Cerpen

Penambang Pasir

ANGIN bertiup kencang sepanjang pagi awal Februari 1999. Pertanda kemarau panjang akan dimulai dalam beberapa hari. Di langit

Cerpen | Ibnoe Hadjare

    ANGIN bertiup kencang sepanjang pagi awal Februari 1999. Pertanda kemarau panjang akan dimulai dalam beberapa hari. Di langit, mendung hitam tebal membentang, tapi tak ada hujan yang akan turun. Ini waktu bagi penambang seharusnya menyelam sepanjang hari mengeruk pasir. Seharusnya ini waktu bergembira yang dinanti sepanjang tahun sebab debit air sungai akan segera berkurang dan arus tak deras.  Namun, lihat di sana, di sepanjang bibir sungai, sampan-sampan didayung tergesa berburu mayat. Lelaki sekampung menyelam sepanjang nafas yang ada, memungut sebanyak yang mereka bisa, mayat-mayat. Ini akan butuh waktu lama. Tak mudah mencari mayat yang terbungkus goni berisi batu pemberat, yang dibenam di dasar sungai. Seluruh tenagaku nyaris habis. Sampan Utoeh Musa yang baru siap dibuat ini seharusnya belum layak pakai. Harus dijemur barang sebulan lagi agar sampannya benar-benar ringan dan mudah didayung. Tapi tak ada sampan lain yang bisa kupakai.

    Memang, di setiap celah musim kemarau dan musim penghujan, selalu datang musim celaka. Inilah saatnya. Padahal seharusnya ini waktu untuk menawar kurap yang melekat erat sepanjang tahun pada lekuk selangkangan para bocah lelaki di kampung kami. Mereka hanya perlu terus menyelam - menambang pasir - sepanjang musim ini, terus menyelam, terus menyelam, maka seluruh kurap itu akan sembuh dengan sendirinya. Ini akan jadi tahun terakhir mereka menderita kurap dan kutu air. Sebagaimana semua lelaki di kampung ini, setelah kami disunat dan dijangkiti kurap, kami akan jadi lelaki sejati. Tapi tak ada bocah yang berani menyelam mencari mayat.


                                                 ***
Pawang Leman berkulit hitam, berperut buncit dan gemuk. Ia pamanku. Sebenarnya ia tak segemuk dan sehitam ini. Seminggu lalu, saat ia masih hidup, kami sempat duduk di bawah perdu sirih. Saat itu udara panas menyengat. Tangan kasar kami sibuk mengoles damar pada lambung sampannya yang bocor.

    Saat itu duduk di samping pamanku adalah Utoeh Musa. Sepupu ayahku. Semasa hidupnya Utoeh Musa juga tak sehitam dan segemuk ini. Seminggu yang lalu Utoe Musa juga duduk bersama kami di tepi sungai ini. Ia tak ikut menambal sampan pamanku, tapi sibuk memahat sampan barunya yang telah dikerjakan sejak dua bulan. Sampannya telah siap, hanya perlu dijemur barang sebulan agar sampan itu benar-benar kering. Sejak beberapa tahun ini memahat sampan memang menjadi pekerjaan yang lebih sulit. Susah mendapat kayu bedaru yang lunak saat dipahat namun tahan lama di air. Utoeh Musa dan utoeh-utoeh lain di kampung ini hanya bisa memahat laban, semantok dan meranti. Hanya pohon itu yang mudah ditemukan untuk membuat sampan, namun untuk mendapat pohon itupun kami harus mendayung malawan arus menuju hulu Arakundo nun jauh sana.

    Aku masih ingat,  sebelum semuanya terjadi, sore itu, sore terakhir mereka hidup, kami pulang lebih awal. Lalu kami bergegas menuju kota Idi. Sudah lama kami tak mendengar dakwah.

* Ibnoe Hadjare,  jurnalis. Tinggal di Banda Aceh.

Editor: hasyim
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved