Cerpen

Sang Penjilat

MALAM menggairahkan itu datang kembali. Tepat pukul 24.00 WIB, wajah Durjantiba-tiba kembali berubah

MALAM menggairahkan itu datang kembali. Tepat pukul 24.00 WIB, wajah Durjantiba-tiba kembali berubah. Matanya mencorong. Perutnya agak membuncit.

Di bagian belakang tubuhnya, perlahan mencuat sesuatu yang semakin lama semakin bertambah memanjang. Moncongnya mengerucut maju. Kedua kupingnya agak melancip. Kukunya yang biasa pendek, memanjangsatu per satu. Tajam. Setajam andangan matanya yang berubah membelalak.

Penciumannya juga emakin ampuh. Ia dapat mencium manisnya kue dan apa pun dari dalam kamarnya, bahkan aroma duit dari yang kertas sampai
recehan. Ia mencoba berdiri, tapi tidak sanggup. Kedua tangan dan kakinya kompak membenamkan hasrat Durjan yang ingin berdiri. Nalurinya mengajarkan ia untuk merangkak. Ya, merangkak. Tapi yang jelas bukan seperti bayi yang aru belajar.

***

Durjan punya sejarah terlahir dari keluarga yang sebenarnya selalu berkecukupan, bahkan bisa dikatakan berlebihan. Ayahnya seorang pegawai pajak dan ibunya bertugas sebagai bendahara di ingkungan Pemerintahan Daerah. Urusan kebutuhan harian, bukan masalah. Semua ada. Semua tersedia. Apa saja, mulai dari urusan menyantap makanan mewah, biaya pendidikan, sepeda motor, mobil, pakaian, tak ada ang perlu dikhawatirkan.

Tanpa perlu bantuan jin model Aladin yang pakai simsalabim, semua bisa dipenuhi segera. “Durjan,” panggil ayahnya suatu kali saat ia berusia 14 tahun. “Untuk jadi orang besar nanti, kamu tidak perlu pintar,” sambung ayahnya.

Durjan terdiam, tak mengerti. “Kamu hanya perlu memupuk rasa culas dan serakah dalam dirimu. Buat apa pintar kalau tidakculas? Yang ada malah cuma jadi sampah masyarakat. Pengangguran. Nyusahin negara,” ayahnya menjelaskan sambil mengelus batu cincin barunya dengan kain putih.

Warna batu itu semakin lama digosok semakin terlihat mengkilap. Warnanya pun bisa berubah ketika digerakkan berlawananarah. Mata Durjan ersedot melihat kemolekannya

“Kamu tahu berapa harga batu cincin ini?” tanya ayahnya. Durjan menggeleng. Ayahnya tersenyum. “Tahu dimana ayah dapat ini?” tanya ayahnya lagi. Durjan kembali menggeleng. Kali ini ayahnya tidak tersenyum, tapi justru tertawa kecil. “Percaya nggak, batu cincin iniharganya 2 miliar. Tapi bisa ayah dapat gratis,” sambung ayahnya sambil masih tertawa kecil.

“Kok bisa Yah?” tanya Durjan. Ayahnya menjawab dengan senyum simpul, penuh makna. Tapi entah apa maknanya. Durjan tidak tahu. Yang ia tahu, ayahnya menepuk- nepuk pundaknya perlahan beberapa kali sambil tetaptersenyum.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved