Syamsul Rijal, setiap personal ulama adalah pewaris Nabi dan memiliki kewajiban moral untuk mengayomi dan memproteksi umat dan pemimpin agar tetap berada dalam jalan kebenaran.

“Terkait dengan/sebagai kelembagaan ulama sepanjang itu diperlukan tentu harus mengacu kepada mekanisme perundangan yang berlaku. Bisa saja ada ‘wali ulama’ untuk bahan kajian dengan tidak memgabaikan lembaga keulamaan yang sudah ada yang secara historis mengikat eksistensinya dalam perundangan yang ada,” demikian Wakil Rektor IAIN Ar-Raniry.(nas)

Tags
Muzakarah
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help