Senin, 11 Mei 2026

Polisi Tembak Senior, Kemudian Bunuh Diri

Setelah bertengkar, Briptu Suprianto Sigiro (28), Anggota Satuan Polair Polres Serdang Bedagai (Sergai) menembak mati seniornya

Tayang:
Editor: bakri
Tim identifikasi menurunkan jasad Brigadir Dedi Sofyan dan Briptu S Sigiro dari ambulans setibanya di RS Bhayangkara, Medan, Rabu (29/4). Personel Satuan Polair Polres Sergai ini dipastikan terlibat keributan menggunakan senjata api. Motif keributan ini masih didalami petugas. SERAMBI/RAHMAD WIGUNA 

MEDAN - Setelah bertengkar, Briptu Suprianto Sigiro (28), Anggota Satuan Polair Polres Serdang Bedagai (Sergai) menembak mati seniornya, Brigadir Dedi Sofyan (37), Rabu (29/4) siang. Lalu, karena panik dipergoki istri korban, pelaku langsung bunuh diri dengan menembak kepala sendiri.

Jasad keduanya ditemukan saling berdampingan di dalam rumah Dedi di Jalan Karya, Gang Masjid, Perbaungan, Sergai, sekira pukul 12.00 WIB. Dedi mengalami luka tembak di dada, sedangkan Suprianto di kepala.

Kasubbid Penmas Polda Sumut, AKBP MP Nainggolan menjelaskan bahwa kemarin siang Suprianto mendatangi Dedi dengan membawa senjata api organik SS1 V2 sambil marah-marah. Kedua bintara polisi ini kemudian terlibat keributan, sehingga berujung penembakan yang dilakukan Sigiro.

Istri Dedi, Eka Kumala Sari yang mendengar tembakan itu langsung mendatangi sumber suara. Ia histeris dan langsung memeluk jasad suaminya yang sudah bersimbah darah karena tertembak di dada.

“Melihat reaksi istri Dedi, Suprianto pun panik. Kemudian dia tembak kepalanya,” kata Nainggolan. Dari lokasi kejadian petugas menyita barang bukti senjata api laras panjang dan empat selongsong peluru. Jasad keduanya kemudian dievakuasi ke RS Bhayangkara, Medan. Namun, tim forensik belum bersedia membeberkan hasil pemeriksaannya.

Kapolres Sergai, AKBP Guntur Agung Supono mengaku belum mengetahui motif pertengkaran kedua polisi yang berujung maut itu. Sejauh ini polisi masih mendalami keterangan saksi, terutama keluarga masing-masing korban.

“Motifnya sedang diselidiki. Keterangan saksi kita kumpulkan biar persoalannya jelas,” kata Guntur. Bibi Dedi, Nuriana yang datang ke RS Brimob syok mendapati keponakannya sudah terbujur kaku. Ia tak menduga korban yang sudah memiliki empat anak itu tewas dengan cara tragis. “Anaknya baik. Tadi kami dikasih tahu jam 12, pas lagi makan. Katanya Dedi berantam di rumah,” kata Nuriana.

Mariani (56), ibu angkat bagi Dedi dan Suprianto pun tak kalah terkejut. Selama ini keduanya sangat akrab karena memang satu regu setiap berpatroli di perairan Sergai. “Setiap nunggu kapal mau patroli, orang itu berdua pasti ke rumah, karena rumah saya dekat dengan markas mereka,” kata Mariani.

Selama mengenal keduanya lebih dari lima tahun, Mariani mengaku tak pernah melihat keduanya bertengkar. Justru keduanya sangat akrab dan sering bercanda. “Mungkin sudah jalan Tuhan. Siapa yang bisa menebak,” tandasnya.

Sejauh ini ada dua versi penyebab tewasnya dua aparat hukum ini. Versi pertama, keduanya terlibat pertengkaran hingga terjadi aksi saling tembak. Sementara versi kedua menyatakan, Suprianto yang jebolan Fakultas Hukum Universitas Dharma Agung Medan menembak Dedi dari jarak dekat, kemudian dia bunuh diri.

Kapolres Serdang Bedagai AKBP Guntur belum bersedia menjawab ketika dikonfirmasi berkali-kali. Menjelang kemarin sore, jasad keduanya sudah tiba di RS Bhayangkara Medan.

Sementara Nuriana, bibi Dedi, megatakan insiden itu terjadi ketika mereka sedang makan siang. Selanjutnya mereka mendapat kabar bahwa Dedi terlibat perkelahian. “Langsung kami datangi dia. E, rupanya sudah meninggal,” kata Nuriana. (mad)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved