Kasus Gangguan Jiwa di Aceh Terus Meningkat, Apa Pemicunya?

Menurut Dinas Kesehatan Aceh, masalah kejiwaan di Aceh naik 500-700 kasus per tahun.

Kasus Gangguan Jiwa di Aceh Terus Meningkat, Apa Pemicunya?
Net
Ilustrasi 

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH — Kasus gangguan jiwa di Provinsi Aceh terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Masalah kejiwaan itu dipicu antara lain tekanan ekonomi keluarga. Jika tak ditangani dengan baik, itu bisa memicu tindakan di luar kontrol, termasuk kekerasan.

Saat ini kasus kekerasan terus terjadi di Aceh, bahkan ada sejumlah kasus pembunuhan dengan korban masih kerabat dekat atau teman pelaku. Sebagian besar kasus kekerasan itu dipicu masalah ekonomi.

Kepala Seksi Konseling Trauma Dinas Kesehatan Aceh Sarifah Yessi Hediyati, di Banda Aceh, mengatakan, gangguan jiwa bisa timbul karena faktor ekonomi. Menurut Dinas Kesehatan Aceh, masalah kejiwaan di Aceh naik 500-700 kasus per tahun.

Tidak terkendali

Yessi mengatakan, sejumlah kasus kekerasan antara lain terkait masalah kejiwaan. Sebab, orang dengan gangguan jiwa bisa bertindak di luar kendali.

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa menyebutkan, ada dua masalah kejiwaan, yaitu orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan orang dengan masalah kejiwaan (ODMK). ODGJ ialah orang dengan gangguan pikiran dan perilaku, memicu hal tidak terkontrol, seperti menganiaya orang lain.

Adapun ODMK ialah orang dengan masalah fisik, mental, sosial, pertumbuhan, perkembangan, dan mutu hidup, sehingga berisiko terganggu jiwanya. "Masalah yang terakumulasi tanpa penanganan tepat bisa membuat ODMK bertindak di luar kontrol, terutama jika ada pemicu dari luar," ucap Sarifah.

Masalah kejiwaan bisa karena faktor ekonomi. Dinas Kesehatan Aceh mencatat, kasus gangguan jiwa di Aceh naik 500-700 kasus per tahun. Akumulasi data masalah kejiwaan Aceh 18.741 kasus pada 2006-2014.

"Kasus itu banyak terjadi di pesisir timur Aceh, seperti Aceh Utara, Bireuen, Pidie, dan Aceh Besar. Itu daerah padat penduduk dengan persaingan ekonomi tinggi," ucapnya.

Menurut Badan Pusat Statistik Aceh 2014, angka kemiskinan di Aceh 16,98 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional 10,96 persen. Adapun angka pengangguran terbuka Aceh 9,02 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional 5,94 persen.

"Sekitar 68 persen angkatan kerja Aceh ialah pekerja musiman, dibayar di bawah standar," kata Kepala BPS Aceh Hermanto.

Menurut psikolog Nurjanah Nitura, tekanan ekonomi memicu orang berbuat di luar batas kewajaran, seperti menganiaya orang lain dan bunuh diri. Tekanan ekonomi bisa diantisipasi dengan membangun relasi sosial kuat.

"Lunturnya relasi sosial membuat orang bersikap di luar batas," ujarnya.

Editor: faisal
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help