Rupa-Rupa Motif Etnik Aceh Ini Layak Masuk Daftar Belanja Anda

Bagi anda penyuka wisata belanja, tak ada salahnya menambah koleksi fashion item yang bertema etnik.

1. Emas motif pintu Aceh

Emas motif Pintu Aceh

Bagi anda penyuka barang perhiasan bertema etnik, tak ada salahnya melengkapi koleksi dengan salah satu perhiasan khas Tanah Rencong yaitu emas motif pintu Aceh.

Motif ini cukup populer dan diminati, baik di kalangan warga lokal maupun pelancong.

Motif pintu atau yang dalam bahasa lokal disebut pinto banyak diaplikasikan pada bros, cincin, bandul kalung, kerabu, hingga penjepit dasi.

Pun jika tidak untuk dipakai, emas merupakan investasi yang menjanjikan.

Konon motif yang diadopsi dari pinto khop itu dibuatkan khusus oleh seorang pengrajin Aceh yang berdiam di Desa Blang Oi Kecamatan Meuraxa Kota Banda Aceh, Mahmud Ibrahim.

Diciptakan pada tahun 1935 atas permintaan seorang opsir Belanda.

Sang opsir ingin menghadiahi kado yang bernuansa khas Aceh kepada istrinya yang berulang tahun.

Pinto khop sendiri merupakan pintu gerbang yang dilalui keluarga raja pada abad ke-17 yang menghubungkan Taman Sari dengan Gunongan.

Terletak di Kompleks Taman Putroe Phang sekarang yang dulunya merupakan bagian dari Kompleks Bustanussalatin.

Oleh H Keuchik Leumik, seorang pengusaha sekaligus kolektor benda-benda antik dan langka motif yang mulanya hanya berupa bros itu lantas dikembangkan dan dimodifikasi.

Barang-barang antik itu memenuhi museum pribadi milik keluarga itu, sedangkan perhiasan yang telah dikreasi kembali ditempatkan di toko untuk diperjualbelikan.

"Selaku kolektor saya memperoleh perhiasan langka itu dari masyarakat yang umumnya kaum berada. Meskipun mahal tetap saya beli karena barangnya sudah langka guna menyelamatkan warisan budaya," ujar H Harun Keuchik Leumik.

Harun memaparkan pada zaman kerajaan Aceh mewariskan 250-an motif etnik untuk perhiasan.

Dirinya sendiri mengoleksi emas antik dan langka sejak tahun 1980.

Di antaranya kalung motif dirham yang sejak dibelinya sudah berumur 100 tahun.

Adalagi hiasan dada motif bulan sabit yang dikreasi dengan taburan permata dan cawargi dan telah berumur 150 tahun sejak dibeli olehnya.

Cawargi merupakan aksen perhiasan khas karya pengrajin Aceh.

Perhiasan etnik berupa emas motif pintu Aceh tersedia mulai berat 1 mayam atau 3,3 gram hingga puluhan mayam.

Menggunakan emas 18 - 22 karat.

Motifnya detail dan rapi.

Sekilas terlihat rumit dan hanya bisa dihasilkan oleh tangan-tangan yang terampil.

Perhiasan emas keluarga Keuchik Leumik banyak diburu oleh pelancong dari provinsi tetangga Sumatera Utara, Jakarta, dan pelancong dari negeri jiran Malaysia

Serambinews.com, menjumpai Harun yang merupakan generasi kedua dari H Keuchik Leumik di toko emas miliknya di kawasan Pasar Atjeh Lama yang menempati sisi Jalan Tgk Chik Pante Kulu, Banda Aceh.

Pasar tradisional tersebut menempel persis di samping Masjid Raya Baiturrahman yang berlokasi di pusat kota.

Toko emas yang dikenal menjual varian emas motif etnik Aceh tersebut mengambil nama sama dengan pendirinya, H Keuchik Leumik.

Toko ini kerap menjadi rujukan harga bagi warga dan para pedagang emas pribumi lainnya.

Mengikuti tren harga emas dunia yang cenderung fluktuatif.

Umumnya toko-toko di Pasar Atjeh Lama buka mulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB.

Khusus Toko Emas H Harun Keuchik Leumik tutup pada saat jam shalat tiba.

Diapit oleh deretan toko emas lainnya milik pribumi dan etnis Tionghoa.

Di Aceh, toko emas ramai didatangi ketika musim lebaran menjelang.

Nah! Bagaimana dengan anda?

Selanjutnya
2. Tas bordir2. Tas bordir
Halaman
Penulis: Nurul Hayati
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help