Kebun Kopi Jadi Perburuan Giok
Area perkebunan kopi rakyat di Kabupaten Aceh Tengah telah menjadi area perburuan batu giok dalam beberapa bulan
* Bongkahan Batu Pecah-pecah
TAKENGON - Area perkebunan kopi rakyat di Kabupaten Aceh Tengah telah menjadi area perburuan batu giok dalam beberapa bulan terakhir ini. Tak pelak, bongkahan batu yang berada di antara pepohonan kopi telah pecah, bahkan batu yang biasanya mengitari tanaman produktif itu telah hilang di tempatnya.
Para pemburu batu giok yang biasanya mencari di sepanjang aliran sungai atau kawasan hutan, kini merambah kebun kopi. Kondisi itu terdapat di kawasan Pantai Reduk dan sepanjang aliran sungai Wih Keruh yang berada dalam Kecamatan Linge.
“Saat ini, ada warga yang berusaha mencari batu giok di kebun kopi milik masyarakat,” jelas Agus Kasim, kata Camat Linge kepada Serambi, Senin (30/3). Dia menilai, perburuan batu giok yang telah merambah ke kebun kopi, telah menimbulkan kekhawatiran tersendiri, walau tidak semua diambil, karena sebagian bukan batu giok.
“Kami belum mengetahui dampak terhadap produktivitas kopi, bila batu-batu yang ada di areal kopi diambil, karena perlu pengkajian lebih lanjut dari pihak terkait,” terang Agus Kasim. Dia mengakui, Kecamatan Linge, merupakan kawasan perburuan batu giok, seperti di beberapa aliran sungai Kampung Lumut, Owak, Wih Keruh, Wih Supi serta di areal hutan Pantan Reduk.
“Bila sebelumnya perburuan ini dilakukan di aliran sungai dan kawasan hutan, saat ini kebun kopi juga menjadi sasaran pencarian batu giok,” ungkapnya. Dia mengungkapkan Muspika Linge telah mengeluarkan imbauan kepada masyarakat melalui aparat kampung, agar setiap masyarakat yang masuk mencari batu giok, agar melapor kepada aparat kampung.
Dia menjelaskan, dengan adanya laporan, maka setiap aktivitas perburuan giok dapat dipantau langsung oleh aparat kampung. “Kebijakan itu untuk menciptakan keamanan dan ketertiban di kampung, sehingga tidak muncul masalah di tengah-tengah masyarakat karena batu giok,” ujarnya.
Berdasarkan amatan Serambi beberapa waktu lalu yang pernah ikut menyusuri proses pencarian batu giok di kawasan hutan Gemboyah dengan melintasi perkampungan Pantan Reduk, Kecamatan Linge, hampir sebagian besar batu di sepanjang jalan menuju Sungai Weh Keruh telah pecah. Begitu juga dengan batu besar di area kopi, telah pecah dan sebagian telah diambil untuk dijual.
Seperti dilansir sebelumnya, batu giok super dengan kualitas tinggi mulai sulit didapat di pasaran Kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, meski dikenal sebagai salah satu daerah penghasil batu akik di Aceh. Dua kawasan perburuan Jagong Jeged dan Linge tetap ramai dengan orang-orang yang menyusuri sungai atau juga perbukitan.
Salah seorang pemburu batu giok di Kota Takengon, Heri kepada Serambi Sabtu (14/2) mengatakan untuk mencari batu giok berkualitas tinggi seperti solar dan bio solar mulai sulit didapat sejak dua bulan terakhir ini. Dia mengungkapkan kedua jenis itu yang beredar saat ini tidak berkualitas baik, sehingga banyak calon pembeli yang kecewa.
Berdasarkan pantauan Serambi, seiring dengan populernya batu giok sejak beberapa bulan terakhir, banyak masyarakat yang beralih profesi menjadi pencari batu giok. Bahkan, memasuki musim kemarau pada tahun ini, warga berduyun-duyun berburu batu giok ke aliran sungai yang diduga banyak menyimpan bongkahan batu mulia. Seperti di sejumlah aliran sungai di daerah Lumut, Kecamatan Linge, Sungai Gerpa Kecamatan Bintang dan beberapa anak sungai di kawasan Gemboyah, Jagong Jeged.
Salah seorang warga Kota Takengon, Ridwan yang dijumpai Serambi, Kamis (19/2) saat berada di aliran Sungai Kala Ili, Kecamatan Linge mengatakan, mencari batu giok sudah menjadi pekerjaan utama sebagian warga. Namun, bagi sebagian masyarakat, jika di hari libur, lebih memilih berwisata ke lokasi aliran sungai, sekaligus mencari batu giok.
Sementara, pasaran batu giok di Kota Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, sejak beberapa pekan terakhir ini terus melemah, seiring harga terus melambung. Bahkan, perburuan batu cincin di beberapa kawasan yang sempat ramai, kini mulai sepi, kecuali warga yang melakukan berliburan, sekaligus mencari batu di pinggiran sungai.(my)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/aceh/foto/bank/originals/pencarian-batu-giok-telah-merambah.jpg)