SerambiIndonesia/

Citizen Reporter

Semarak Ma’al Hijrah di Kedah

PERTAMA kali sampai di Kedah melalui Bandara Alor Setar dan menyusuri perkampungan hanya satu yang terlintas

Semarak Ma’al Hijrah di Kedah
TEUKU FARHAN 

OLEH TEUKU FARHAN, pengurus Sekretariat Pusat Forum Silaturahmi dan Kemakmuran Masjid Serantau/Sedunia (Forsimas) melaporkan dari Kedah, Malaysia

PERTAMA kali sampai di Kedah melalui Bandara Alor Setar dan menyusuri perkampungan hanya satu yang terlintas di pikiran saya, apakah saya berada di Aceh atau Kedah? Soalnya, sepanjang perjalanan yang saya lalui sangat mirip dengan suasana di Aceh.

Asri, berbukit-bukit, berhutan, banyak pepohonan rindang, dan banyak sawah di sepanjang perjalanan, itulah pemandangan yang saya nikmati. Melihat kondisi ini saya baru mengerti apa yang disampaikan Menteri Besar Kedah dalam pidatonya “menjaga keaslian daerah”. Prinsip ini ternyata sesuai sekali dengan kondisi Kedah yang sederhana, asri, terjaga keaslian panoramanya plus masyarakatnya yang islami. Di sisi lain, saya semakin paham mengapa di Kedah ada Kampung Aceh (Yan) dan di Aceh ada Kampung Kedah.

Perayaan Tahun Baru Islam kali ini terasa berbeda karena saya merayakannya bersama saudara-saudara serumpun di Kedah, Malaysia. Di Kedah, perayaan Tahun Baru Hijrah dinamakan Ma’al Hijrah. Tahun ini puncak acaranya diselenggarakan di Gedung Dewan Seri Negeri, gedung serbaguna yang mewah milik Pemerintah Kedah.

Peserta perayaan tahun baru kali ini tambah berkesan karena dihadiri oleh berbagai ratusan utusan pemuda dan pengurus masjid dari berbagai negara yang tergabung dalam Forum Silaturahmi dan Kemakmuran Masjid Serantau/Sedunia (Forsimas) seperti Indonesia (Aceh, Jakarta, Bogor, Bandung, Cirebon, Surabaya), Thailand, Filipina, Australia, dan Hong Kong.

Acara disusun sangat rapi karena dihadiri Sultan Kedah. Pembawa acara mengingatkan para peserta untuk tidak mengaktifkan ponsel, berdiri, dan memberi hormat ketika Sultan Kedah datang.

Kepadad peserta juga disediakan sarapan pagi dan bingkisan berupa kalender Islam. Selain Sultan Kedah dan permaisuri, hadir pula jajaran Kesultanan Kedah, seperti Menteri Besar Kedah, Mukhriz Tun Mahathir yang merupakan anak dari mantan perdana menteri Malaysia, Mahathir Mohammad.

Acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Alquran oleh qari terbaik tingkat pelajar di Negeri Kedah, kemudian kata-kata sambutan oleh Pelayan Setia Usaha (Sekretaris Daerah kalau di Aceh) yang ternyata kakeknya berasal dari Bireuen. Rumah beliau di Kedah berdampingan dengan tokoh Malaysia asal Aceh, Sanusi Juneid.

Selanjutnya kata sambutan oleh Sultan Kedah, kemudian diisi dengan ceramah. Dilanjutkan dengan acara penyerahan penghargaan kepada tokoh Ma’al Hijrah. Mereka adalah dua tokoh senior yang telah berkontribusi besar bagi kemajuan Kedah. Pertama, Tuan Syech Hasan bin Arifin, Ketua Mahkamah Syar’iyah, kedua Encik Muhammad Ismail bin Abdullah sebagai penerima “tokoh saudara kita” karena ia berasal dari Thailand. Masing-masing mereka menerima uang RM 10.000 (sekitar Rp 37.500.000, 1RM = Rp 3.750) dan RM 3.000.

Selanjutnya penghargaan dibagikan kepada para pemenang berbagai lomba yang diikuti mulai anak kecil sampai orang dewasa. Di antaranya, pemenang masjid terbaik yang juara I-nya diraih Masjid Al Hana Langkawi dan mendapat hadiah uang tunai RM 5.000, lomba bercerita kisah Alquran laki-laki dan perempuan, lomba hafiz Quran, lomba kaligrafi, lomba nasyid rebana, dan lomba bahasa Arab.

Bagi saya, lomba-lomba ini sangatlah menarik karena bercorak islami dan tentunya akan memotivasi generasi muda untuk mencintai dan mengamalkan Islam dengan baik.

Semua peserta mulai anak kecil sampai orang tua diberi penghargaan berupa uang dan sertifikat dari Kerajaan Kedah. Acara pun ditutup dengan pertunjukan nasyid dengan alat musik tradisional yang dibawakan anak-anak dan remaja. Lagu-lagunya bernapaskan Islam dan diiringi oleh tarian sambil duduk bersila.

Saat selesai acara, Sultan Kedah bersama permaisuri, Menteri Besar Kedah, dan jajaran Kesultanan Kedah menyalami para peserta di sepanjang karpet merah. Tidak hanya menyalami peserta, Sultan bahkan berbincang dengan para peserta, menanyakan asal peserta. Saat menyalami saya, Sultan sempat berkata bahwa ia belum pernah pergi ke Aceh, meski sangat tertarik. Tentu saya senang mendengarnya dan berharap Sultan Kedah suatu saat menyempatkan diri berkunjung ke Aceh karena di Aceh ada Kampung Kedah. Terima kasih saudara-saudaraku di Kedah Darul Aman.
 [email penulis: mail@teukufarhan.com]

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke redaksi@serambinews.com

Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help