Cerpen

Beberapa Siti

SUDAH entah berapa kali Ramadan lintang lalang dalam kehidupan kami; sudah entah berapa kali daun ketapang

Karya Nazar Shah Alam

SUDAH entah berapa kali Ramadan lintang lalang dalam kehidupan kami; sudah entah berapa kali daun ketapang di halaman rumah itu gundul dan berdaun lagi; sudah entah berapa kali jalan setapak yang mengular di depan pagar bambu rumah ini diusap ampas aspal, menghitam, dan berbatu debu lagi, Siti-siti di rumah ini belum juga kembali.

1

Dia pernah bertemu dengan Latifah, seorang ibu tua bangka dari kampung kami yang mencari anaknya di kota. Anak ibu itu konon durhaka. Latifah pulang dengan air mata dan tetangga mengerubunginya, kecuali ibu. Baru setelah Latifah reda dari tangis, ia mengunjungi ibu, lalu memberi tahu kami sedikit kabar tentang salah satu Siti, yang kebetulan satu kota dengan anaknya.

“Bajunya mewah, bahasanya sefasih orang kota. Dia sudah tidak lagi seperti kita,” kisah Latifah diperkuat anggukan oleh Riyani - mantan pacar anak durhakanya. “Di tangannya, Makcik, tak kurang lima mayam emas melingkar. Cuma badannya sedikit gendut sudah. Barangkali sebab makan pupuk kota,” tambah Riyani mengundang kikik kami semua. Kecuali ibu.

Ibu menangis setiap nama Siti disebutkan. Dia tidak mampu menahan amuk rindu dendam. Rindu seorang ibu. Siti di kota, saudara, adalah satu-satunya yang ibu harapkan menjadi cahaya.

“Saat dia lahir, bapakmu pulang dari kehilangannya. Itu tiga tahun setelah bapak dikabarkan mati tanpa pusara. Kami padahal sudah bikin kenduri kematian untuk bapakmu dari satu, tujuh, empat belas, empat puluh, hingga seratus. Hampir saja ibu tak percaya yang pulang bapak itu bapakmu,” ibu mengenang. Biji matanya yang disua cahaya pelita berkilat-kilat.

“Siti lahir setelah tiga tahun bapak tak pulang? Jadi dia…”

“Dugaanmu menyakiti perasaan ibu, Siti!” hardik ibu membuatku mati nyali.

Mengapa pergi Siti, mengapa belum kembali? Bertahun-tahun ibu menyimpan kesumat dalam tubuh kurus dan pikiran yang getir. Tak pernah tuntas ia kisahkan perihal menghilangnya Siti, kecuali barangkali sebentar lagi.

Halaman
1234
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved