Puisi

Jasbret pada Suatu malam

persimpangan itu mempertemukan tiga arah jalan, dek Ta satu arahnya menuju dermaga tua

Karya Halim Mubary

persimpangan itu mempertemukan tiga arah jalan, dek Ta
satu arahnya menuju dermaga tua
yang anginnya mendesirkan serpihan kenangan
tempat kau mengumpulkan akar garing
katamu, “untuk barisan sajakku yang belum usai”.
(mestinya bukan hanya sajakmu) tapi sajak kita
bukankah kalung berinisial‘v’ di lingkar lehermu
pertanda pertemuan tiga jalan yang melingkar?

sekali waktu kita pernah menaiki bukit itu, dek Ta
mengenang semua yang mampu kita kenang
bukan saja tentang orang pecinan yang lari tunggang langgang
karena ruko dan isinya dijarah dan dibakar.
kau sempat menyelamatkan seorang anak pecinan yang terpisah
dari ibunya, setelah amarah yang sesat menikam-nikam kota kita
katamu, “tangisannya sama dengan tangisan keponakanku
saat ditinggal mati oleh bundanya”.
lama setelah itu, orang pecinan yang ketakutan berlindung
di tangsi militer
karena amuk seperti petir yang menyambar
kita tak lagi berada diruang kuliah
tapi sibuk mengurus posko
memilih-milah angka dan mencaci anyir darah  
kau bertanya tentang seorang teman yang bersuara lantang
yang suaranya kerap membuat kuping penguasa terbakar  
“si pemimpi itu mungkin sudah bersama bidadari di surga,” jawabku
Kau tak menyahut, membiarkan prasangkaku ditelan riak dermaga
malam sudah tak lagi perawan, dek Ta
tapi kau masih bersandar di kursi plastik itu
sambil menyeruput jus yang kau pesan
kerlingmu mengisyaratkan luka yang kau petik
pada sebuah liang malam

* nama tempat jajanan kuliner di pusat Kota Lhokseumawe
Lhokseumawe, 2013

 
Pelajaran Hari ini

Dari tanah yang basah ini
yang kala malam matahari masih bersinar
malampaui batas lamunanmu
kau mencoba menyisir ombak yang pernah
menenggelamkan perihmu.

Seperti ular menelan ayam
sebentar kejang, lalu terjengkang
kau menceritakan kembali
luka-luka yang pernah ada
melangitkan sangkaanmu pada dua bintang

Pelajaran kita hari ini merangkai lima huruf
Menjadinya kata tanpa jeda
Seperuti kereta kuda yang dihela sapi tua
menjadi, tiga, dua, dan satu
tergantung huruf mana yang kau suka.
Bireuen, 2014

* Halim Mubary, penggiat di komunitas Rumah Inspirasi

Kunjungi juga :
www.serambinewstv.com | www.menatapaceh.com |
www.serambifm.com | www.prohaba.co |

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved