Korban Gempa Bisa Capai 10.000 Orang
Perdana Menteri Nepal, Sushil Koirala, Selasa (28/4) menyatakan korban gempa bisa mencapai 10.000 orang, jika bantuan tidak
KATHMANDU - Perdana Menteri Nepal, Sushil Koirala, Selasa (28/4) menyatakan korban gempa bisa mencapai 10.000 orang, jika bantuan tidak segera tiba dan kawasan terpencil belum terjangkau. Kantor Kementerian Dalam Negeri Nepal mengatakan jumlah korban tewas yang sudah terdata 4.682 orang dan lebih dari 9.240 orang terluka.
Badan PBB mengatakan sebanyak 8 juta warga Nepal menerima dampak gempa dan 1,4 juta di antaranya membutuhkan bantuan makanan segera. Warga Nepal yang mulai marah atas lambannya respon pemerintah mencari korban hilang terus berusaha menggali dengan tangan telanjang untuk mencari orang-orang yang mereka cintai.
“Korban tewas bisa naik sampai 10.000 orang karena informasi dari desa-desa terpencil yang terdampak gempa belum masuk,” kata Koirala kepada kantor berita Reuters. “Pemerintah telah melakukan semua yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan dan membantu,” katanya. “Ini adalah tantangan dan masa-masa sulit bagi Nepal,” katanya.
Bantuan internasional mulai berdatangan ke negara berpenduduk 28 juta itu, tiga hari setelah gempa berkekuatan 7,9 Skala Richter pada Sabtu (25/4), namun distribusi bantuan masih terhambat. Gempa terbesar yang terjadi Nepal dalam 81 tahun itu juga menyebabkan longsoran salju besar di Gunung Everest, yang menewaskan 24 pendaki dan pemandu, termasuk empat warga asing.
Semua pendaki yang terdampar di tenda-tenda di ketinggian Everest telah dievakuasi menggunakan helikopter pada Selasa, tetapi 250 orang dinyatakan hilang di Dikstrik Rasuwa, yang dekat dengan gunung Himalaya itu yang juga menjadi awal pendakian, kata Gubernur Uddhav Bhattarai.
Sedangkan di Barpak, utara Nepal, helikopter penyelamat belum mampu menjangkau kawasan itu, sehingga ratusan tentara harus berjalan kaki untuk tiba di desa terpencil itu. Tentara pemerintah juga memantau Laprak, sebuah distrik yang dikenal sebagai markas tentara Gurkha. Seorang pejabat kesehatan memperkirakan 1.600 sampai 1.700 rumah hancur.
Sekitar 3,5 jam perjalanan dari Kathmandu, Kota Sindhupalchowk diterjang longsor yang menewaskan 1.182 orang dan melukai 376 lainnya, serta masih banyak warga yang tertimbun longsor, kata pejabat lokal. “Ratusan rumah belum bisa kami jangkau,” kata Krishna Pokharel, pejabat lokal. “Bahan bakar kurang, cuaca buruk dan bantuan dari Kathmandu belum mencukupi,” tambahnya.
Selain itu, serangkaian gempa susulan, kerusakan parah akibat gempa, keriut infrastruktur dan kurangnya pendanaan memperlambat upaya penyelamatan di negara pegunungan di antara India dan Tiongkok itu. Di ibu kota Kathmandu, anak-anak muda dan keluarga korban menggali di antara reruntuhan bangunan.
“Menunggu bantuan lebih menyiksa daripada melakukannya sendiri,” kata Pradib Subba (27), yang mencari mayat dua saudaranya di reruntuhan Dharahara, menara abad ke-19 yang runtuh akibat gempa. “Tangan kami satu-satunya mesin yang kami miliki sekarang,” kata Subba, yang menjadi bagian dari warga yang mengambil bata dan potongan beton dengan wajah tertutup pakaian untuk melawan bau jenazah yang membusuk.
“Tidak ada orang pemerintah ataupun militer yang membantu kami,” katanya. Ratusan orang tewas akibat runtuhnya menara itu. Di tempat lain di lapangan kuno Durnar, kelompok anak muda bersama-sama membersihkan puing-puing kuil tua menggunakan kampak, sekop, dan tangan kosong. Beberapa polisi berdiri, mengawasi.
Hujan lebat menghambat upaya penyelamatan pada Selasa. National Disaster Response Force (NDRF) dari India, salah satu organisasi asing pertama yang tiba di Nepal untuk membantu pencarian dan penyelamatan, menyatakan penemuan penyintas dan jenazah korban akan membutuhkan waktu.
Direktur Jenderal NDRF O.P. Singh mengatakan peralatan berat tidak dapat digunakan di gang-gang sempit kota Kathmandu. “Kami harus memindahkan semua puing-puing ini, jadi itu akan membutuhkan banyak waktu... Saya kira ini akan membutuhkan berminggu-minggu,” katanya kepada saluran televisi India, NDTV, Senin malam.
Selain India, Tiongkok adalah salah satu negara pertama yang mengirim bantuan ke Nepal. Sementara pada Senin, Amerika Serikat menyatakan akan menambah bantuan ke Nepal sebesar sembilan juta dolar AS sehingga total bantuan Washington menjadi 10 juta dolar AS. Saat ini, sejumlah pesawat pengangkut milik militer Amerika Serikat dan Australia tengah disiapkan terbang menuju Nepal untuk menjalankan misi pencarian dan penyelamatan.
Sejauh ini, bantuan dari berbagai penjuru dunia mulai berdatangan. India, misalnya, mengirim beberapa pesawat yang mengangkut pasokan obat-obatan, rumah sakit bergerak, serta tim tanggap darurat berisi 40 personel.
Kemudian, Pakistan mengirim empat pesawat C-130 yang membawa rumah sakit bergerak berisi 30 ranjang, dokter-dokter umum dan spesialis, 2.000 paket makanan, 200 tenda, 600 selimut, serta regu penyelamat. Lalu, Indonesia mengirimkan bantuan uang sebesar 1 juta dolar AS, tenaga medis, tenaga SAR, hingga peralatan darurat.(ap/rtr/ant/muh)