SerambiIndonesia/

Ramadhan Mubarak

Alquran sebagai Pedoman Hidup

BEGITU banyak hikmah dan kelebihan-kelebihan yang terdapat dalam bulan Ramadhan. Satu diantaranya adalah Alquran pertama diturunkan

Alquran sebagai Pedoman Hidup
Prof. Dr. M. Hasbi Amiruddin, MA.

Prof. Dr. M. Hasbi Amiruddin, MA.
Guru Besar Fakultas Tarbiyah dan
Keguruan UIN Ar-Raniry, Banda Aceh

BEGITU banyak hikmah dan kelebihan-kelebihan yang terdapat dalam bulan Ramadhan. Satu diantaranya adalah Alquran pertama diturunkan di bulan Ramadhan. Membaca Alquran kapan saja akan mendapatkan pahala, tetapi membaca Alquran di bulan Ramadhan memiliki kelebihan sendiri. Pertama, sebagai ibadah dalam bulan Ramadhan pahalanya berlipat ganda. Kedua, karena kita baca Alquran di waktu malam, maka Alquran sendiri nanti di akhirat meminta kepada Allah agar memberi syafaat kepada siapa yang membacanya. Sebuah hadis Nabi saw yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad menyatakan bahwa Alquran meminta kepada Allah, “Ya Tuhanku aku mencegahnya tidur (karena membaca Alquran) di waktu malam, maka berikanlah syafaatku kepadanya.”

Alquran bagi orang Islam adalah pedoman hidup, sumber segala hukum yang harus diikuti dalam hidupnya. Aturan apapun dan pendapat atau fatwa ulama manapun tidak boleh bertentangan dengan Alquran. Dan jika ada perbedaan pendapat diantara umat Islam termasuk pendapat para ulama harus kembali kepada Alquran agar umat Islam tidak saling menyalahkan.

Alquran sebagai pedoman hidup memberikan petunjuk lengkap terhadap aturan-aturan hidup manusia yang dapat menciptakan kehidupan yang nyaman, bahagia dan sejahtera. Aturan yang paling inti adalah kewajiban kepada setiap individu untuk menjaga keselamatan agama, agama Allah, jiwa (nyawa), akal, keturunan, dan harta.

Dalam rangka menjaga keselamatan hal-hal tersebut kemudian dirinci penjelasannya dalam berbagai ayat. Tentang ini memang dijelaskan oleh ayat Alquran sendiri. “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk, bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda antara yang hak dengan yangn batil.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Penjelasan ayat-ayat tersebut hampir setiap hal yang dibutuhkan petunjuk oleh manusia. Misalnya bagaimana manusia hidup berkeluarga. Hal ini diatur mulai dari hubungan bersuami istri, kehidupan dengan anak-anaknya, mulai dari kewajiban mendidik sampai pada harta warisan. Bagaimana manusia agar hidup bermartabat, selain keharusan berakhlak yang baik, Alquran juga memerintahkan agar manusia belajar untuk meningkatkan kualitas hidupnya (QS. Al-Qalam: 1-5 dan Al-Mujadalah: 11).

 Tidak dibatasi
Belajar juga tidak dibatasi hanya belajar tentang bagaimana beribadah mahzah saja, tetapi semua hal yang menyangkut kerperluan hidup manusia di dunia ini. Mengenai hal ini Allah meminta agar manusia memperhatikan berbagai gejala alam agar dapat digunakan untuk keperluan hidupnya. Karena itu kita dapati berulang kali Alquran menghargai orang-orang yang suka berpikir (meneliti). Demikian juga Alquran berulang kali mempertanyakan orang-orang yang tidak mau berpikir.

Jadi untuk memahami Alquran sehingga menjadi pedoman hidup bagi kita umat Islam, tidak cukup menguasai ilmu fikih saja. Karena, begitu banyak hal-hal yang harus kita jalani dalam kehidupan kita yang memerlukan ilmu. Misalnya bagaimana agar anak-anak kita menjadi anak yang baik, kita harus mengajarkan anak kita hal-hal yang baik. Tetapi bagaimana cara kita mengajar anak yang terus berkembang mulai 0-3 tahun, 4-6 tahun dan seterusnya kita harus memiliki ilmu jiwa perkembangan. Kita harus memiliki ilmu psikologi dan metodologi mengajar yang tepat menurut perkembangan anak, dll. Kalau tidak, akan berakibat tidak normal pada masa depannya.

Baik teori maupun pengalaman bahwa mengajarkan anak-anak sangat efektif melalui permainan. Tetapi film permainan yang paling banyak diproduksi sekarang adalah oleh Barat yang tidak memiliki batas halal haram, atau bertema syirik. Kita mengatakan itu haram, tetapi film itu hadir disetiap saat di rumah-rumah kita. Kalau kita ingin menjadikan Alquran sebagai pedoman hidup umat Islam seharusnya belajar bagaimana membuat film permainan yang sesuai Alquran.

Demikian juga Alquran sudah mengatakan riba itu haram. Riba ini ada dalam praktek kehidupan ekonomi. Bagaimana agar kita tidak terjebak hidup dalam dunia riba, kita harus menguasai ilmu ekonomi, sehingga kita dapat menciptakan suatu sistem dan praktik ekonomi yang tidak ribawi. Kalau tidak, kita hanya dapat mengatakan itu riba dan haram, tetapi kita makan juga. Misalnya ada fatwa bahwa bunga bank itu riba, credit card haram, tetapi hampir tidak ada umat manusia sekarang termasuk umat Islam, yang dapat melepaskan diri dari dunia perbankkan, termasuk menggunakan credit card.

Beberapa tahun yang lalu umat Islam diributkan dengan vaksin yang berasal dari unsur babi. Tetapi kita tidak dibenarkan naik haji tanpa divaksin. Seharusnya umat Islam memiliki ilmu tersendiri bagaimana membuat vaksin yang halal. Jangan hanya bisa mengatakan haram, tapi tidak ada jalan keluarnya.

 Menguasai seni
Demikian juga bagaimana agar hidup kita menjadi indah, umat Islam harus ada yang mampu mengusai ilmu seni. Sehingga hidup tidak kaku dan menoton. Hal ini dapat kita lihat dalam sejarah Islam betapa ulama Islam pada masa lalu telah melahirkan berbagai keindahan yang mengagumkan. Tidak hanya seni bangunan, tetapi juga hasil cetakan kitab-kitab yang bertulisan kaligrafi indah dan syair-syair seperti syair yang didendangkan oleh Imam Syafii.

Hal yang paling penting lagi adalah ketika Alquran telah disepakati sebagai pedoman hidup umat Islam, maka semua hal dalam kehidupan umat Islam harus menjadikan Alquran sebagai pedomannya. Termasuk, ketika ada perbedaan pendapat di kalangan umat Islam sendiri dalam menerjemahkan Alquran dan hadis Nabi, termasuk dalam hal hukum fikih, kita harus kembali kepada Alquran.

Alquran sendiri memesankan, jika terjadi perbedaan diantara kamu maka kembalilah kepada Allah (Alquran) dan Rasul (hadis). Paling tidak pesan Alquran “agar umat Islam bersatu dan jangan berpecah belah” (Ali Imran: 103) dan “sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara” (QS. Al-Hujurat: 10). (email: hasbi_amiruddin@yahoo.com)

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help