Rupa-Rupa Motif Etnik Aceh Ini Layak Masuk Daftar Belanja Anda

Bagi anda penyuka wisata belanja, tak ada salahnya menambah koleksi fashion item yang bertema etnik.

2. Tas bordir

Tas bordir Aceh

Tas dan perempuan menjadi dua hal yang tak terpisahkan.

Membeli dan mengoleksi tas menjadi kebutuhan dan mempunyai prestisse tersendiri.

Serambinews.com, berkesempatan menyambangi langsung salah satu sentra pembuatan tas etnik Aceh yang berada di kawasan Samahani, Aceh Besar.

Sekitar 25 meter dari ibukota Provinsi Aceh. Sentra industri yang dipawangi oleh Dewan Kesenian Nasional Daerah (Dekrasda) kabupaten setempat itu membina 25 pengrajin.

Rata-rata setiap harinya seorang pengrajin menghasilkan 1 buah tas.

Selain dipasarkan, tempat ini juga menerima pesanan sesuai dengan jumlah dan motif model tas sesuai keinginan pemesan.

Setiba di lokasi mata saya langsung menyapu deretan tas yang terpajang di etalase Dekranasda Aceh Besar.

Ada bermacam model yang dipajang seperti tas ransel, tas, sandang, dan tote bag yang tersedia dalam berbagai ukuran pula.

Menariknya meskipun mengangkat tema etnik, namun tas khas Aceh juga menawarkan model dan motif bagi mereka yang berjiwa muda.

Pengrajin pun terlihat berani bermain warna. Sebut saja sentuhan hijau tosca dan pink fanta yang memburatkan kesan ceria.

Warna klasik seperti warna dasar hitam yang ditimpa kuning keemasan tak lagi mendominasi.

Dua warna yang menjadi simbol adat daerah itu.

Meskipun demikian, pengelola tetap mempertahan motif bordiran yang menjadi ciri khas tas Aceh. Sebut saja motif pintu Aceh, pucuk rebung, dan motif bungong kupula (bunga khas Aceh).

Bahannya pun berbeda-beda seperti kain terpal, sintetis, dan prada.

Proses pembuatannya dimulai dengan membuat pola, memotong kain, membordir, dan kemudian finishing.

Untuk harga pun tak terbilang mencekik kantong. Sebuah tas dibanderol mulai harga Rp 40 ribu - Rp 200 ribu saja.

"Itulah keuntungan kalau beli langsung ke pengrajin, sebab kalau di pasar harganya tentu lebih mahal. Keuntungan lainnya di sini bisa pesan motif, warna, dan model sesuai keinginan. Jumlahnya tidak dibatasi," terang Kak Ros, salah seorang pengelola Dekranasda Kabupaten Aceh Besar.

Bagi anda pelancong yang tak berkesempatan menyambangi langsung pengrajinnya, tak perlu berkecil hati.

Anda tetap bisa menenteng tas etnik Aceh sebagai oleh-oleh.

Cukup mendatangi toko-toko souvenir yang bertebaran di sepanjang Jalan Sri Ratu Safiatuddin, Peunayong, Banda Aceh.

Songket 'Nyakmu' yang mendunia

Salah satu kekayaan kriya nusantara adalah songket.

Songket mempunyai citarasa tinggi karena bukan sekedar secarik kain.

Padanya melekat nilai-nilai budaya yang hidup di dalam masyarakat.

Setiap daerah yang mendiami gugusan pulau di Indonesia menyimpan kekhasan tersendiri, tak terkecuali dari provinsi ujung barat nusantara, Aceh.

Butuh waktu tak kurang dari dua pekan untuk menyelesaikan secarik songket.

Tak heran harga yang dibanderol pun mencapai ratusan ribu atau hingga jutaan rupiah.

Kain yang ditenun oleh pengrajin Aceh tersebut pernah mengalami puncak keemasan pada medio 1970-an.

Songket Aceh dengan brand lokal 'Nyakmu' pernah mendunia dengan predikat wastu citra yang tersemat padanya.

Keinginan untuk menghidupkan kembali songket Aceh menjadi dasar terselenggaranya gathering tenun songket yang dihelat di aula Museum Aceh, Banda Aceh (31/10).

Komunitas 'I Love Songket Aceh' yang dipawangi kawula muda, Azhar Ilyas dan kawan-kawan mempertemukan para pelaku usaha untuk menghidupkan kembali geliat songket Aceh yang pernah mendapat tempat khusus di hati para pecintanya.

"Budaya menenun telah ada pada masyarakat Aceh dan merupakan warisan budaya yang telah berusia ratusan tahun lamanya, sebagaimana halnya membatik pada masyarakat Jawa. Hj. Maryamun yang disapa Nyakmu pendiri Rumoh Teunuen Songket Nyakmu tidak hanya mewarisi motif tradisional namun juga piawai menciptakan motif-motif baru," papar Arkeleolog pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Laila Abdul Jalil SS MA dalam sesi diskusi.

Motif-motif tersebut pada umumnya terinspirasi dari lingkungan alam pedesaan yang bersumber dari kearifan lokal masyarakat Desa Siem Kabupaten Aceh Besar sebagai masyarakat pertanian.

Di antara motif tersebut adalah motif Pucok Reubong, Bungong Kalimah, Bungong Geulima, Bungong Campli, Bungong Awan-awan dan masih banyak lagi yang kesemuanya mencapai 50-an motif.

Sementara Dr Indra Zainun MP putra Hj Maryamun atau akrab disapa Nyakmu menguraikan napak tilas perjalanan Songket Nyakmu sejak tahun 1973 mengembangkan usaha tenun songket Aceh di Desa Siem, Aceh Besar.

Desa Siem merupakan salah satu sentra perkembangan tenun songket Aceh, di mana banyak pengrajin yang datang belajar menenun pada Nyakmu.

Dari tangan terampil Nyakmu lah aneka motif tradisional warisan leluhur yang kemudian dikembangkan lagi menjadi beragam motif baru tenun ija sungket (kain songket).

Selanjutnya
3. Batik Aceh3. Batik Aceh
Halaman
Penulis: Nurul Hayati
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved