Citizen Reporter

Salam, Zikir, dan Traktir

Saat bertemu seorang pemuda dan menanyakan jalan, pemuda tersebut malah mengajak kami ke cafe dan traktir kami minum the dan roti

Salam, Zikir, dan Traktir
IST
Teuku Farhan 

TEUKU FARHAN,  Koordinator Masyarakat Informasi Teknologi (MIT) Aceh, Indonesia.

ADA yang menarik dari budaya salam, zikir dan traktir di Turki. Budaya ini lazim kita temui di Aceh, seperti sapaan salam masyarakat Aceh kepada orang yang ditemuinya yakni dengan cara mengangkat tangan dan ucapkan salam, begitupun dengan budaya zikir atau dalam bahasa Aceh disebut Ratep, dan budaya traktir karena dominan warga Aceh gemar ngopi di warung kopi dan biasanya saling traktir.

Saya melakukan perjalanan ke Turki melalui Kuala Lumpur menggunakan Turkish Airline. Masa tempuh dari Kuala Lumpur ke Istanbul mencapai 10 jam. Selama di udara, saya melewati sejumlah negara seperti Iran dan India.

Bagi saya Istanbul kota yang istimewa, selain pada masa lampau memiliki hubungan yang akrab dengan Aceh, Istanbul kota yang sangat Indah. Kota tujuan wisata terfavorit di dunia versi TripAdvisor 2015 yang memiliki 15 juta penduduk ini bahkan disebut-sebut negara dalam negara karena kota ini merupakan pusat perekonomian Turki dan letaknya sangat strategis diantara dua benua, Asia dan Eropa sehingga tidak mengherankan, Napoleon berkata "Andaikan dunia ini sebuah negara maka Konstantinopel (Istanbul) adalah ibukotanya".

Saat tiba di Ataturk Airport, Istanbul, saya dijemput oleh seorang pemuda Turki bernama Ahmed, yang merupakan panitia acara. Ahmed langsung menyambut kami dengan salam, "Salamun Alaykum". Ahmed lancar berbahasa inggris.

Selama tujuh hari saya di Istanbul, jarang sekali saya menemukan warga Turki yang lancar berbahasa Inggris, bahkan ada kesan mereka sedikit sentimen berbahasa Inggris, mereka sangat bangga dengan bahasanya sendiri, bahasa Turki. Sebagian ada yang bisa berbahasa Arab. Konon 40 persen bahasa Turki berasal dari bahasa Arab, beberapa kosa katanya ada yang berasal dari bahasa Arab seperti Tamam.

Saat bertemu dengan warga Turki lain, baik itu saya kenal atau tidak, mereka selalu memulai salam dan selalu mengakhiri dengan mendoakan saya dengan doa fii amanillah. Pada saat mereka memberi salam dari jarak jauh yang tidak terjangkau dengan tangan, mereka mengucapkan salam dengan cara tangan kanannya di dekapkan pada dada sebelah kanan, begitu juga saat berpisah.

Kembali lagi ke Ahmed, ada sisi menarik dari Ahmed ini, selama perjalanan menggunakan kereta api cepat, sayup-sayup saya mendengar Ahmed bershalawat kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Allahumma shalli 'ala sayyidina muhammad wa 'ala 'ali sayyidina muhammad, yang menarik, Ahmed lancar mengucapkannya tapi ketika kembali berdialog dengan saya, Ahmed kembali sulit berbicara, untuk mendengar satu kata, saya harus bersabar selama beberapa detik.

Ahmed memiliki kelebihan sulit berbicara. Itulah kekuasaan Allah yang diberikan kepada Ahmed. Saya yakin saudara baru saya ini diberikan kelebihan agar terjaga lisannya dan lebih banyak berzikir.

Saya juga memperhatikan warga Turki di dalam kereta api, mulai orang tua dan anak muda, mulutnya berkomat kamit seperti berzikir, saya juga melihat sebagian orang tua membawa tasbih kemanapun mereka pergi, pria itu tidak memakai pakaian muslim (baju koko) seperti kebanyakan budaya pakaian muslim di Indonesia.

Halaman
12
Editor: ariframdan
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help