Muda Belia Pentaskan ‘Hikayat Negeri Musibah’

Penyair tutur Aceh, Muda Belia, mementaskan “Hikayat Negeri Musibah” di Plaza Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki

JAKARTA - Penyair tutur Aceh, Muda Belia, mementaskan  “Hikayat Negeri Musibah” di Plaza Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Selasa (9/12) malam. Pertunjukan itu sarat  kritik sosial, tersendat-sendat karena dituturkan dalam bahasa Indonesia.

Mengenakan pakaian warna hitam, dipadu songket Aceh dan selempang kain merah, Muda Belia, melengkapi pertunjukannya dengan enam buah pamflet yang ditulis di lembaran kertas kartun yang diletakkan pada enam tempat. Masing-masing lembar  berisi keterangan tentang  Presiden, Kapolri, Panglima, Wali Negara dan  Ulama.

Ia kemudian menjelaskan satu per satu fungsi dari masing-masing kursi jabatan tesebut yang dikaitan dengan munculnya beragam musibah di negeri ini. “Musibah terjadi karena masyarakat sudah meninggalkan ulama,” katanya. Ia mengatakan, banyak warga yang  pergi ke ‘orang pintar’ untuk memuluskan kinginannya. Muda Belia, adalah penerus tradisi “peugah haba” atau “bakaba” atau “dangderia” yang berkembang di masyarakat Aceh bagian selatan.  Dia baru saja pulang dari pertunjukan di Singapura dan pernah menciptakan rekor MURI dengan  berhikayat selama 26 jam di Banda Aceh tahun 2010. “Saya sejak kecil bersentuhan dengan hikayat ini,” kata Muda Belia saat menceritakan tentang kedekatannya dengan kesenian tersebut.

Tidak banyak lagi yang meneruskan tradisi tersebut.  Azhar, dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, yang hadir menyaksikan pertunjukan itu mengatakan, kesenian tersebut dulunya dipentaskan selama semalam suntuk pada saat peristiwa perkawinan atau malam ‘berinai.’ Tapi tradisi itu lambat laun berubah. Masyarakat dihibur dengan televisi dan ragam hiburan lainnnya. Di tengah situasi persaingan seperti itu, Muda Belia kemudian memilih “jalan tradisi” sebagai media ekspresinya.  “Saya berusaha setia di jalan ini sebagai pewaris tradisi lisan,” katanya.

Azhar menilai ekspresi Muda Belia tampak lebih “hidup” dengan tetap bertutur dalam bahasa Aceh. “Ada semacam kesulitaan ekspresi, kalau harus dilakukan dengan bahasa Indonesia,” katanya. Muda Bela lalu diminta memainkan cuplikan pertunjukannya dengan menggunakan bahasa Aceh ternyata jauh lebih rileks. Meski penonton tak menguasai benar bahasa yang digunakan, namun ekspresi Muda Belia kelihatan lebih hidup dibanding ia bertutur dalam bahasa Indonesia.

Muda Belia menyadari keterbatasan ekspresi tersebut dan ia merasa lebih nyaman  apabila berhikayat dalam bahasa Aceh. Berpentas di TIM Jakarta merupakan impin lama Muda Belia. Ia sudah melakukan serangkaian pertunjukan pada beberapa daerah di Indonesia, seperti Sulawesi, Jogja, Medan dan beberapa kota di Sumatera, termasuk Shang Hai China dan Singapura. “Tapi baru ini mentas di TIM Jakarta. Saya senang sekali,” kata Muda Belia yang sejak dua tahun terakhir memilih tinggal di Bakongan Aceh Selatan. Dari kecamatan itulah dia melangkah dan menghayati kesenian “peugah haba” yang mengantarnya ke banyak tempat pertunjukan. Secara khusus ia belajar seni tutur tersebut dari Zulkifli di Kecamatan Manggeng, Aceh Barat Daya  antara tahun 1986-1988.(fik).

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved