Komite Medik: Kematian Pasien Akibat Infeksi
Sekretaris Komite Medik RSUD Nagan Raya dr Suhardan, menerangkan bahwa kematian seorang pasien bernama Nilawati (34)
* Bayi Sudah Dua Bulan Meninggal dalam Kandungan
SUKA MAKMUE - Sekretaris Komite Medik RSUD Nagan Raya dr Suhardan, menerangkan bahwa kematian seorang pasien bernama Nilawati (34) dan bayi yang dikandungnya, saat dirawat di RS tersebut, Minggu (26/4), disebabkan infeksi besar yang dialami pasien, karena bayi yang di kandungannya telah lebih dulu meninggal sekitar dua bulan sebelumnya.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan dan investigasi yang kami lakukan, kematian pasien bernama Nilawati bukan akibat pemberian injeksi (obat suntik) oleh petugas medis, melainkan akibat infeksi besar yang dialami pasien,” kata dr Suhardan, Rabu (29/4).
Keterangan ini ia sampaikan terkait protes dari keluarga pasien bernama Nilawati (34), warga kurang mampu dari Gampong Ujong Fatihah, Kecamatan Kuala, Kabupaten Nagan Raya. Pihak keluarga sebelumnya meminta RSUD Nagan Raya bertanggung jawab atas meninggalnya Nilawati usai disuntikkan obat ke tubuhnya.
Dokter Suhardan mengatakan, pasien sempat dirawat beberapa jam di RS tersebut. Saat kandungannya diperiksa, diketahui bahwa bayi di kandungannya sudah meninggal, ditandai dengan jantung yang telah berhenti berdenyut. “Kondisi bayi yang dilahirkan itu sudah tak bernyawa dan dalam keadaan membusuk,” ujarnya.
Menurut dr Suhardan, obat yang disuntikkan ke tubuh pasien merupakan obat anti infeksi. Sementara kondisi korban terus melemah. “Sebelum disuntik, pasien sudah ditangani dan tak ada prosedur yang dilanggar,” jelasnya.
Seperti diberitakan kemarin, Nilawati (34) meninggal dengan tubuh membiru, setelah disuntik oleh petugas medis usai melahirkan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nagan Raya di kawasan Ujong Fatihah, Kecamatan Kuala, Minggu (29/4).
Informasi dari keluarga korban, sebelum meninggal dunia, Nilawati mengalami lebam di sebagian tubuhnya. Pihak keluarga juga mengakui bahwa baru mengetahui bayi yang dikandungnya telah meninggal saat diperiksa di RS tersebut.
Suami Nilawati, Nyak Lah mengaku bahwa selama hamil, istrinya tidak pernah mendapat pelayanan medis baik dari bidan desa maupun petugas Puskesmas di sekitar tempat tinggalnya.
Bahkan ia mengaku pernah meminta bidan desa datang ke rumahnya untuk melihat kondisi istrinya, namun ditolak oleh bidan tersebut. “Ketika kami minta bidan untuk datang ke rumah guna memeriksa kandungan istri saya, malah ditolak dan bidan tersebut tidak mau datang,” kata Nyak Lah.(edi)