Ramadhan Mubarak

Menggapai Derajat Takwa

JIKA kita perhatikan di balik dari perintah Allah di bulan suci Ramadhan memiliki tujuan dan hikmat untuk pelakunya

Menggapai Derajat Takwa
Dr. H. Hafifuddin, M.Ag

Oleh Dr. H. Hafifuddin, M.Ag. Ketua STAIN Malikussaleh, Lhokseumawe

JIKA kita perhatikan di balik dari perintah Allah di bulan suci Ramadhan memiliki tujuan dan hikmat untuk pelakunya. Perintah dan larangan dalam bulan Ramadhan, menuntun pelakunya untuk menjadi manusia yang sempurna di sisi Allah Swt dan sempurna dalam kehidupan di dunia. Seperti perintah berpuasa di bulan Ramadhan, bukanlah suatu perintah yang hampa dan kosong dari makna, akan tetapi perintah puasa sesungguhnya menuntun manusia untuk dekat kepada Allah dan membentuk manusia menjadi takwa.

Sebenarnya perintah puasa itu merupakan kemurahan Allah kepada hamba-Nya yang beriman, di mana orang-orang yang berpuasa Allah akan berikan nilai lebih dan Allah sendiri yang memberikan balasan. Di antara nilai lebih tersebut adalah bagi orang berpuasa dengan baik dan sempurna akan diberikan derajat yang tinggi dan posisi yang amat mulia.

Maqam (tingkatan) yang tertinggi dan mulia di sisi Allah tidak ada lain kecuali takwa. Satu jalan untuk mendapatkan maqam takwa tersebut adalah dengan melaksanakan puasa, sebagaimana firman-Nya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu puasa sebagaimana diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Albaqarah: 183)

Jika kita tilik pengertian ayat 183 Surah Albaqarah tersebut bahwa orang-orang yang dapat melaksanakan puasa dengan benar sesuai dengan perintah syariat dan benar-benar ikhlas karena Allah Swt, maka orang tersebut akan mendapat jalan menuju takwa (muttaqin). Di samping dari itu mendirikan dan menghidupan malam Ramadhan dengan shalat malam, tadarus, zikir, dan istighfar sesungguhnya bagian penting yang tak terpisahkan dalam upaya membentuk jiwa yang takwa. Di sisi lain mampu memanfaatkan seluruh rangkaian perintah yang ada dalam bulan Ramadhan dengan baik dan sempurna niscaya orang tersebut akan mendapatkan jalan menuju maqam takwa. Tidak ada balasan bagi orang yang bertakwa kecuali surga. Karena itu, para salafussaleh selalu merindukan kehadiran bulan Ramadhan, mengintip setiap waktu untuk beribadah kepada Allah, mengisi kesunyian malam dengan zikir dan tasbih, dan mulutnya tak berhenti memuji Allah.

Mereka berebut dengan waktu setiap detik yang hadir untuk beribadah kepada Allah Swt karena setiap waktu yang tersedia dalam Ramadhan adalah kebaikan dari Allah. Hadis Nabi saw menyebutkan bahwa seandainya umat mengetahui isi yang dikandung Ramadhan, maka dia akan meminta kepada Allah bahwa sepanjang tahun itu adalah Ramadhan. Karena itu, Ramadhan memiliki rahasia bagaikan luas lautan yang terkandung intan berlian.

 Taat kepada Allah
Pertanyaannya, siapa yang mengetahui isi kandungan Ramadhan? Tidak lain yang mengetahuinya hanyalah orang yang cerdas hatinya, itulah orang yang bertakwa. Merekalah yang dapat memahami arti penting taat kepada Allah, mengikuti segala bentuk aturan, melaksanakan segala perintah Allah Swt baik sunat atau wajib yang mampu meninggalkan segala bentuk larangan baik haram maupun makruh.

Karena demikian penting sikap takwa bagi manusia, maka Alquran  mengulang kalimat takwa dan seakarnya sebanyak 258 kali, jika dihitung 258 kali itu adalah angka yang banyak menurut Alquran karena Alquran itu hanya 30 juz dan 114 surat.

Dengan demikian, kalau Alquran sudah banyak menyebut kalimat itu berarti kalimat itu merupakan kalimat penting yang harus dipahami oleh umat Islam dan diamalkan. Karena takwa itu sendiri berarti memelihara, menjaga, melindungi, hati-hati, menjauhi sesuatu, dan takut azab. Dari itu, orang yang bertakwa akan menimbulkan suatu kesadaran yang tinggi untuk melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya, serta tetap berada dalam ketaatan kepada Allah Swt secara ikhlas.

Lebih lanjut Alquran juga menyebutkan banyak keuntungan yang diperoleh orang yang bertakwa. Di antara keuntungan-keuntungan tersebut adalah: Pertama, bila seseorang hamba Allah itu bertakwa, maka kepadanya diberikan kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan yang buruk, suatu daya yang amat berguna untuk menjaga kemaslahatan umat.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help