Cerpen

Hembusan Duri

TAK sia-sia, aku berada di posisi yang sudah lama aku incar. Tak ada yang tahu rencanaku, kecuali Tuhan. Orang tua?

Cerpen |  Florencya Waruwu


Hembusan Duri

TAK sia-sia, aku berada di posisi yang sudah lama aku incar. Tak ada yang tahu rencanaku, kecuali Tuhan. Orang tua? Aku sudah tak punya orang tua sejak aku lahir.Mereka membuangku.Aku dibesarkan di panti asuhan. Keluarga? Aku tak pernah mengharapkan kehadiran mereka.

Sejak umurku 18 tahun aku memutuskan keluar dari panti asuhan. Berbekal ijazah SMA, aku luntang-lantung untuk menopang kehidupanku. Aku sering melakukan pekerjaan yang sebenarnya tabu untuk perempuan, mulai dari tukang parkir hinggasopir truk pengangkut kayu ilegal. Namun, pada akhirnya aku bekerja sebagai SPG di salah satu perusahaan swasta.

Mulai saat itu, hidupku berubah 180 derajat.Apakah kau berpikir aku perempuan tangguh, berani? Simpan saja dulu itu semua, kau belum tahu apa-apa tentang diriku, secuil saja belum.

“Tidak!”, aku berteriak, aku terbangun. Oh, hanya mimpi. Sudah satu tahun terakhir aku bermimpi buruk, selalu seperti ini. Sekarang, aku adalah perempuan yang sudah bersuami alias perempuan perebut suami orang. Apa peduliku? Suamiku pejabat kaya yang menduduki posisi paling penting di negara ini. Aku bangga sekaligus puas dengan keadaanku sekarang, hidup yang kuimpikan sedari kecil. Tetapi, dihati kecilku tersimpan perasaan yang menyakitkan.

Kulihat ke samping kanan ranjang, seperti biasa suamiku tidak tidur dirumah. Itu tak masalah buatku, asalkan dia tak mengganggu kehidupanku yang lain.Aku hanya butuh uang. Laki-laki? Bagiku, semua laki-laki itu munafik. Hal ini sudah tertanam di otakku karena aku tak pernah merasakan kasih sayang ayah atau ibu, ya aku kan dibuang. Kehidupan menyedihkan ini kulakoni sejak aku menjadi SPG, empat tahun yang lalu, saat itu kira-kira umurku menginjak 20 tahun. Usia anak muda nongkrong bersama,nonton ke bioskop, shopping ke mall, tapi tidak buatku. Aku tak menyesal terlahir seperti ini karena sekarang aku bergelimangan harta. Menurutku,  hidup berharga hanya karena ada uang. Uang memang memperbudak manusia, tapi dengan uang aku juga dapat memperbudak manusia lain.

    Hari ini, aku sudah membuat janji akan bertemu teman lamaku sesama SPG, dia juga sudah menikah dan sekarang tinggal di Singapura. Dia hendak mengunjungi orang tuanya di sini. Matahari makin menaiki singgasananya, aku pun melangkahkan kakiku ke cafe tempat kami biasa bertemu. “Ayu!” seru seseorang. Aku pun menoleh ke belakang. “Dian, lama tak berjumpa!” aku pun memeluknya. “Pesanlah sesuatu, aku sudah duluan ya. Hehehe,” katanya sambil tertawa. “Ya, ya, ya, bagaimana kehidupanmu sekarang?” kataku sambil memberikan pesananku pada salah satu pelayan. “Aku bahagia, dia sayang padaku, aku juga. Aku tak menyangka dia orangnya begitu romantis,” katanya penuh semangat.

Aku seperti tertusuk sebilah pisau tajam, ya,  suamiku tak seperti itu. Tapi, toh aku tak mengharapkannya. “Oh, bagus deh, semoga kalian langgeng ya,” kataku tersenyum sekilas.

    “Kamu bagaimana, apakah sudah ada tanda-tanda?” tanyanya santai. “Maksudmu apa? Aku ngak ngerti,” tanyaku bingung.

    “Ya, apalagi? Kamu sudah menikah selama empat tahun, apakah kamu tak ingin punya anak?” tanyanya menggebu-gebu.

    “Aku,...”, aku tak kuasa menjawab pertanyaannya. Dia tak boleh tahu tentangku dan dia saja tak tahu siapa suamiku. Dia tak boleh tahu aku selalu memakan pil antihamil.

    Tapi, belum sempat aku menjawab itu, tiba-tiba aku melihat berita yang menjadi “Headline News” di televisi: seorang pejabat negara berinisial, YA, tertangkap tangan oleh KPK menerima uang suap dari perusahaan pemenang tender di salah satu hotel berbintang lima. Statusnya langsung ditetapkan sebagai tersangka, dan sekarang menjadi tahanan lembaga anti korupsi. Aku tak tahu harus bagaimana, aku langsung lari pergi, tanpa berkata apa-apa pada Dian.

Jantungku terus berdetak dengan cepat dan keras. Aku tak menyangka kejadiannya akan seperti ini. Dialah suamiku, YA alias Yuan Amar. Aku takut hidupku akan tamat bila sampai dipenjara. Aku tak ingin dan tak berharap mimpi buruk itu menjadi nyata. Saat mobil yang aku tumpangi mendekati  rumah, aku mendapati puluhan wartawan dan tampaklah beberapa orang yang sudah menggeledah rumah kami dan hendak menangkapku, aku tahu siapa mereka. “Ibu, silakan ikut kami. Kami akan menjelaskan apa yang terjadi,” katanya seakan-akan ramah padaku. “Baiklah,” kataku singkat.

    Sesampainya di kantor KPK, masih kutemui puluhan wartawan dan mereka punya sejuta pertanyaan. Aku hanya terdiam, tak tahu dan takut salah menjawab. Sekarang, aku sudah berada di ruangan yang sama dengan suamiku. Tunggu dulu, bukan hanya suamiku, tapi ada penyelidik dari lembaga antikorupsi, pengacara kami, dan... “Ibu Ayu, silakan duduk,” kata salah satu penyelidik.

    Aku pun duduk tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, karena aku mengerti, aku hendak diselidiki seputar keterlibatan suamiku. Sudah tiga jam lamanya aku diperiksa, dan aku dibebaskan karena menurut mereka aku tak ada sangkut pautnya dengan suamiku. Tapi, pastinya, rekeningku ditutup, rumah, mobil, hartaku saat bersama suamiku disita semuanya. Kuulangi, semuanya.

Kulihat suamiku, hendak kuucapkan terima kasih padanya, karena dia sudah menyelamatkanku dari lubang maut ini. Tapi, kuurungkan niatku, saat melihat “wanita” itu, aku jijik padanya. Pada hari itu juga, aku ditalak oleh suamiku dan aku tak peduli karena aku juga berharap demikian. Toh, tak ada yang bisa kuharapkan lagi darinya. Aku lega bisa bebas darinya, aku sempat menikmati hartanya, aku sempat “menikmati” dirinya, dan aku tak masuk dalam lingkaran hitam penjara.

Setelah peristiwa itu, aku memutuskan kembali menjadi SPG, namun “bos” malah menyuruhku menemui seorang tamu penting malam ini di cafe XY. Malam itu, cafe itu, kursi itu, menjadi penentuan hidupku selanjutnya. Tamu penting itu menyelamatkanku dari kemiskinan yang kubenci. Sekarang, aku memiliki pekerjaan baru yang mengganti berkali-kali lipat hartaku sebelumnya. Sudah setahun kulakoni profesiku ini dan sungguh kusyukri.

Aku seorang pengedar barang haram, ya, narkoba, aku bersyukur pelangganku adalah pengusaha-pengusaha kaya, yang tak segan mengeluarkan uangnya demi barang haram ini. Aku? Sekalipun aku tak pernah mencicipinya, aku hanya ingin uang bukan narkoba.Sekarang ini yang penting itu,aku dapat membangun kembali hidupku dengan membeli rumah mewah baru, mobil baru, dan aku kembali bersenang-senang di klub. Tapi, itu semua hilang ketika polisi datang menjarah semua miras dan barang haram lainnya, menangkap pengedar, pemilik, dan pelanggannya. Semua ludes pada saat itu. Bagaimana denganku? Aku tertangkap basah menjual narkoba itu kepada pelangganku yang biasa. Aku dicokok seperti mantan suamiku. Aku tak bisa berbuat banyak, tanganku sudah diborgol dan aku akan berhadapan dengan persidangan.

Pengacara? Oh, jangan harap, sekarang aku benar-benar merasakan kesendirian itu. Moto “hidupku adalah hidupku”. Bosku tempat bekerja tak membantuku, bahkan seolah-olah tak mengenal diriku. Dunia yang kejam, munafik, menjijikkan. Tinggal aku seorang, aku dibuang orang tuaku, aku dibuang dunia. Aku tinggal menunggu hari saat hakim menjatuhi vonisnya untukku.

Itu adalah hari ini. Dengan kemeja putih, celana hitam, rambut dibiarkan tergerai, aku duduk di kursi pesakitan. “Tuhan, maafkan aku”. Itulah kata yang kuucapkan dalam hatiku. Hanya itu, selama ini aku tak pernah mengucapkan kata Tuhan bahkan saat di panti asuhan sekalipun tak pernah. Kali itu aku sungguh menyadari diriku yang kotor, hina, dan tak pantas menerima pengampunan dari Tuhan. Aku bukan ateis, aku memiliki agama, namun aku tak pernah menjadikan Tuhanku diatas segala-galanya. Aku salah dan sangat berdosa. Aku menerima hukuman penjara seumur hidup bahkan hukuman mati sekalipun. Aku memang tak pantas lagi hidup didunia ini. Seperti firasatku aku pun dijatuhi hukuman mati! Dan hal itu akan dilaksanakan tiga minggu lagi. Selama penantian, aku hanya berdiam diri, aku tak mengindahkan panggilan untuk bermain, berolahraga, berbincang dengan sesama tahanan. Itu hanya akan menyakitkanku, membuat kenangan yang buruk. Tiga hari sebelum aku meninggalkan dunia ini, aku dipindahkan ke penjara yang lain, tempatku akan berpulang ke asalku. Apakah aku akan diterima Tuhanku? Aku tak peduli, sebab aku tak layak bertemu dengan-Nya apa lagi berada disisiNya. Menjelang vonis, aku dikunjungi oleh ibu panti asuhan yang selama ini merawatku. Dia menangis, memelukku, dan menyuapiku dengan makanan rumah. Rumah? Kenapa baru kusadari sekarang? Masih ada orang yang tidak melupakanku didunia ini, Tuhanku dan ibu panti. Itu sudah terlambat, aku hanya menangis di dalam hati, berpura-pura tegar, padahal aku bukan perempuan seperti itu.

Tibalah saat yang dinanti, aku akan dibawa ke tempat aku menyerahkan nyawaku. Sebelum itu aku menyeka air mata ibu pantiku, kemudian menyerahkan buku harianku pada ibu pantiku. Selama ini, aku selalu menyempatkan diri menulis kegiatanku di buku harianku, buku kepercayaanku, buku yang diberikannya. Sepertinya dia tahu, bahwa aku hanya akan percaya dan bergantung pada diriku sendiri dan hanya menganggap orang lain angin lalu. Sebab itu, dia memberikan buku ini agar aku dapat menjadikannya teman berbagi keluh kesah. Detik-detik terakhir aku pergi selamanya, dia masih menangis. Aku pun berpesan agar dia menyampaikan pesanku di buku harian ini pada dunia, bagaimanapun caranya. Aku juga berpesan agar dia menjaga anak-anak panti dan menegur mereka jika mereka hendak berbuat yang aneh-aneh. Aku berharap tak akan ada lagi orang sepertiku di dunia ini. Hidupku seperti selepas angin yang menyejukkan, namun tiba-tiba berubah menjadi angin topan yang mematikan. Separuh impianku sukses kugapai, namun sebagian lagi hilang ditelan maut. Aku tak ingin ada lagi orang yang menganggap bahwa dirinya tak butuh orang lain, dirinya dibuang dari dunia.

*Florencya Waruwu, Mahasiswa Universitas Padjajaran.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved