Cerpen

Rumah yang Paling Dirindukan

SEJAK pagi sudah lima kali ibu bolak-balik ke kamar mandi, mual dan muntah seperti tidak ada habisnya

Karya Muhira Assegaf

Bulan ke-1
SEJAK pagi sudah lima kali ibu bolak-balik ke kamar mandi, mual dan muntah seperti tidak ada habisnya. Nafsu makan pun tidak ada. Rasanya semua makanan hambar. Tapi, Nak, ibu tak boleh begitu, kan? Ayahmu bilang, ibu harus kuat dan harus tetap makan. Ibu makan apapun, walaupun pada akhirnya sebagiannya harus dikeluarkan lagi. Nak, ibu akan baik-baik saja untuk kita berdua.

Bulan ke-2
Masih cerita yang sama, setiap pagi bolak-balik ke kamar mandi. Ayah bilang, ibu harus berkonsultasi pada bidan atau dokter kandungan. Ayahmu khawatir sekali pada kita. Tapi, ibu percaya kita sama-sama kuat. Ibu terus berdoa pada Allah supaya kamu dan aku baik-baik saja.
Kamu tahu, Nak? Ibu mulai ngidam. Sama seperti ibu-ibu lainnya, keinginan makan ibumu ini pun semakin bertambah. Pernah suatu siang ibu ingin dibelikan rambutan, padahal belum musimnya. Ibu tidak bercerita pada ayahmu, biar ayahmu tidak susah mencarikan keinginan ibu yang mengada-ada ini. Akhirnya, ibu memutuskan untuk ke supermarket dan membeli rambutan kalengan. Rasanya tidak sesegar buah aslinya, dan jelas saja ibu tidak memakannya banyak-banyak. Kau tahu, Nak, rambutan kalengan banyak pengawetnya dan ibu tidak ingin meracuni diri kita berdua.

Bulan ke-3
Berat badan ibu di timbangan naik! Kamu sudah besar, Nak. Ibu bahagia sekali. Bu Bidan bilang, kau sudah tumbuh semakin besar di dalam perut ibu. Ibu terus menerus mengelusmu dari luar agar kau tahu bahwa ibu sangat-sangat-sangat dan sangat bahagia menunggumu. Anakku, ibu berjanji akan menjagamu, akan terus memberikan nutrisi terbaik untukmu. Bidan juga berpesan agar ibu tidak terlalu lelah bekerja. Tapi, kamu tahu, Nak? Ayahmu sedang kesulitan. Kantor tempat ayahmu bekerja sedang mengalami krisis keuangan, bahkan beberapa pekerja sudah ada yang di PHK. Tapi syukurlah ayahmu termasuk pegawai senior dan yang paling berpengalaman di kantornya sehingga ia tidak masuk ke dalam daftar yang diberhentikan itu. Nak, harusnya ibu membantu ayahmu mencari uang saja, kan? Nanti ibu bicarakan dulu dengan ayahmu.

Bulan ke-4
Nak, maafkan ibumu yang ceroboh ini. Hari ini adalah hari terburuk yang pernah ibu alami bersamamu. Maafkan ibu. Ibu tidak bermaksud melakukan itu padamu. Ibu hanya ingin membantu ayahmu mencari uang dengan cara berjualan kue. Ibu sedih sekali saat melihat tetes-tetes darah meluncur hingga ke mata kaki ibu tadi. Ibu ketakukan, kesakitan. Kamu pun pasti merasakan sakit yang sama. Tapi sungguh, ibu tidak bermaksud menyakitimu, Nak. Sama sekali tidak.
Ibu kasihan melihat ayahmu banting tulang mengumpulkan uang untuk biaya persalinan dan untuk memenuhi kebutuhan kita. Wajah ayahmu semakin lelah, badannya semakin ceking dan kantung matanya luar biasa hitam. Ibu ingin meringankan sedikit beban ayahmu, hanya itu. Tapi ternyata ibu malah membuatnya semakin khawatir.
Nak, ibu tidak akan mengulangi hal ini lagi. Ibu juga sudah berjanji pada ayahmu. Dokter pun sudah mengingatkan ibu agar tidak melakukan hal-hal berat lagi, jangan banyak pikiran pula. Ibu bersyukur kau baik-baik saja dan tadi itu hanya perdarahan biasa. Bagi ibu, asalkan kau dapat selamat, jika harus menghadapi luka dan mati pun, ibu akan hadapi.
Nak, berjanjilah kau akan kuat dan akan menguatkan ibu. Kita hadapi ini bersama-sama, ya. Ibu sayang sekali padamu.

Bulan ke-5
Tebak bagaimana bentuk ibumu sekarang? Seperti badut! Tapi, ibu senang sekali, Nak. Sekarang perut ibu semakin membesar dan kau pun bertumbuh dalam perut ibu dengan sehat. Ayahmu terus menerus mengajak ibu untuk ke dokter kandungan dan memeriksakan jenis kelaminmu dengan alat bernama USG. Kau tahu, Nak, ibu tak ingin tahu soal itu. Bagi ibu, apapun yang diberikan Tuhan adalah kejutan. Biar ayah dan ibu, biar kakek dan nenek, biar para tetangga, dan semua orang terus menebak-nebak apa yang akan dihadiahkan Tuhan pada ibu kelak. Kau boleh jadi anak laki-laki, kau boleh jadi anak perempuan. Ibu tak masalah. Asalkan kelak kau lahir dengan selamat, sehat dan sempurna. Ingat, ibu sayang padamu!

Bulan ke-6
Nenek dan kakekmu datang berkunjung. Ibu mendapatkan banyak makanan lezat dari nenekmu. Kau juga dapat merasakannya, kan? Nenekmu bilang, sayur-sayuran dan buah-buahan yang dibawanya dari kampung sebagian adalah hasil panen dari kebun para tetangganya. Semuanya segar-segar dan matang sempurna! Ibu yakin kalau makan sayur dan buah-buahan sesegar ini akan baik untuk pertumbuhanmu. Sayang sekali, di kota jarang ada buah-buahan segar yang bebas pestisida, kan? Tapi ibumu ini kan pintar, Nak. Ibu hanya membeli buah-buahan di pasar tradisional dan dijamin hanya menggunakan pupuk kompos dan bebas pestisida. Kamu akan tetap terjaga dengan baik, Nak. Ibu sayang kamu. Sangat sayang.

Bulan ke-7
Menuju tiga bulan menjelang persalinan, rasanya ibu tidak percaya. Waktu seperti semakin melambat saja. Ibu terus menerus menghitung hari. Pagi hingga petang, petang menjemput malam, dan malam berganti pagi. Tapi rasanya semua hal itu berlangsung lama sekali, seperti satu hari menjadi lebih dari 24 jam. Ibu lelah menunggu bulan ke-9.
Tapi hari ini kesedihan ibu menghitung hari demi hari sedikit terobati. Kau tahu, Nak? Ayahmu, nenek dan kakekmu membuat acara syukuran tujuh bulanan untuk kita. Beberapa anak yatim diundang ke rumah kita untuk makan siang bersama serta berdoa bersama. Sanak saudara berdatangan dari kampung halaman ayah dan ibumu. Teman-teman ayah, teman-teman ibu dan para tetangga pun datang membawakan banyak doa-doa untuk kita berdua. Ibu yakin doa-doa mereka dipeluk erat-erat oleh para malaikat dan dibawa ke langit menuju Tuhan. Bisakah kau mendengarkan doa mereka, Anakku?

Bulan ke -8
Kamu membuat ibumu menangis, Nak! Menangis kencang sekali sampai ayahmu khawatir dan panik bukan kepalang. Tadi pagi, selepas salat subuh, saat sedang berzikir, ibu merasakan sesuatu bergerak di perut ibu. Ibu pikir ibu kelaparan. Tapi, rasanya gerakan itu seperti menembus permukaan kulit ibu. Ibu letakkan tangan ibu di perut dan kejutan! Itu kamu yang bergerak-gerak dari dalam dan menendang hingga terasa ke permukaan kulit perut ibu. Ibu menangis dan memanggil ayahmu yang sedang memanaskan air di dapur. Ia khawatir sekali. Ayahmu pikir ibu kesakitan, tapi setelah ibu ceritakan pasal kau menendang-nendang perut ibu dari dalam, ayahmu tertawa dan ikut meletakkan telapak tangannya dan merasakan kakimu bermain-main di dalam sana. Ayahmu bilang tendanganmu mengalahkan atlet taekwondo, ibu tertawa geli sekali. Kamu membuat hari-hari kami semakin berwarna, Nak. Dan hari ini ayahmu tak bisa berbohong, ia pun senang sekali sampai matanya berkaca-kaca. Kami sayang padamu, Nak! Sayang sekali.

Bulan ke-9
Kamu tahu ibu sedang berada dimana? Di rumah sakit! Dokter bilang, malam ibu harus menginap di rumah sakit karena sudah mulai ada tanda-tanda bahwa kau akan segera meluncur keluar dari dalam perut ibu. Ibu menyempatkan diri untuk menyelipkan buku harian ini ke dalam tas baju yang sedang dijinjing oleh ayahmu saat di depan teras rumah tadi. Biar ibu tidak lupa bahwa ibu pernah menulis di rumah sakit, beberapa jam sebelum persalinan.
Nak, ibu sedikit takut. Ini pengalaman pertama ibumu, jadi wajar kalau ibumu takut, kan? Tapi dokter dan para perawat di sini bilang ibu harus tenang dan banyak berjalan-jalan di sekitar rumah sakit agar persalinan nanti lancar. Ayah, nenek dan kakekmu serta paman dan bibimu juga bertukar-tukaran menjaga ibu di rumah sakit sejak tadi pagi.
Nak, sejak sore tadi sebenarnya ibu mulai merasakan perut ibu seperti dipelintir. Rasa sakitnya membuat ibu ingin muntah saja. Tapi ibu menenangkan pikiran ibu dengan berzikir, berbicara pada nenekmu dan menulis buku harian seperti ini. Ibu takut, tapi ibu akan menjalani semua ini. Nenekmu bilang, ibu akan baik-baik saja karena ia terus menerus mendoakan ibu dan akan terus berada di dekat ibu. Ibu merasa tenang karena semua orang mendoakan kita dan berada di dekat kita, Nak.
Anakku, kelak, kalau kau besar nanti, kau akan tahu betapa ibu sangat bahagia menunggu kelahiranmu. Kau harus tahu, ibu akan melakukan apapun untukmu, sekalipun harus melepaskan satu-satunya nyawa milik ibu. Hanya untukmu.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved