Cerpen

Jembatan dan Kenangan-Kenangan

BERPULUH tahun kemudian ia akan ingat, ia pernah menikmati malam yang indah di jembatan ini

Karya May Yusra Soelaiman

BERPULUH tahun kemudian ia akan ingat, ia pernah menikmati malam yang indah di jembatan ini. Laut malam yang tenang mengirimkan gigil yang menggemeletukkan tulang-tulang, angin berpusar sekitarnya seolah mengepung dari berbagai penjuru. Dalam gelap yang sembab oleh cuaca, ia melihat rumah-rumah panggung penduduk berjejer rapi di pinggiran pantai. Lampunya berpendar pada gelombang air pasang yang beringsut digoyang angin. Menciptakan lilin-lilin imaji dalam pikirannya. Ya, ia seperti melihat ratusan lilin mengelilingi bukit rimbun jauh di belakangnya. Tampak puncak Gunung Datok menjulang ke langit. Ia ingat kunang-kunang yang bercahaya sepanjang malam di kebun belakang rumahnya yang ditumbuhi jagung muda. Ia sedang merindukan rumahnya saat itu, tapi berpuluh tahun kemudian ia juga merindukan malam di tepi jembatan itu. Dari tempatnya duduk, lampu perahu nelayan berkedip dalam kelam. Bulan sedang tak singgah malam itu. Ia kurung badannya dengan dua tangan yang melingkari tubuh. Jaket tebalnya tak mampu mengusir dingin yang menusuk.

“Apakah kita akan lupa malam ini ketika suatu hari tak di sini?” ia melempar pandang pada seorang teman di sisinya. Perempuan itu tersenyum sebentar, mengira-ngira bagaimana suatu hari nanti. “Bagaimana bisa? Di sini begitu damai, indah. Bahkan dalam gelap sekalipun.”

“Beginikah surga di malam hari?”

Temannya tidak menjawab, malah tertawa. Ia melihat sekitar. Merasa-rasa bagaimana kerinduan yang akan melandanya bertahun-tahun kemudian. Pulau Berhala di hadapannya tampak gulita dengan pohonan besar dan batu-batu raksasa yang melindunginya. Oleh penduduk, dibagi pulau itu menjadi dua. Di bagian kiri pulau dibangun pelabuhan Feri antarpulau ke ibu kota provinsi dan kabupaten. Sedangkan di sisi kanan terdapat dermaga yang biasa disinggahi kapal Pelni Trigas dan Gunung Bintan. Untuk sampai ke dermaga dan pelabuhan, di tengah-tengah Pulau Berhala dibangunlah jalan dan jembatan. Jembatan dari semen itu menyambung dari pinggir jalan perkampungan ke arah laut, dibangun di atas tiang-tiang yang kokoh. Di bawahnya, laut yang jernih seolah bisa menembus pandangan hingga ke dasar yang paling dalam. Laut menjadi cermin ajaib ketika ditimpa cahaya, tampak ikan-ikan dengan berbagai jenis semarak kegirangan di antara terumbu karang.

Jembatan yang sedang ia duduki saat itu ialah jembatan panjang yang dibangun itu. Mereka menyebutnya Semen Panjang Berhala, karena panjang dan dibuat dari semen. Setiap menjelang sore, jembatan itu ramai dilalui orang-orang. Berpasang-pasang suami istri dengan anak-anak mereka, remaja yang jatuh cinta dan tertawa cekikikan di atas sepeda motor, anak-anak perempuan dengan rambut panjang tergerai berkibar ditiup angin, kanak-kanak bersepeda, laki-laki dengan kaos dan keringat yang bersimbah karena olahraga. Di bawah jembatan, beberapa anak berlatih renang dengan bebas di laut. Setelah waktumagrib usai, berderetlah para lelaki di bibir jembatanbersama joran dan alat pancingnya, bersiap memancing ikan. Tak jarang mereka membawa serta anak istri mereka ketika malam-malam libur.

Ia bukan tak senang dengan keramaian, tapi ia merasa damai ketika duduk jauh dari mereka dan bising anak-anak yang menyanyi dengan gitar digejreng di pinggir pelabuhan. Meskipun ketika ia lewat, anak-anak itu akan menegurnya sopan sembari menundukkan kepala sedikit rendah. Tapi tak jarang, ia menghabiskan sore bersama mereka. Menunggu sampai matahari mangkat dari langit di sebalik Pulau Tulai yang behadap-hadapan dengan Pulau Berhala hingga menyisakan merah saga. Saat itu, ia selalu merasa sangat dekat dengan langit, dengan Pencipta.

Ia selalu datang dengan teman yang sama setiap kali ke jembatan itu. Temannya, mereka bertemu di kapal ketika ia hendak turun. Seperti beberapa pendatang yang lain, ia masih asing dengan tempat yang ia singgahi. Mereka saling mengenalkan diri, lalu memilih tinggal bersama di rumah yang disewakan warga. Ada beberapa teman yang lain, tapi ia merasa hanya dengannya ia nyaman. Barangkali karena usia mereka hanya terpaut dua tahun. Temannya tak akan bertanya kenapa ia ingin ke sana. Kenapa harus malam ketika dingin angin membuat kulit menjadi kisut. Mereka bisa sama-sama menikmati kesunyian yang mereka ciptakan sendiri, kecuali jika mereka memang ingin bercerita, bergantian satu sama lain sambil menikmati otak-otak hangat atau nasi goreng dalam kotak makan.

Malam itu, ia datang dan duduk di pinggir jembatan panjang itu hanya untuk mengenang bagaimana ia akan mengingat kenangan itu baik-baik dalam kepalanya. Ia ingin hafal aroma asin laut yang mampir di penciumannya hingga lekat pada pakaiannya. Dingin pada pucuk hidungnya. Gigil jari-jari kakinya yang terayun lemah ke arah air. Kelip-kelip lampu perahu yang jauh. Dan langit yang seolah hanya puluhan meter dari puncak kepala. Ia simpan baik-baik dalam ingatannya.

“Kau tahu, aku sangat bersyukur dengan jalan hidup yang digariskan Tuhan untukku. Bahkan sampai saat sekarang.”

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved