Puisi

Lubu .

di Mangarao ada yang sukar ditafsirkan orang-orang datang entah kapan

Karyu Rizkia Hasmin

di Mangarao ada yang sukar ditafsirkan
orang-orang datang  entah kapan
dan raib serupa kapas yang dikipas angin haluan

di hulu
ada yang  jatuh menyentuh bumi
serupa kelopak bunga yang luruh di masa lalu
mekar serumpun teratai di getar air. di getar waktu

ialah orang-orang Lubu
datang ke luas Rawa dari ruas negeri Champa
beranak pinak, mengembang jadi kembang.
mengeras jadi cadas. jadi riwayat di air deras

air di hulu,  ke hilir ia hanyutkan
laut ke laut, gunug ke gunung, lembah ke lembah
ke sarang jua ia pulang

kami orang-orang lubu
datang ke luas Rawa dari ruas negeri Champa
berladang di panas garang, berumah di pangkal lurah
menghilang di suatu musim. jadilah kami tuah sejarah

di Mangarao ada yang sukar ditafsirkan
orang-orang turun entah kapan
lalu gaib serupa arwah yang disentak dari badan

dahulu
ada yang rengkah di pangkal tebu
serupa manis yang dipiuh orang Lubu
remuk tandas sampai ke buku
mengalir, melaju mencapai hulu
maka menetaplah ia di Batangsumpu

(Padang, Mei 2014)

Menanam Bunga

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved