Senin, 18 Mei 2026

Citizen Reporter

Sketsa Indah Negeri Senja

MAROKO adalah negara Islam yang berada di Afrika Utara dan berbatasan langsung dengan Spanyol yang hanya dipisahkan oleh Selat Gibraltar

Tayang:
Editor: hasyim

AZHARI MULYANA, alumnus MAS Ulumul Qur’an Langsa, Mahasiswa Jurusan Islamic Studies, Faculté des Lettres et Sciences Humaines Université Hassan II, Casablanca, melaporkan dari Maroko

MAROKO adalah negara Islam yang berada di Afrika Utara dan berbatasan langsung dengan Spanyol yang hanya dipisahkan oleh Selat Gibraltar. Sampai saat ini negara dengan sebutan Maghrib (Negeri Matahari Terbenam) ini tidak begitu masyhur di kalangan masyarakat Indonesia, malah kebanyakan mereka mengira negara ini terletak di Timur Tengah seperti negara-negara Arab pada umumnya.

Berbeda dengan negara lain, Maroko sebagai negara kerajaan memiliki dua ibu kota negara, yaitu Rabat sebagai ibu kota administrasi dan Casablanca sebagai ibu kota industri. Tak heran kalau kedua kota ini terlihat lebih ramai dan padat penduduknya, sehingga membuat suhu udara keduanya sedikit lebih tinggi saat musim dingin dibandingkan kota lain disebabkan oleh polusi. Kami sering menyebut kedua kota ini sebagai “Jakarta”nya Maroko.

Menariknya, istana raja bisa kita dapati di setiap kota di Maroko, tidak seperti Indonesia yang hanya menempatkan istana presiden hanya di ibu kota negara atau tempat tertentu saja.

Casablanca yang menjadi tempat rantauan saya untuk mewujudkan impian saat ini juga memiliki keunikan tersendiri dibandingkan kota-kota lain yang berada di Maroko.

Secara etimologi ‘Casablanca’ berasal dari bahasa Prancis yang mengandung arti Rumah Putih atau Ad-darul Baidha’ (dalam bahasa Arab). Menurut pendapat sebagian masyarakat Maroko, dinamakan Casablanca karena kebanyakan gedung dan bangunan di kota ini berwarna putih, sehingga tampak lebih bersih dan rapi.

Sabtu pekan lalu saya menuju Casablanca. Dari tempat saya tinggal kotaini lumayan jauh dan harus ditempuh dengan bus kota sebagai transportasi yang sangat relevan untuk masyarakat ekonomi kelas bawah. Masing-masing nomor bus di kota ini sesuai dengan jalur yang ditujunya. Biasanya saya menumpangi bus nomor 22 untuk menuju ke kota. Bisa juga naik petit taksi (taksi kecil), namun harganya sangat tinggi untuk jarak yang jauh.

Hal ini berbeda dengan Indonesia, di mana kita bisa mengakses transportasi dengan mudah. Kalau berbicara soal sepeda motor, di Maroko tidak banyak yang memiliki kendaraan jenis ini. Toh kalaupun ada, motor di sini sudah tidak layak pakai.

Sampai di kota, terlihat begitu membekas sisa-sisa jajahan Prancis di negara ini. Bangunan, kafe, restoran, dan lainnya tampak seperti di Prancis, bahkan segala bentuk tulisan yang kita temukan menggunakan bahasa Prancis. Sedikit sekali yang berbahasa Arab. Begitu kentalnya akulturasi budaya Eropa di Maroko membuat masyarakat Maroko tidak canggung ketika diajak berkomunikasi dalam bahasa-bahasa di Eropa.

Tidak hanya itu, kabarnya bus kota yang sering saya tumpangi merupakan buangan Prancis, maka tidak heran ketika melihatnya saya teringat bus Kopaja yang pernah saya tumpangi di Jakarta karena keduanya tak jauh beda.

Casablanca merupakan kota yang paling mewah di Maroko. Saking mewahnya apa pun yang diperdagangkan di sini sangatlah mahal dibandingkan dengan di kota lain. Meski demikian, Kerajaan Maroko sangat memperhatikan masyarakatnya yang tinggal di pelosok desa atau jauh dari kota-kota besar, sehingga semakin jauh suatu daerah dari kota besar, barang yang diperjualbelikan semakin murah. Begitu juga sebaliknya, barang-barang yang diperjualbelikan di kota-kota besar seperti Lota Casa ini ternilai mahal. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan yang terjadi di Indonesia.

Di kota ini juga terdapat suq qadim (pasar tua) yang terkesan masih sangat kental aroma khas Arabnya. Mulai dari pernak-pernik khas Maroko, lukisan-lukisan Arab kuno, alat-alat musik tradisional, hingga pakaian, makanan, dan buah-buahan serta alat teknologi juga banyak diperdagangkan. Tak hanya orang Maroko, tetapi juga orang Afrika berkulit hitam banyak yang berjualan di tempat ini.

Namun, jika Anda mengunjungi pasar ini pagi hari, bakal tak Anda temukan satu orang pun yang berjualan. Karena kebiasaan orang-orang Maroko ke luar dari rumah mereka alias beraktivitas menjelang senja atau ba’da Asar.

Ketika itulah saya merasa sangat nyaman dan tenteram duduk di tengah keramaian kota yang sejuk nan indah ini. Terlebih ketika tramway (kereta lintas kota) melewati keramaian ini, menjadikan alun-alun kota ini sebagai daya tarik bagi wisatawan asing untuk mengabadikan perjalanan mereka dengan berfoto.

Dari arah lain terlihat anak-anak asyik bermain dan berlari-lari ke sana- kemari, para remaja juga tidak kalah asyiknya ketika memainkan papan skateboard mereka, orang tua pun kelihatan fresh dan santai, sebagian mereka ada yang sambil meneguk kopi di kafe-kafe merenungkan dunia, banyak orang duduk santai menikmati suasana senja.

Kebiasaan-kebiasaan seperti inilah yang membuat Negara Seribu Benteng ini dijuluki Negeri Senja.

Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskah dan fotonya serta identitas bersama foto Anda ke redaksi@serambinews.com

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved