Cerpen

Jubah

SEORANG tukang obat keliling telah menyaru sebagai perwira polisi sebanyak tiga kali, enam kali sebagai kadi

Karya Azhari

SEORANG tukang obat keliling telah menyaru sebagai perwira polisi sebanyak tiga kali, enam kali sebagai kadi, puluhan kali sebagai pegawai kantor purbakala, dan sebagai apoteker hampir seumur hidupnya. Meskipun punya sembilan puluh enam nama (terkutuklah, katanya, siapa saja yang ingin melampaui nama tuhan), tidak semua penyamarannya berjalan sukses. Dia pernah dikubur hidup-hidup karena memperdayai istri seorang bangsawan Sumatera Timur, mendekam di penjara Jalan Listrik selama dua tahun dan hampir mati diamuk massa di pasar Beureunuen.

Namun menurutnya apa yang terjadi berikut ini adalah yang paling menakutkan.

Pada Mei 1967, dia bersama adik laki-lakinya mengawali perjalanan dari Medan. Dia membawa 700 botol obat gosok dan ingin manjajal ramuan terbaru itu, campuran keji antara spiritus dan biji cengkeh, kepada para petani di bawah kaki Gunung Sinabung yang mungkin punya masalah dengan gigi mereka. Tapi dua bulan kemudian dia menyerah di Lubuk Sikaping lantaran tidak mampu menjual satu koper pun minyak gosok yang dibawanya. Dia merasa tidak pernah sesial ini. Merenungi hal ini, dia berpikir bahwa keberuntungannya telah jatuh di salah satu tempat dan bertekad untuk mengambilnya kembali.

Lantas dia menempuh jalan yang sama pada saat dia pergi. Setelah menempuh hampir setengah jalan, pada minggu ketiga, dia terjebak di sebuah persimpangan dalam keadaan lelah dan lapar. Dia menatap ke kanan, pada sepotong jalan yang pernah dilalui tentara Padri lebih satu setengah abad lalu saat sekte itu memburu dan menumpahkan darah orang-orang Rao, Karo dan Angkola. Jalan itu berdebu dan hampa. Sementara di kedua sisi jalan satunya lagi, dia melihat semak pakis tumbuh subur, hijau, dan lezat. Lupa pada niatnya semula, dia lantas memilih jalan yang diinginkan perutnya.

Pada suatu malam dia tiba di Tanah Alas. Keesokan paginya, dia melihat orang-orang antre membeli celak hitam di sebuah toko cina dan setelah itu mengolesi bagian belakang telinga mereka dengan tangan gemetar.

“Kita,” katanya kepada adiknya sambil menyeringai licik. “Tiba pada malam yang sama dengan Setan.” Dia memejamkan matanya yang cemerlang, lantas membayangkan sosok seorang pastur. Perasaan gembira membuat dia bersendawa panjang, perutnya seperti ingin mengeluarkan seluruh kemalangan yang selama beberapa bulan terakhir ditelannya. Mendengar sendawa yang bunyinya mampu membangunkan tidur seorang bayi, adiknya tahu bahwa sebentar lagi dia tidak perlu lagi memamah pakis liar.

Hari itu juga mereka meninggalkan lembah itu, menyusuri hulu Sungai Alas, mencari kampung-kampung yang satu setengah abad lalu didirikan oleh para pelarian, sedikit dari mereka yang berhasil lolos dari hasrat pemurnian agama serdadu Padri. Tugas adiknya adalah mengetuk pintu rumah-rumah keturunan para pelarian itu dan mengabarkan kepada mereka telah datang seorang pastur yang membawa azimat pengusir Setan, lebih ampuh daripada celak hitam. Mereka mematok sebotol minyak gosok seharga seekor ayam jago.

Di luar dugaan, dalam sehari lima koper minyak gosok yang mereka bawa habis terjual.

“Aku harusnya berhenti sampai di sini,” katanya saat mengisahkan kembali kejadian itu kepadaku puluhan tahun kemudian.

Setelah tidak ada lagi minyak gosok yang dapat dijual, dia memerintahkan adiknya mencari orang-orang sakit untuk disembuhkannya, sementara dia sendiri, kisahnya, diperintahkan oleh keserakahan. Kali ini harga untuk setiap orang sakit setara harga seekor kambing jantan.

Ke hadapannya kemudian datang para penderita beri-beri, kusta, kaki gajah, asma, wasir, tuberkolosis, gondok, campak Jerman, katarak, polio, skizofrenia, dan mereka yang bertahun-tahun kerasukan iblis. Sebagian besar dalam keadaan paling sengsara dan digotong oleh keluarga mereka. Melihat penderitaan mereka, tidak bisa tidak membuat dia agak sedikit tertekan. “Seumur hidupku,” katanya. “Belum pernah aku melihat penderitaan sebesar itu.”

Di tendanya setiap hari dia menangani sepuluh sampai dua belas pasien. “Aku cuma mengangkat kedua tanganku ke atas,” katanya. “Merapalkan beberapa potong doa dan mantra yang pernah kuingat, dan memerciki wajah mereka dengan air dari Sungai Alas.”

Setelah itu tidak terjadi apa-apa. Tapi beberapa minggu kemudian satu demi satu orang-orang yang pernah berobat datang kembali ke tendanya. Mereka mengaku telah sembuh, datang untuk menyampaikan terima kasih dan juga mempersembahkannya hadiah. Menyaksikan hal ini si tukang obat keliling gemetar ketakutan. Pada hari itu juga dia menanggalkan jubah palsunya dan pergi meninggalkan tempat itu. “Aku harusnya berhenti,” katanya sekali lagi. “Dan tidak pernah melihat mukzijat itu.”

* Azhari, editor tamu halaman budaya Serambi Indonesia. Bukunya yang baru terbit The Garden of Delights & Other Stories (Lontar, 2015).

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved