SerambiIndonesia/

Pemblokiran Situs Negatif belum Optimal

PEMBLOKIRAN situs online negatif yang dilakukan Dinas Perhubungan Komunikasi Informasi

PEMBLOKIRAN situs online negatif yang dilakukan Dinas Perhubungan Komunikasi Informasi dan Telematika (Dishubkomintel) Aceh dinilai belum optimal, meskipun pada acara Ekspose Internet Syariat yang diadakan Jumat (19/2) lalu, disebutkan sebanyak 2.631 situs konten negatif ditutup sepanjang tahun 2015.

Ketua Masyarakat Informasi Teknologi (MIT) Aceh, Teuku Farhan yang ditanyai Serambi mengatakan, tindakan tersebut belum optimal sebab hanya berlaku di jaringan Pemerintah Aceh saja. “Walaupun demikian kami apresiasi langkah tersebut. Penertiban akan lebih optimal jika dilakukan bersama lintas instansi dan komunitas, bukan sendiri-sendiri,” ujarnya, Sabtu (20/2).

Menurut dia, konten negatif internet bukan hanya masalah pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Aceh saja, namun masalah masyarakat Aceh yang merupakan pengguna terbanyak. Untuk itu, dia berharap agar kampanye internet sehat atau bernuansa syariah dapat melibatkan semua pihak, termasuk operator internet di Aceh.

“Saat ini sosialisasi internet sehat sudah sering dilakukan, tapi pihak yang berkaitan langsung seperti operator internet tidak diajak. Kami berharap operator bisa bekerja sama dengan Pemerintah Aceh,” kata dia.

Farhan juga berterima kasih kepada Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh yang telah mengeluarkan fatwa haram terhadap aktifitas judi online. Menurutnya, yang perlu dilakukan ke depan adalah penindakan terhadap aktifitas itu, yaitu pemblokiran situs secara massal dan jerat hukuman kepada pelanggar. “Untuk Aceh harus ada hal-hal yang dikhususkan seperti pemblokiran massal konten negatif, selain itu kita punya hukum jinayat,” jelasnya.

Hal senada juga dikatakan Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Aceh, Dahlia MAg. Dia yang ikut dalam acara yang digelar Dishubkomintel Aceh Jumat lalu juga menyuarakan, agar pemblokiran situs negatif dilakukan secara massif. “Para PNS hanya mengakses situs tersebut pada jam kerja saja, sedangkan di luar sana ada banyak masyarakat yang bebas melakukannya di warung kopi,” ujar Dahlia, Sabtu (20/2) via telepon.

Namun kata dia, apa yang telah dilakukan Dishubkomintel Aceh merupakan langkah awal yang baik untuk mengampanyekan internet positif. “Kami mengajak semua pihak untuk terlibat dalam kampanye ini. Ide-ide kreatif dari pemuda Aceh akan sangat membantu dalam membuat konten lokal positif,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala UPTD Infokom Seuramoe Aceh, Sanasi yang ditanyai soal pemblokiran itu menolak untuk berbicara. Menurut Sanasi, masalah pemblokiran situs negatif bukan wilayah kerjanya. “Sebenarnya ada yang membidangi langsung masalah itu. Saya tidak punya wewenang untuk menjawabnya,” kata dia.

Namun kata dia, setelah acara Ekspose Internet Syariat yang diadakan Dishubkomintel Aceh Jumat lalu, beberapa pemuda dari sebuah LSM mendatanginya untuk menanyakan pemblokiran itu. “Mereka bilang katanya sudah ditutup, tapi kenapa situs ini masih bisa dibuka. Dan saya juga tidak bisa jawab,” ungkapnya. Sedangkan Kepala Bagian Pengelohan Data Elektronik (BPDE) Dishubkomintel Aceh, T Zulfikar yang dihubungi Serambi Sabtu kemarin sekitar pukul 15.49 WIB kemarin tidak merespons. Bahkan setelah beberapa detik muncul nada sambung langsung diputuskan pada sebelum telah memperkenalkan diri melalui SMS.(fit)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help