Penderita Bibir Sumbing pun Tersenyum Bahagia

TANGIS para bocah memecahkan keheningan pagi Minggu (31/1) di Rumah Sakit Malahayati Banda Aceh

Penderita Bibir Sumbing pun Tersenyum Bahagia
Para pasien menunggu giliran untuk menjalani operasi bibir sumbing gratis di Rumah Sakit Malahayati, Banda Aceh, Minggu, Minggu (31/1/2016). Operasi bibir sumbing gratis dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Harian Serambi Indonesia ke-27 yang bekerja sama dengan Smile Train. SERAMBI/BUDI FATRIA 

TANGIS para bocah memecahkan keheningan pagi Minggu (31/1) di Rumah Sakit Malahayati Banda Aceh. Bocah-bocah itu datang dari berbagai pelosok Aceh untuk sebuah alasan yang sama. Yakni, ikut operasi bibir sumbing dan langit-langit (palato) yang akan menjadi titik balik kehidupan mereka. ( VIDEO : Penderita Bibir Sumbing Jalani Operasi Gratis )

Bukan perkara mudah mengumpulkan ke-13 bocah itu. Meskipun gratis dan tanpa persyaratan apa pun, penyelenggara harus berjuang untuk meyakinkan keluarganya bahwa bibir sumbing bukanlah aib. Budaya yang menganggap penyakit tersebut sebagai kutukan kadung mengakar dan susah dikikis.

Tak urung, orang tua sebagai pihak yang paling bertanggung jawab didera perasaan bersalah dan memilih berdiam diri.

“Bibir sumbing menyebabkan kami minder, untuk bicara saja malu. Apalagi kalau bicara cita-cita, nggak berani. Tapi itu dulu,” tutur Rahmad sembari terkekeh memperlihatkan giginya yang berderet rapi. Ia tampak girang dan bahagia.

Sebelum berbibir normal seperti sekarang, terhitung 2007-2009, ia telah menjalani enam kali operasi. Pemuda asal Meulaboh, Aceh Barat, ini sekarang dipercaya sebagai koordinator bibir sumbing Aceh. Adalah Smile Train, sebuah yayasan yang mengubah hidup dan mendapuk Rahmad sebagai contoh sukses mantan penderita yang kembali tersenyum ceria dan menjalani hidup dengan produktif.

Menurut catatan Smile Train, kawasan dataran tinggi Aceh berkontribusi terhadap angka bibir sumbing, meskipun kategori dewasa sudah dibabat pada 4.000 operasi sebelumnya sejak dilancarkan tahun 2007. Sedangkan di lingkup Indonesia sudah 50.000 operasi digencarkan. Namun, selalu ada saja generasi selanjutnya yang mengikuti jejak penderita bibir sumbing sebelumnya.

Warga yang berdiam di dataran tinggi disinyalir kekurangan kalsium, sehingga menempatkannya sebagai habitat penderita bibir sumbing dengan populasi terbanyak.

Namun di luar itu, menurut dr M Jailani SpBP-RE(K), spesialis bedah plastik rekonstruksi dan estetik, kondisi ibu hamillah yang menjadi faktor utama. Stres pada ibu hamil pada trimester pertama akan berakibat fatal bagi janin.

“Penderita bibir sumbing di Aceh masih banyak. Untuk menekan angka tersebut, penting bagi ibu hamil pada trimester pertama kehamilan agar tidak stres,” ujar Ketua Tim Operasi Bibir Sumbing dari Smile Train itu kepada Serambi di sela-sela operasi kemarin.

Bertempat di RS Malahayati, pihaknya saban hari melayani operasi serupa. Kali ini dalam rangka HUT Ke-27 Harian Serambi Indonesia, bocah-bocah penderita bibir sumbing dan langit-langit itu berkumpul untuk alasan yang sama. Setelah dirawat inap sehari pascaoperasi, penderita bibir sumbing diperbolehkan pulang, sedangkan penderita langit-langit akan melanjutkan perawatan selama hingga sebulan ke depan.

Demi turut berkontribusi menekan angka bibir sumbing di Aceh, Serambi kembali membuka pendaftaran untuk operasi tahap kedua yang akan dilaksanakan pada Minggu (14/2). Cukup mendatangi Kantor Harian Serambi Indonesia di Jalan Raya Lambaro Km 4,5 Meunasah Manyang, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar, atau biro-biro Serambi seluruh Aceh. Bisa juga menghubungi contac person M Jafar (0852 7088 4780) atau Rahmad (0813 6039 5730). Sudah saatnya penderita bibir sumbing tidak dikucilkan dan hidup produktif. Tersenyumlah Aceh, senyum penuh bahagia. (nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved