Puisi

Hujan Tanah Merah

Sisa darah yang kubawa dari tanah merah lapuk di nadi menjadi buih-buih kecemasan

Sajak-sajak

Rifdatus Sunniyah

Hujan Tanah Merah

Sisa darah yang kubawa dari tanah merah
lapuk di nadi menjadi buih-buih kecemasan
terapung-apung di samudera kelam
laut melantunkan desah, sakaratul maut

Di ujung pulau tanah yang dirajam cintanya
ada ribuan galon darah membeku
dan ribuan kemunafikan
terus membuntuti negeri ini

Di ladang-ladang di antara kemungkaran
di sungai-sungai penuh kesunyian
dan air mata

Aku ingin hujan itu datang lagi
mengubah pikiran manusia dari dungu
menghapus jejak manusia dari  sesat
menemukan arah kembali yang tepat

Kau kemanakan hati yang diisi ibumu agama
kau kemanakan kepala yang dijinakkan gurumu tabiat
kau kemanakan pagi yang disentuh telapak cahaya
terkadang, aku tak ingin lagi ada hujan di tanah merah
Ia  telah mengambil ibuku, bapakku
serta kepala-kepala saudaraku
aku benci kemunafikan ini
yang telah mengundang murka
mengutus hujan merajam negeri kami

Kau bilang hujan ini hanya sebentar, Tuhan
tapi mengapa kami semakin dungu
Kau bilang hujan ini hanya sekilas, Tuhan
tapi mengapa kami semakin sesat

Banda Aceh, 13Desember 2014

* Rifdatus Sunniyah, mahasiswa Universitas Sumatera Utara, tinggal di Aceh.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved