Seniman Nandong dan Debus Unjuk Kebolehan di Panggung Taman Ismail Marzuki Jakarta

"Begitulah orang kita," kata Juman saat disinggung soal nama panggilannya itu, seusai tampil bernandong di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta

Seniman Nandong dan Debus Unjuk Kebolehan di Panggung Taman Ismail Marzuki Jakarta
SERAMBINEWS.COM/FIKAR W EDA
Juman memainkan biola dan Ali Umar memukul gendang. 

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA -- Karena kemahirannya memainkan kesenian nandong, seni tradisi dari Simeulue, Suharman, kemudian dipanggil Juman Nandong.

"Begitulah orang kita," kata Juman saat disinggung soal nama panggilannya itu, seusai tampil bernandong di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Jakarta (TIM), Selasa (22/12/2015).

Juman memang memperlihatkan kemahirannya tersebut di hadapan ratusan penonton TIM. Ia memainkan nada tinggi, sehingga suaranya terdengar melengking. Ia juga memainkan biola nandong dan gendang nandong.

Atraksi Juman menjadi tontonan yang sangat menarik karena dipadukan dengan debus yang dimainkan Ali Umar, pria berusia 60 tahun, yang datang ke Jakarta bersama Juman.

Ali Umar, seorang pemain debus di Simeulue. Ali Umar yang pernah bernandong di Bali, tampak begitu lincah memainkan debus, seraya menusuk-nusukan tubuhnya dengan potongan bambu tajam.

Ali Umar bahkan sesekali berjumpalitan di lantai.

Menyempurnakan tontonan tersebut, Mohd Riswan, Ketua Pusat Kebudayaan Simeulue, memperdengarkan semacam rapalan doa penunduk besi dalam iringan gendang oleh Bambang Surya, putra Simeulue yang menjadi birokrat di Jawa Barat.

Bambang Surya, bahkan bersiap pulang ke Simeulue memimpin kabupaten itu.

Pertunjukan Nandong -Smong makin unik karena  gesekan cello oleh Jasin Burhan dan Yoppi Andri yang menyusupkan rytem gitar dan biola nandong. Yoppi pula yang mengarransemen pertunjukan 20 menit itu.

Juman merasakan keasyikan tersendiri saat memainkan nandong-smong tersebut.

"Nandong adalah puisi yang disampaikan dengan cara didendangkan. Berisi kisah manusia, tentang masa lalu, masa kini dan masa depan," kata Juman.

Aslinya nandong dimainkan beramai-ramai, dan bisa sampai pagi. "Kisah-kisahnya sambung-menyambung," kata Juman.

Mengenai nada tinggi yang dimainkan para seniman nandong, itu lebih sebagai suara ratapan hati saat  meninggalkan kampung   ratapan dari orang-orang yang ditinggalkan.

"Umumnya nada-nada tinggi muncul pada waktu dini hari," kata Juman.

Juman melihat nandong adalah kesenian yang terbuka. Bisa dibawakan dengan menggunakan beragam bahasa, termasuk bahasa asing.

"Yang penting ciri pantun dan iramanya tetap khas nandong," kata Juman yang sudah menggeluti seni nandong sejak masih kecil. (*)

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved