Cerpen

Maop .

MAOP menatap seorang wanita dari balik bayang rumah tua. Wanita itu terlihat waspada seperti sadar sedang diperhatikan

Sosok bertubuh tinggi besar itu kembali mengutuk dirinya sendiri. Sungguh ia tidak memilih untuk menjadi begini. Berwujud legam dan berada di bawah bayangan. Siapa sih yang ingin menjadi sosok yang menakutkan? Bahkan oleh anak kecil sekali pun.

“Nyan naMaop, jangan ke situ, Nak.” Suatu waktu, ia mendengar seorang ibu muda menakuti anaknya yang hendak berjalan ke dekat Maop. Ia merasakan nyeri di dadanya kemudian beranjak pergi dari tempat tersebut.

“Maop …, maop …, hitam …, hitam …, seram …, seram!”

Itulah kata-kata yang sering didendangkan orang untuknya. Benar-benar menyedihkan. Padahal sudah banyak legenda di dunia ini. Kenapa ia harus menjadi legenda kegelapan? Mungkin karena fisiknya yang besar dan hitam? Orang-orang memang kerap melabelkan sesuatu sesuai dengan tampilan fisik.

Barbie, untuk sosok perempuan bermata indah dan berambut panjang. Segala kecantikan, kebaikan dan kelembutan melekat pada sosok itu. Arjuna, lelaki gagah yang mampu menaklukkan hati banyak wanita. Hercules, pahlawan gagah putra dewa. Keharuman nama mereka melekat pada fisik yang indah. Sementara Maop? Sosok hitamnya menjadi simbol ketakutan. Mungkin karena fisiknya juga anak dan istrinya pergi meninggalkan dirinya. Betapa menyedihkan berfisik buruk rupa.

Pada suatu senja didapatinya rumah sudah kosong melompong. Maop yang kecapaian sepulang kerja beristirahat sejenak. Mungkin istri dan putrinya sedang berkunjung ke rumah saudara yang berada di ujung desa. Senja telah bewarna saga, istrinya tak kunjung kembali. Ia masuk ke kamar tidur, betapa terkejutnya ia mendapati isi lemari telah kosong. Tergesa Maop menuju ke ujung desa, berharap istrinya ngambek dan mengungsi ke rumah saudaranya. Tapi hanya sepucuk surat yang ditinggalkan istri pada saudaranya.

Lunglai, Maop kembali berjalan pulang ke rumah mereka. “Aku sudah tidak sanggup hidup bersamamu lagi. Jangan pernah mencariku lagi. Wanita yang pernah menjadi istrimu ….” Kalimat itu mengiringi langkah Maop kala senja beranjak ke peraduan malam.

Semenjak kejadian itu, Maop menjadi enggan menampakkan diri di depan umum. Ia merasa gagal sebagai suami. Rasa malu menamparnya ribuan kali. Ia hanya muncul di bawah bayang-bayang. Sembari mengenang anak dan istri yang tak pernah kembali. Makanannya kesedihan dan air mata menjadi pelepas dahaga satu-satunya.

Maop, sosok hitam yang berada di bawah bayang-bayang. Itulah yang dikatakan orang terhadapnya. Siapa pun yang melihatnya akan lari terbirit-birit ketakutan. Pernah sekali waktu seorang pemuda yang hendak buang hajat di sungai melihatnya berdiri di bawah pohon waru. Pemuda itu kabur tanpa sempat menaikkan celananya. Sungguh tak beretika, membuang hajat di badan sungai yang dipakai desa sebelah sebagai sumber air minum, pikir Maop kala itu. Tapi ia terlanjur dikenal sebagai sosok yang menakutkan.

Bosan dengan tuduhan orang-orang terhadap dirinya, Maop akhirnya memutuskan menjadi seperti yang dikatakan mereka.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved