Salam

Kota Banda Aceh Harus Sering Gelar Festival

Festival Kopi dan Teh Nusantara 2015 yang digelar di Taman Sari, Banda Aceh, dua malam lalu sudah berakhir

Festival Kopi dan Teh Nusantara 2015 yang digelar di Taman Sari, Banda Aceh, dua malam lalu sudah berakhir. Kegiatan yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Banda Aceh serta didukung Kementerian Pariwisata juga menggelar sejumlah lomba. “Acara ini untuk meningkatkan ekonomi dan pariwisata di Banda Aceh,” ujar Panitia dari Kementerian Pariwisata, Yasin Al Hamza.

Sedangkan Wakil Wali Kota Zainal Arifin mengatakan, Festival Kopi akan terus dilaksanakan untuk menarik wisatawan, bahkan tahun depan menggelar Festival Kopi Internasional di Banda Aceh. “Melalui event ini, berkesempatan mengumpulkan komunitas kopi dunia ke Aceh.”

Sebagai ibu kota provinsi, Banda Aceh memiliki keunggulan fasilitas dibanding kota-kota di kabupaten/kota lainnya. Dengan daya dukung yang lebih baik, maka peluang Pemko Banda Aceh menggelar event-event bardaya tarik wisatawan tentu lebih terbuka.

Melaksanakan Festival Kopi sebagai salah satu cara menarik wisatawan lokal dan mancanegara ke Banda Aceh tentu menjadi salah satu pilihan yang tepat. Tapi, pilihan yang tepat dalam waktu yang tepat serta tempat yang tempat, ternyata belum cukup tanpa kemasan yang tepat.

Festival Kopi yang beru saja berakhir di Banda Aceh sebetulnya memiliki “magnit” yang cukup kuat untuk menarik pendatang dari dalam dan luar negeri. Tapi, kemasan dan promosi festival ini bisa jadi belum cukup memadai sehingga arena itu tidak semeriah nama dan kelasnya. Sekali lagi, festival kopi adalah pilihan yang tepat bagi Kota Banda Aceh. Tapi, itu saja pastilah tidak cukup. Masih banyak event-event bermagnitud tinggi yang bisa digelar di Aceh. Sebut saja misalnya festival air yang jarang sekali digelar di daerah ini. Dengan kondisi mata air, danau, sungai, pantai, serta laut yang memadai adalah modal besar bagi daerah-daerah di Aceh untuk menggelar festival air.

Cuma saja, kita ingin mengingatkan, pelaksanaan festival apapun untuk menarik wisatawan lokal dan mancanegara harus dilaksanakan secara profesional, terutama kemasannya. Menggelar festival air, misalnya, bisa ldikemas lebih kreatif dengan lomba mancing, lomba dayung, lomba renang gembira, dan lain-lain. Sehingga, event itu tidak monoton yang kemudian menjemukan.

Lalu, penggelaran setiap event harus menunjukkan ciri khasnya. Sebab, yang kita lihat selama ini, apapun namanya, suasana yang tampak adalah seperti pameran pembangunan. Masyarakat lebih tertarik bergerombol di belakang gerobak bakso atau pedagang kaos oblong.

Kit berharap, ke depannya Aceh lebih banyak menggelar festival-festival bermutu dan mengeksplor potensi dan budaya lokal sebagai daya tariknya.

Kita tahu, untuk saat ini, hanya pemerintahlah --dalam hal ini Dinas Pariwisata-- yang terbiasa menggelar event-event untuk menarik wisatawan. Nah, ke depannnya, kita berharap event-event itu lebih banyak digelar oleh pihak swasta atau komunitas-komunitas kreatif. Dan, pemerintah menjadi pendukung. Mungkinkah?

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved