Cerpen

Hujan

SUDAH lima hari hujan mengguyur bumi dengan lebat, sehingga nenekmemutuskan

Karya Ibnoe Hadjare

SUDAH lima hari hujan mengguyur bumi dengan lebat, sehingga nenekmemutuskan memanen padi lebih awal. Bila tidak sawah akan tenggelam. Hujan kali ini memang tak biasa. Ia turun bukan pada musimnya. Tidak ada pilihan untuk tidak memanen lebih awal meski padi belum begitu menguning.Nenek hanya berharap, setelah padi dipanen matahari akan segera terbit.

Dua hari lalu air di sawah bahkan sudah mulai menjilat-jilat pangkal tandan padi. Hamparan sawah terlihat hampir serupa tambak ikan. Hari ini,kata nenek, air akanbertambah hingga merendam setengah tandan padi. Momotongnya tentu akan berat; harus meraba-raba mencari perdudalam air setinggi pertengahan paha. Beruntung padi kami adalah padi kampung, kalau padi jenis hibrida yang hanya tinggi lutut sudah tentu kami harus menyelam memotongnya.

Di bawah keremangan cahaya panyoet kunaiki kursi rotan tempat ayah biasanya duduk makan. Kursi ayah, begitu aku menyebut nama benda itu.Dengan perlahan kupijakan kaki pada kursi ayah, agar tanganku bisa menggapai tali punca terpal hitam yang merentang di langit-langit dapur.Setiap selesai memotong sepunca terpal, kursi ayah akan kupindahkan menuju sudut terpal lainnya, hingga keempat sudut terpal berhasil kupotong. Terpal ini hendak kubuat menjadi baju anti hujan.

Sekali-kali aku berdehem. Atau bersyair. Atau melantunkan ayat-ayat pendek al-Quran, agar jika ada orang yang kebetulan sedang melewati rumah kami di subuh ini tidak akan terkejut. Yang kupahami arti berdehem itu hanya untuk memberi tahu siapapun di luar sana bahwa kami yang menghuni rumah ini adalah orang yang pasrah dan menyerah pada ‘ketakutan’. Kami tak perlu dicurigai; bahwa penghuni rumah ini tidak sedang bersembunyi-sembunyi.

Di musim perang begini, berdehem kata nenek wajib hukumnya. Sama dengan menyalakan obor saat keluar malam; bahkan untuk, misalnya, mengangkat jemuran pada waktu magrib. Harus obor, tak boleh senter. Karena di musim perang begini, menyalakan senter akan dikira anggotapemberontak.

Aku hampir selesai memotong terpal dengan ukuran yang kuinginkan. Terpal ini dibeli ayah saat musim tanamempat tahun lalu untuk melindungi neulhoong dari serangan tikus dan keong di sawah. Saat umur neulhoong berkisar empat minggu dan itu artinya neulhoong siap dicabut untuk ditanami, terpal akan dibongkar, dibawa pulang untuk disimpan.Yang sedang kupotong ini adalah sisanya yang ayah gantung di langit dapur untuk menghalau debu atap rumbia yang lapuk dimakan rayap agar tak jatuh ke dalam makanan.

Semalam nenek bilang aku harus menjahit terpal ini sebagai pengganti baju hujan. Kami juga perlu sedikit terpal untuk membungkus pisang rebus dan beberapa timphan sebagai bekal santapan di sawah.Tapi aku memang tak perlu menjahitnya. Ini hanya perlu dipotong 1x2 meter, kemudian memberinya sebuah lobang seukuran kepala persis pada bagian tengahnya, dengan begitu terpal sudah bisa kami pakai sebagai baju anti hujan.

Di balik gemuruh hujan yang menghujam atapdapur kudengar juga suara nenek masih larut dalam rateb subuhnya di kamar sebelah. Jika kalian lihat,tentu akan berpikir nenekku sedang kesurupan atau semacamnya. Nenek selalu ladat dalam meurateb, dan pada penghujung rateb-nya - setelah nenek tak lagi terlihat seperti kesurupan - ia akan menangis tersedu-sedu sambil mengucap istifar.

Sekali waktu saat masih SD pernah kutanya, kenapa nenek seperti hilang sadar dalam meurateb sehingga mengguncang-guncangkan badan begitu kuat. Kutanya pula mengapa menangis di akhirnya.

Halaman
1234
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved