Arsyad, Perajin Bordir Modern dari Tanah Alas

Pakaian adat Alas dan pakaian penari Saman Gayo banyak dikerjakan di tempat usahanya tersebut. Ia memberi nama usaha "Sepakat Segenap."

Arsyad, Perajin Bordir Modern dari Tanah Alas
SERAMBINEWS.COM/FIKAR W EDA
Arsyad (topi haji) di kediamannya. 

SERAMBINEWS.COM, KUTACANE -- Menekuni kerajinan bordir sejak muda. Usahanya berbuah sukses. M Arsyad (65), saat ini menjadi satu-satunya pemilik mesin bordir paling modern di Aceh Tenggara dan Gayo Lues.

Sebuah mesin bordir ukuran besar, yang digerakkan oleh komputer siap melayani semua permintaan.

"Berapapun banyaknya kita layani dengan baik," kata Arsyad saat  berbincang dengan Serambinews.com, di kediamannya, sekaligus tempat usaha bordir, di Kutacane, Ibukota Aceh Tenggara, beberapa waktu lalu.

Pakaian adat Alas dan pakaian penari Saman Gayo banyak dikerjakan di tempat usahanya tersebut. Ia memberi nama usaha "Sepakat Segenap."

Pemda Aceh Tenggara dan Gayo Lues acap memanfaatkan jasa bordir milik Arsyad guna menyediakan baju adat dan baju penari.

Usaha bordir itu dirintis Arsyad sejak 30 tahun silam. Mesin bordir modern miliknya adalah bantuan Bupati Aceh Tenggara, Ir Hasanuddin B, tujuh tahun silam.

Ketika itu, bordir baju adat dan ornamen-ornamen tradisi lainnya dikerjakan secara manual. Tapi teknologi berkembang pesat. Mesnin bordir menjadi alternatif untuk memenuhi pesanan yang kian membludak dari waktu ke waktu.

Arsyad, putra Tanah Alas yang mahir berbahasa Gayo, awalnya adalah pelukis potret. Ia mencari nafkah dari kemahirannya melukis.

Tapi belakangan ia juga menekuni bordir. Salah satu karya bordirnya adalah pakaian penari Saman yang dibawa ke Amerika pada 1990.

Ketekunannya mendalami usaha bordir tradisi itu, akhirnya memperoleh anugerah Upakatri, dari Presiden Soeharto pada 1991.

Ada 32 motif bordiran Alas atau "sirat Alas," meliputi pucuk rebung, puter tali, awan berarak dan lain-lain. "Tradisi kita memiliki kekayaan luar biasa. Tapi belum semua kita kembangkan," katanya.

Di usia senja, Arsyad tidak lagi sepenuhnya terlibat dalam usaha bordir tersebut. Ia telah mendelegasikan kepada putra tertuanya, Erwin, yang pernah kuliah di Bandung.

"Anak muda sekarang jauh lebih trampil," kata Arsyad.

Selain melukis dan membordir, Arsyad juga seniman musik. Ia menguasai alat musik biola, yang tampil di beberapa pertunjukan seni pada masa mudanya.

"Sekarang sudah kaku. Tak pernah lagi main biola," kata Arsyad yang juga mengarang lagu-lagu Tanah Alas. (fikar w eda)

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Yusmadi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved