Puisi

Kapal Apung Besi Tua

Dipanggang matahari siang itu Hembusan angin laut gemuruh di pucuk dedaunan

Syekh Khalil Samalanga

Kapal Apung Besi Tua

Dipanggang matahari siang itu
Hembusan angin laut gemuruh di pucuk dedaunan
Kapal apung besi tua jadi saksi bisu
Mengenangkan aku pada hari itu
Hari yang dikenang orang dalam bayang ketakutan
Hari yang menjadi cerita menyeramkan

Besi tua serta selaksa ruh yang pulang
Menjadi tempat wisata riang sebagian orang
Padahal di sana ada jiwa-jiwa yang menagih doa
Ada air mata yang mesti di tumpahkan

 
10 Tahun Lalu di Tanah Ini

Di tanah ini kucari puing mimpi yang sirna
Madah cinta yang belum selesai kutafsirkan makna
Bunga-bunga kerontang di dahannya
Hilang bersama hujan air mata

Sepuluh tahunyang lalu
Di atas jembatan Krueng Aceh
Mata sedu memandang pilu
Hati menyeru kelu membisu
Hanya bisa kuteriak dalam doa kehambaanku

Dimana engkau saudaraku
Dimana engkau anak-anakku
Dimana engkau kerinduannku
Dari mana sedu-sedan itu

Sepuluh tahun yang lalu
Di atap pagar Masjid Baiturrahman
Kutatap pilu pekik jerit adik-adikku
Kuulurkan tanganku kepadamu
Rebutlah jemariku
Setidaknya kurasakan sentuhan terakhirmu
Kemana selimut yang semalam kita berebut
Kenapa engkau diam saja dalam hanyut

Sepuluh tahun yang lalu
Di Jembatan Pante Pirak
Kutatap terakhir  isteriku
Melambai tangan menagih kasih dariku yang bisu
Kemana anak kita yang tadi menyusu
Kemana ikatan janji setia padamu
Untuk apa segumpal emas kepersembahkan tanda cintaku
Kemana engkau akan menuju
Dan kutemukan kaku dalam pilu

Sepuluh tahun yang lalu
Jangan lupakan mereka yang pernah kau rindu

*Syekh Khalil Samalanga, di antara karyanya yang sudah diterbitkan adalah antologi puisi SURAT CINTA DARI ACEH (2005) dan Hikayat Prang Sabil dan Hikayat Malem Diwa. Sekarang memilih hidup sebagai teungku rangkang di Dayah Ummul Ayman Samalanga.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved