Opini

Perempuan Aceh dalam Sejarah

PEREMPUAN Aceh boleh berbangga pada sejarahnya, sebab suasana yang tergambar dalam syair di atas tidak

Oleh Yuni Roslaili Usman Latief

“Wanita dijajah pria sejak dulu. Dijadikan perhiasan sangkar madu...”

PEREMPUAN Aceh boleh berbangga pada sejarahnya, sebab suasana yang tergambar dalam syair di atas tidak ditemukan dalam khazanah lama masyarakatnya. Yang ada adalah sebaliknya, bahwa sejak dulu perempuan Aceh telah memiliki kedudukan yang luar biasa terhormat di tengah masyarakat.

Ada sejumlah nama-nama besar perempuan Aceh dalam sejarah. Kita mendengar nama Laksamana Malahayati (Keumalahayati), adalah seorang perempuan Aceh yang memimpin armada laut milik kerajaan oleh Sultan ‘Ala’uddin Ri’ayat Syah (1589-1604). Awalnya ia pernah ditugaskan untuk mengatur sebuah pasukan yang terdiri dari 2000 prajurit wanita-wanita janda, yang populer dengan nama Armada Inong Balee. Karena kesuksesannya dalam mengemban tugas tersebut, pada akhirnya sang sulthan mempercayainya untuk memimpin armada laut milik kerajaan dengan pangkat laksamana. Armada ini merupakan angkatan perang kerajaan Aceh yang sangat disegani kala itu.

Pada periode berikutnya, di masa Sultan Muda Ali Ri’ayat Syah V (1604-1607), dibentuk satu pasukan perempuan dengan nama Suke Kawai Istana (Resimen Pengawal Istana). Resimen ini terdiri dari Si Pai Inong (prajurit-prajurit perempuan) yang dipimpin oleh dua orang perempuan, yaitu Laksamana Leurah Ganti dan Laksamana Muda Cut Meurah Inseun. Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607- 1636), ada sosok Jenderal perempuan, bernama Jenderal Keumala Cahaya yang diberi tugas sebagai pengawal Istana dari barisan prajurit-prajurit perempuan.

Di samping mengendalikan korp tentara, kaum perempuan di Aceh juga diberi kesempatan untuk menduduki Majelis Mahkamah Rakyat. Majelis yang identik dengan lembaga perwakilan rakyat sekarang ini, pembentukannya dipelopori oleh Permaisuri Sultan Iskandar Muda, Putro Phang. Majelis ini beranggotakan 73 orang yang berasal dari mukim-mukim yang terdapat di kawasan Aceh Besar. Bahkan ada informasi menarik, yang menyebutkan bahwa di Aceh Barat ada seorang Tgk Imum perempuan yang bernama Cut Ma Fatimah.

Perempuan luar biasa
Di samping nama-nama tersebut masih terdapat sejumlah tokoh perempuan Aceh lainnya seperti Teungku Fakinah, Cut Meutia, Pocut Baren, Cut Nyak Dhien, Pocut Meurah Intan dan lain-lain. Demikian peran perempuan di Aceh dalam rentang sejarah panjang yang sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut. Peran perempuan Aceh yang luar biasa di masa lalu, tidak saja dalam lingkup kerja yang sifatnya domestik dan keperempuanan, bahkan perempuan Aceh telah pernah menjadi seorang pemimpin perang.

Selain itu, kekhasan lainnya adalah bahwa Aceh pernah dipimpin oleh empat orang perempuan secara berturut-turut selama kurang lebih 59 tahun (1641-1699). Keempat perempuan itu adalah Ratu Safiatuddin, Ratu Naqiatuddin, Ratu Zakiatuddin dan Ratu Kamalatuddin. Kebesaran sejarah perempuan Aceh, tentunya tidak boleh menjadi sekadar nostalgia. Hendaknya ada usaha-usaha sadar yang dilakukan untuk menjadikannya sebagai pelajaran berharga bagi generasi selanjutnya.

Hal ini sesuai dengan firman Allah (QS. An-Nisa’: 9), yang melarang umat ini untuk meninggalkan suatu generasi yang lemah di kemudian hari. Dan dari ayat tersebut dapat pula kita pahami bahwa mempersiapkan generasi yang kuat adalah wujud lain dari bentuk ketakwaan kita. Melemahkan posisi perempuan dan menjadikannya subordinat dari satu entitas adalah suatu kekeliruan. Sebab menghalangi kemajuan perempuan berbanding lurus dan semakna dengan menghalangi kemajuan suatu bangsa.

Konsep gender dalam Islam lebih dari sekadar mengatur keadilan gender dalam masyarakat, tetapi secara teologis mengatur pola relasi mikrokosmos (manusia), makrokosmos (alam) dan Tuhan (Murata, The Tao of Islam, 1998). Seseorang akan bisa keliru jika memaksakan pendekatan parsial dalam menganalisa pola relasi gender dalam Islam. Dalam Islam tidak ada syariat yang menunjukkan pendiskreditan terhadap satu jenis kelamin. Baik laki-laki maupun perempuan, keduanya sama berperan sebagai khalifah dan sekaligus hamba yang mesti menunaikan kewajiban. Manusia dalam hal ini dituntut untuk memperhatikan konsep keseimbangan, keserasian, keselarasan, dan keutuhan dalam memelihara hubungan sebagai umat manusia dan menjaga serta melestarikan keadaan lingkungan hidupnya (Nasaruddin Umar, Perspektif Gender dalam al-Quran, 2002).

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help