Cerpen

Kesaksian Rumah Kosong

RUDI bukan satu-satunya pengguna narkoba yang tertangkap polisi pada saat penggerebekan di rumah

Karya Awaludin Arifin

RUDI bukan satu-satunya pengguna narkoba yang tertangkap polisi pada saat penggerebekan di rumah kosong itu. Menurut pihak keamanan, ada sekitar lima belasan pemakai. Tapi, hanya tiga orang yang tertangkap. Dia, Budi, dan Suryadi. “Di mana kau sembunyikan barang itu?” tangan polisi itu melayang kembali ke mukanya. Rudi tertunduk. “Tidak tahu Pak.Aku tidak tahu.”

“Tidak mungkin! Kami sudah lama mengintip kalian. Aku melihat plastik hitam itu ada di tanganmu. Di mana, katakan?” tangan polisi itu kembali menghantam mukanya. “Sumpah Pak aku tidak tahu.Aku baru sampai dan belum sempat memakai barang itu sewaktu polisi datang. Sumpah Pak. Sumpah!”

Rudi mengangkat kepalanya. Wajahnya lembam.Ada sedikit benjolan merah kehitaman di jidatnya.Mata kanannya membengkak. Dari hidungnya keluar darah. Malam kelam pekat hanya ada dua bintang di langit. Sesekali terdengar suara kendaraan bermotor melintas. Belasan polisi berjejer dengan senjata lengkap, sebagain berpakaian dinas, sementara lain layaknya preman. Dan ada yang bertopeng. Polisi yang menangkap Rudi terlihat duduk di atas meja kerja, sesekali ia berbincang dengan anggota lainnya. Rudi tidak begitu tahu pasti apa yang diperbincangkan karena suara mereka kian samar terdengar.

Mungkin si polisi itu meminta anggotanya melepaskan Rudi.Karena Rudi masih ingat, saat ditangkap, tidak ada barang bukti di tangannya. Beberapa polisi keluar dari ruang berukuran kecil dan menghampiri Rudi. “Bohong kau!Di mana kau simpan selain dalam tas ransel ini?Jujur kau!” tangan polisi itu meraih bagian depan baju Rudi dan mengangkatnya. Rudi menggelengkan kepalanya.Beberapa polisi lain datang menghantam perutnya, mukanya, badannya.

Rudi pitam, terduduk, dan perlahan tubuhnya tergeletak di atas lantai berkeramik putih. Pandangannya samar-samar kabur, berkunang-kunang menatapi polisi yang siaga berjaga, beberapa polisi mengangkatnya pada suatu tempat, dan pada saat itu ia mulai kehilangan kesadarannya.

***

Memasuki bulan Juni, musim panas tahun ini diperkirakan akan berakhir di penghujung Agustus.Berarti masih tersisa dua atau tiga bulan lagi. Sawah mengering, rumput-rumput yang biasanya tebal lebat hijaukini berubah kecokelatandan menipis. Sapi-sapi itu tidak peduli seberapa besar gizi yang dikandung rumput-rumput itu pada saat kemarau, tapi mereka tetap lahap menyantapnya.

Rudi tidak memiliki cukup akal menyiasati benih padi yang telah ditanaminya. Menarik air dengan mesin dari parit, tidak mungkin sebab parit juga tidak berair; membuat sumur bor darurat mustahil, karena biayanya tinggi. Lagipula uangnya sudah habis digunakan untuk uang muka membeli sepeda motor kredit.

Rudi dan petani lainnya tidak punya banyak pilihan, baru memasuki bulan ketiga musim kemarau kekeringan sudah menjadi permasalahan besar di kampungnya. Syukur ia punya sebuah gubuk kecil tempat ia berteduh menghindari udara panas.

Halaman
1234
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved