Cerpen

Negeri yang Tenggelam

SIANG itu adalah hari yang menyengat ketika aku mendapati diriku di atas balok kayu seukuran semeter, tanpa sehelai pakaian

Karya Nasrullah Thaleb

SIANG itu adalah hari yang menyengat ketika aku mendapati diriku di atas balok kayu seukuran semeter, tanpa sehelai pakaian pun yang melekat di tubuhku. Aku tidak tahu, kapan celana jin-ku tanggal dan kemejaku terlepas. Semuanya terjadi tanpa kusadari, seperti sebuah mimpi. Begitu aku membuka mata, tiba-tiba saja aku sudah terdampar di tengah lautan dalam keadaan begini, terombang-ambing tak tentu arah layaknya setitik noda di hamparan luas lautan.

Hari apa ini? Kenapa aku berada di tengah lautan? Aku masih tercenung memandangi lautan, kenapa tidak ada ombak atau riak-riak kecil? “Hmm..,” aku berguman. Tempat apa ini? Tidak terlihat daratan sama sekali?” tanyaku dalam hati.

Aku mendongak, memandangi langit dengan sinar matahari yang sangat terik. Cahayanya berkilau menentang mataku. Langit terlihat sangat biru, tak ada seekor camar pun yang terbang melintas, senyap, hanya suara gemericik air yang terdengar.Pandanganku silau oleh pancaran matahari, lantas berkunang-kunang begitu kualihkan ke arah lain.

“Oh!” desahku.

Aku meletakkan tangan kananku di dahi membentuk ujung topi.Dua bulir keringat meleleh melintasi keningku yang hitam. Mataku yang terpicing, namun aku berusaha membukanya agar lebih jelas memandang segala penjuru, arah di sekelilingku. Aku berharap bisa menemukan sesuatu yang bisa membuatku lega.Tak ada kapal melintas, juga tak tampak sebuah perahu pun, bahkan tak ada setitik nokhtah yang membentuk; selain dirikusendiri. Aku kebingungan ke mana arah pasti aku mendayung balok kayu ini? Atau membiarkan saja ia mengapung mengikuti arah angin.Aku ibarat musafir yang tersesat di jalan tanpa tempat bertanya, yang terlihat hanyalah langit yang melengkung.

“Apa iya negeri ini sudah tamat?”Batinku, namun aku yakin ada negeri lain yang masih ada kehidupan. Aku mencoba mengayuh balok yang menghayutkanku sambil duduk serupa seorang nelayan linglungdi tengah lautan.Tiba-tiba terdengar guntur menggelegar di angkasa seperti suara malaikat yang sedang murka. Aku tersungkur karena terkejut ketakutan yang seketika membuat tangan dan kakiku sedingin es.

Karena panik aku berteriak, meminta tolong. Aku berharap ada yang mendengarkanku.

“Oh Tuhan ampunilah hambamu! Engkau yang mahakuasa atas segalanya selamatkanlah aku, aku akan bertaubat kepada-Mu. Aku adalah orang bodoh yang telah melenceng dalam hidup, piawai dalam tipu-menipu dan kerapberlaku kasar pada saudara-saudaraku. Hari ini aku mengaku menyesal,Tuhan ampunilah aku,” aku meratap. Setelah itu suasana kembali hening. Aku melongok ke depan dan ke belakang, senyap tak ada yang berubah, aku masih di tengah laut yang hampa. Dengan hati berdebar aku memberanikan diri mendongak ke atas, menyaksikan awan yang semula biru membaur dengan kabut hitam. Langit tinggi itu tiba-tiba saja mengeluarkan kilatan petir yang menyambar laksana mata pedang yang terhunus ingin mencincang tubuhku.

Sekuat tenaga aku mengayuh balok itu dengan kedua tanganku yang telanjang, bermaksud kabur dan balok itu pun bergerak dengan cepat, berputar-putar ditempat semula. Akhirnya ketika lelah, aku kembali tersungkur diatas balok basah itu,sia-sia danputus asa. Matahari telah condong melewati kepala, aku masih terombang-ambing, hanyut seperti sampah. Tidak ada tempat bernaung disini.Aku juga tidak bisa mengelak ketika matahari membakar tubuhku menjadikan kulitku semakin legam. Aku telah pasrah.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved